Kalian mungkin pernah berpikir, “Bagaimana kalau hal yang aku yakini pernah terjadi ternyata tidak pernah terjadi?” atau mungkin kalian pernah bercerita ke teman kalian lalu kalian sadar kalau kalian bercerita sekaligus sembari menyusun cerita sedetail mungkin di otak kalian. Apakah kalian sadar bahwa apa yang kalian ceritakan tidak sepenuhnya akurat? Apa kalian sadar kalau yang kalian ceritakan itu bisa jadi ada kekeliruan? Apa kalian sadar kalau kalian pernah menghilangkan beberapa bagian dari cerita hanya karena menurut kalian itu ‘Tidak mungkin’? Satu pertanyaan yang mungkin mengganjal di pikiran kalian,”Apakah otak benar- benar mengingat semuanya?” Semua ada penjelasan ilmiahnya.
Memori merupakan kemampuan sistem kognitif untuk menerima, menyimpan, dan mengambil kembali informasi. Sering sekali kita menganggap memori sebagai rekaman yang kuat dan akurat. Kita meyakini bahwa apa yang ada di dalam memori kita adalah cerminan langsung dari apa yang terjadi. Namun, beberapa penelitian kontemporer dalam psikologi kognitif dan neurosains mengatakan bahwa memori atau ingatan manusia jauh dari sekadar ‘Rekaman’. Menurut Frederic Barlett memori bukan rekaman pasif, tetapi rekonstruksi yang aktif. Ketika kita mencoba mengingat sesuatu, otak sebenarnya tengah menyusun ulang potongan-potongan pengalaman, pengetahuan, bahkan emosi untuk menghasilkan cerita yang terasa benar, walaupun tidak sepenuhnya akurat. Artinya apa yang kita coba ingat-ingat itu tidak sepenuhnya akurat, dengan kata lain memori tidak sepenuhnya benar, memori tidak sepenuhnya memegang kejujuran, memori seringkali dikarang oleh otak kita berdasarkan hal yang paling masuk akal.

Gagasan ini bukan sembarang gagasan tanpa bukti dan riset, pada tahun 1932, Frederic Barlett melakukan eksperimen, yaitu ia memberikan cerita dari budaya asing kepada orang-orang yang akan menjadi alat penelitiannya dan meminta mereka mengulang kembali cerita tersebut setelah beberapa waktu yang telah ditentukan. Hasil dari eksperimen ini adalah orang-orang tersebut menceritakan dengan detail yang diubah sesuai dengan pengalaman mereka, menyederhanakan bagian yang menurut mereka ‘aneh’ bahkan menambahkan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ada.
Penelitian lainnya yang lebih modern dilakukan oleh Elizabeth Loftus dalam eksperimen “Lost in the Mall,” Dari eksperimen ini, Loftus berhasil membuat peserta mengingat masa kecil mereka yang tersesat di pusat perbelanjaan yang sebenarnya tidak pernah terjadi hanya dengan sugesti secara berulang. Peserta yang menjadi objek penelitian Loftus bahkan mampu menambahkan detail. Loftus juga mengemukakan tentang false memory di mana teori ini memperlihatkan bahwa memori dapat diciptakan dan disesuaikan oleh konteks sosial tanpa kita sadari. Dari percobaan Barlett dan Loftus bisa disimpulkan bahwa memori bukanlah rekaman, melainkan menyusun kembali. Karena otak bekerja dengan menyusun kembali memori setiap berusaha mengingat, kemungkinan terjadinya false memory sangat besar dan hal ini sangat normal, karena otak bekerja secara adaptif dan efisiensi.

Otak manusia bekerja dengan prinsip efisiensi, otak tidak menyimpan seluruh detail hal- hal yang pernah kita alami. Sejatinya, otak akan mengabaikan hal-hal yang sekiranya tidak begitu penting untuk diingat, justru otak menyimpan potongan-potongan informasi penting, seperti apa, siapa, perasaan, emosi, konteks, dan beberapa detail lainnya. Nah, potongan- potongan ini akan disusun kembali seperti puzzle oleh otak ketika kalian berusaha mengingatnya. Sayangnya, potongan-potongan ini sering sekali tidak lengkap yang pada akhirnya membuat kita memilih mengisi kekosongan tersebut dengan hal-hal yang menurut kita paling make sense berdasarkan pengalaman dan keyakinan kita.
Artinya, kita tidak bisa mengandalkan memori kita 100%. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa hal yang menyebabkannya, salah satunya adalah emosi, Hipotalamus dan amigdala berperan besar dalam menandai kejadian emosional. Semakin kuat emosinya, semakin besar kemungkinan memori akan “diwarnai” ulang oleh perasaan tersebut ketika diingat kembali. Misalnya, kalian sedang menceritakan kronologi kejadian ke teman kalian, tetapi kalian saat itu sedang merasakan emosi marah, dari sini bisa saja kalian mengubah atau melebihi beberapa bagian dari cerita. Selain itu, otak kita juga lebih mengutamakan makna dibandingkan dengan detail. Sering sekali saat kita mendengarkan cerita atau pengalaman orang lain, kita lebih fokus akan makna dari cerita tersebut daripada detail-detail kecil.
Mengapa otak melakukan hal tersebut? Funfactnya otak bukan menyimpan masa lalu, tetapi membantu kita survive dalam mengikuti zaman. Otak tidak memikirkan apakah ingatan kita akurat 100% atau tidak, yang terpenting hal yang kita ingat berguna dan dapat membantu manusia survive dalam menjalani hidupnya.
Kesimpulannya, memori manusia tidak sepenuhnya akurat, tidak benar-benar cerminan dengan kenyataan, memori manusia hanya menyimpan hal-hal yang penting dan bermakna, ia tidak menyimpan detail-detailnya. Otak manusia itu bukan merekam, tetapi rekontruksi, yaitu otak berproses seperti menyusun puzzle setiap kita berusaha mengingat sesuatu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































