PAMULANG – Di linimasa kita, rekomendasi produk datang dari wajah-wajah yang terasa akrab: seorang kreator yang tiap hari berbagi rutinitas, lalu suatu pagi memamerkan sebuah produk perawatan kulit dengan wajah berseri. Kita menonton, ikut terkesan, dan tak jarang menekan tombol beli. Baru belakangan terpikir, apakah ia sungguh memakai produk itu, atau sekadar menjalankan kontrak kerja sama? Pertanyaan sederhana inilah yang kini menjadi ujian terbesar influencer marketing.
Pengaruh para kreator ini bukan sekadar anggapan. Survei Impact.com bersama Cube Asia yang dirilis pada akhir 2023 menemukan bahwa 87 persen responden di Indonesia memutuskan membeli berdasarkan rekomendasi influencer atau selebritas terkemuka. Temuan lain dari Litbang Kompas dalam survei bertema perilaku belanja terhadap 1.200 responden di 38 provinsi menunjukkan pengaruh influencer media sosial pada pembelian produk nonmakanan mencapai 56,4 persen. Dua angka dari dua survei berbeda ini sama-sama menegaskan bahwa suara kreator kini ikut menentukan isi keranjang belanja kita.
Tak heran jika merek berlomba menggandeng influencer. Alasannya masuk akal: kreator sudah memiliki audiens yang percaya, gaya bicara yang akrab, dan format konten yang tidak terasa seperti iklan televisi. Bagi usaha kecil, kolaborasi dengan kreator skala mikro bahkan sering terasa lebih terjangkau dan lebih dekat dengan pembeli sasaran dibanding iklan konvensional.
Namun, pengaruh yang besar membawa tanggung jawab yang besar pula. Survei Impact.com yang sama mencatat bahwa 79 persen responden menganggap ulasan yang jujur sebagai faktor utama ketika memilih influencer untuk diikuti. Sementara itu, 69 persen menyebut keahlian pada topik tertentu sebagai pertimbangan. Artinya, konsumen tidak hanya mencari wajah yang populer. Mereka mencari orang yang terasa jujur dan memahami hal yang dibicarakannya.
Di titik inilah banyak kampanye tergelincir. Naskah dari merek dibacakan persis sama oleh belasan kreator, lengkap dengan kalimat pujian yang seragam. Produk yang tidak cocok dengan citra sang kreator tiba-tiba direkomendasikan dengan penuh semangat. Kekurangan produk tidak pernah disebut, seakan-akan semuanya sempurna. Penonton yang jeli akan menyadarinya, dan sekali merasa dikelabui, kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan hari, bukan hanya bagi kreatornya, tetapi juga bagi mereknya.
Karena itu, keaslian perlu dipandang sebagai aset, bukan penghambat kampanye. Merek yang bijak memilih kreator berdasarkan kecocokan nilai dan kebiasaan nyata, bukan sekadar jumlah pengikut. Mereka memberi ruang agar kreator mencoba produk dulu dan menyampaikannya dengan bahasa sendiri, termasuk menyebut kekurangannya. Penandaan kerja sama berbayar juga perlu dilakukan terang-terangan. Keterbukaan seperti ini mungkin membuat pesan tampak kurang licin, tetapi justru membuatnya lebih layak dipercaya.
Di sisi lain, konsumen pun punya peran. Rekomendasi yang menarik sebaiknya tidak langsung diperlakukan sebagai kebenaran. Membandingkan dengan ulasan pembeli lain, memeriksa komposisi atau spesifikasi produk, dan bertanya apakah kebutuhan kita memang sejalan dengan yang ditawarkan adalah kebiasaan sederhana yang melindungi dompet sekaligus memaksa merek bersikap lebih jujur.
Pada akhirnya, influencer marketing akan bertahan lama hanya jika ia tetap berpijak pada kepercayaan. Endorse memang bisa dibeli dengan kontrak, tetapi kepercayaan hanya bisa dibangun lewat kejujuran yang konsisten. Merek dan kreator yang memahami hal ini tidak hanya akan memenangkan penjualan hari ini, tetapi juga hubungan jangka panjang dengan konsumen yang memilih untuk tetap percaya.
Penulis: Mochamad Raffi – Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































