MAKASSAR – Pengangguran masih menjadi salah satu permasalahan yang sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Data terbaru dari badan pusat statistik (BPS) Tingkat pengagguran di mei 2026 adalah sebanyak 7,22 juta orang yang tercatat dalam pengagguran. Dengan banyaknya jumlah pengangguraan dapat berdampak pada pertembuhan ekonomi negara, dengan itu pastinya Setiap orang tentu memiliki harapan untuk mendapatkan pekerjaan, dari data BPS ini menjadi satu catatan mengenai presentase pengagguran berlatar belakang sarjana (lulusan Universitas) mengalami peningkatan akibat tantangan penyerapan lapangan kerja yang belum optimal di sektor formal bagi lulusan muda. Sampai saat ini untuk mendapatkan pekerjaan tidak selalu mudah. Banyak orang yang sudah memiliki ijazah, tetapi masih kesulitan memperoleh pekerjaan karena terbatasnya lowongan dan ketatnya persaingan.
Masyarakat yang menjujung tinggi produktivitas dan keberhasilan materi sering kali melekatkan stigma atau label negative terhadap orang yang masih pengangguran karena menjadi anggapan beban social yang melekat dimana memengaruhi cara seorang dipandang dan di perlakukan oleh lingkungannya, orang yang masih pengagguran terkadang dianggap malas, tidak berusaha atau tidak produktif, dan terlalu memilih pekerjaan. Padahal, jika dilihat lebih jauh, penyebab pengangguran tidak sesederhana itu. Ada berbagai faktor yang memengaruhinya, mulai dari kondisi ekonomi, ketersediaan lapangan kerja, hingga perbedaan kesempatan yang dimiliki setiap orang. Oleh karena itu, pengangguran perlu dipahami bukan hanya sebagai masalah individu, tetapi juga sebagai persoalan sosial ekonomi.
Dalam perspektif Karl Marx, pengangguran bukanlah akibat dari kesalahan individu ( seperti malas atau kurang keterampilan) melainkan produk structural yang sengaja di ciptakan dan dibutuhkan oleh system kapitalisme. Jika di kaitakan dengan perspektif pemikiran dari Karl Max dari teori sosiologi dan ekonomi politik Karl Marx di buku berjudul Das Kapital (1867) melalui konsep yang sangat terkenl Bernama “pasukan Cadangan tenaga kerja” Karl Marx memandang pengangguran, diantaranya Adanya kapitalisme membutuhkan pengguran untuk eksis1, menekan upah buruh yang aktif bekerja2, otomitasi dan penggantian manusia oleh mesin3, tiga lapisan pasukan Cadangan tenaga kerja4, pengangguran menghasilkann alienasi (keterasingan)5
Hal ini berkaitan dengan pengangguran yang juga dapat muncul dari, Perusahaan yang tidak selalu membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Ada Perusahaan yang mengurangi jumlah pekerja untuk menekan biaya, sementara sebagian pekerjaan mulai digantikan oleh teknologi. Akibatnya, tidak semua orang yang membutuhkan pekerjaan dapat terserap ke dalam dunia kerja. Dari sudut pandang ini, pengangguran tidak selalu terjadi karena seseorang malas atau tidak mau berusaha. Ada kondisi ekonomi dan sistem kerja yang turut menentukan apakah seseorang bisa mendapatkan pekerjaan atau tidak. Artinya, kita juga perlu melihat bagaimana lapangan kerja tersedia dan siapa saja yang memiliki kesempatan untuk mengaksesnya.
Pengangguran juga dapat digunakan untuk melihat pengangguran dari sisi sistem ekonomi, salah satu factor yang memiliki keterlibatan erat dengan kemsikinan adalah pengangguran. Jumlah pengangguran yang tinggi menjadi indikatorketidak mampuan sistem ekonomi menyerap tenaga kerja secara optimal. Ketika seseorang tidak memiliki pekerjaan, maka otomatis ia kehilangan penghasilan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam teori ekonomi, pertumbuhan yang positif seharusnya menciptakan peningkatan output nasiaonal, memperluas lapangan kerja, dan menaikkan pendapatan masyarakat. Idealnya, hal ini akan mengurangi jumlah penduduk miskin. akan tetapi, dalam kenyatan manfaat pertumbuhan ekonomi sering kali tidak dirasakan secara merata. pertumbuhan yang hanya dinikmati oleh kalangan pertumbuhan yang hanya dinikmati oleh kalangan tertentu dan terpusat di wilayah-wilayah tertentu hal ini dapat menciptakan yang lebih tajam.(Ulya et al., 2025)
Selain pemikiran Marx, pengangguran juga dapat dikaji melalui pandangan Max Weber tentang stratifikasi sosial dan perbedaan kesempatan hidup. Tiga komponen stratifikasi social Weber diantaranya kelas(ekonomi)1, status (social/prestise)2, kekuasaan(politik)3(Adnan, 2021). pada istilah kesempatan hidup merujuk pada peluang yang di miliki seseorang untuk meraih hal hal bernilai di dalam hidupnya, seperti Kesehatan, Pendidikan, pekerjaan yang layak, dan kesejahteraan. Dalam dunia kerja, pendidikan, pengalaman, dan keterampilan sering menjadi syarat untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memenuhi persyaratan tersebut. Sebagian orang dapat mengakses pendidikan dan pelatihan dengan mudah, sedangkan sebagian lainnya menghadapi keterbatasan biaya maupun fasilitas. Menurut Rahmat et al, (2025) Terdapat hubungan yang erat antara pengangguran dan kesejahteraan sosial. Pengangguran dapat menurunkan tingkat kesejahteraan sosial karena memengaruhi daya beli individu, akses terhadap layanan sosial, dan meningkatkan ketidaksetaraan sosial.
Untuk mengurangi penangguraan Menurut saya, pengangguran tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat untuk lebih giat mencari pekerjaan. Usaha individu memang diperlukan, tetapi pemerintah dan pihak terkait juga memiliki peran penting dalam menciptakan kesempatan kerja. Dari pembahasan ini, dapat dipahami bahwa pengangguran merupakan persoalan yang memiliki banyak penyebab dan tidak bisa dilihat hanya dari sisi individu. Pemikiran Karl Marx membantu menjelaskan hubungan antara sistem ekonomi dan kesempatan kerja, Max Weber menunjukkan pentingnya memahami perbedaan peluang dalam masyarakat, Melalui perspektif sosial ekonomi, kita dapat memahami bahwa pengangguran bukan sekadar persoalan seseorang yang belum mendapatkan pekerjaan, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana sistem ekonomi dan masyarakat menyediakan ruang bagi angakatan kerja
Oleh karena itu, daripada hanya menyalahkan orang yang menganggur, kita perlu melihat persoalan ini secara lebih luas. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengapa seseorang belum bekerja, tetapi juga apakah kesempatan kerja yang tersedia sudah cukup dan dapat diakses oleh masyarakat secara adil.
Penulis: Riski Aprilia – Universitas Negri Makassar
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Mei 2026 . Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS)
Marx, K. (2004). Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik (Buku 1, Oey Hay Djoen, Trans.). Hasta Mitra. (Karya asli diterbitkan 1867).
Adnan, G. (2021). Stratifikasi sosial dan perjuangan kelas dalam perspektif Max Weber. Banda Aceh.
Rahmat, A. (2025). Dampak Pengangguran Terhadap Kesejahteraan Sosial di Indonesia: Analisis Berdasarkan Akses Pendidikan, Kesehatan, dan Kemiskinan. Economics and Digital Business Review, 7(1).
Ulya, S. K., Rindiani, R., Masitoh, G., Oktaviani, C. D., & Rezola, A. R. (2025). Analisis Pengaruh Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Indonesia. GEMILANG: Jurnal Manajemen Dan Akuntansi, 5(3), 100–123.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































