JAKARTA – DPP LDII menekankan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan secara nyata melalui teladan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman.
Ketua DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menyampaikan bahwa Pancasila merupakan pedoman bersama bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Ia menyoroti tantangan persatuan saat ini yang kian kompleks seiring pesatnya arus informasi di media sosial, yang kerap memicu disinformasi, ujaran kebencian, dan narasi adu domba.
“Hari Kesaktian Pancasila menjadi saat yang tepat untuk mengingat kembali bahwa persatuan bangsa harus terus dirawat. Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, terutama dalam menghormati perbedaan dan mengedepankan kepentingan bangsa,” ujar Dody.
Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan literasi digital serta menerapkan kehidupan beragama yang moderat. Menurutnya, agama dan Pancasila tidak perlu dipertentangkan karena keduanya merupakan landasan moral untuk membangun masyarakat yang damai dan bertanggung jawab.
Pandangan senada disampaikan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro yang juga Ketua DPP LDII, Prof. Singgih Tri Sulistiyono. Ia menegaskan bahwa makna Kesaktian Pancasila sesungguhnya terletak pada daya hidup dan kemampuannya untuk terus diyakini, diamalkan, serta menjawab persoalan nyata bangsa di tengah tantangan zaman.
“Pendidikan Pancasila perlu disampaikan melalui dialog, keteladanan, konten digital kreatif, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial, bukan sekadar hafalan. Sehingga Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral untuk menjaga persatuan, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial di tengah globalisasi,” jelas Prof. Singgih.
Prof. Singgih juga menggarisbawahi peran strategis organisasi kemasyarakatan Islam dalam membentengi masyarakat dari pengaruh ideologi transnasional yang eksklusif dan bertentangan dengan konsensus nasional.
Secara kultural, LDII menanamkan toleransi, gotong royong, dan dakwah yang menyejukkan melalui pengajian dan kegiatan sosial. Sementara secara struktural, LDII terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, MUI, tokoh agama, dan aparat setempat untuk menjaga kerukunan serta meredam polarisasi hingga ke tingkat akar rumput.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































