Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat, hingga 12 Juni 2025 terdapat 11.850 laporan. Hanya berselang 16 hari, angka ini melonjak menjadi 13.845 kasus. Ironisnya, sebagian besar pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat korban: orang tua, pasangan, atau anggota keluarga lain.
Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: mengapa kekerasan begitu mudah terjadi? Selain faktor ekonomi dan sosial, para ahli menilai akar persoalannya sering kali berada di dalam diri pelaku sendiri, yakni kegagalan mengendalikan emosi. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai amygdala hijack.
Amygdala Hijack: Saat Emosi Mengalahkan Logika
Istilah amygdala hijack pertama kali diperkenalkan Daniel Goleman pada 1995. Kondisi ini terjadi ketika bagian otak emosional (amigdala) mengambil alih kendali dari neokorteks yang bertugas mengatur logika dan penalaran.
Ketika seseorang mengalami amygdala hijack, reaksi impulsif seperti marah berlebihan, perilaku agresif, atau tindakan tanpa pikir panjang muncul secara spontan. Inilah yang sering menjadi pemicu kekerasan dalam keluarga maupun lingkungan sosial.
“Pelaku biasanya menyesal setelah kejadian terjadi, tetapi pada momen itu emosi sudah mendominasi,” tulis Goleman dalam penelitiannya. Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa tindakan kekerasan sering kali terjadi secara tiba-tiba dan tidak rasional.
Rendahnya Kecerdasan Emosional dan Dampaknya
Kecerdasan emosional—kemampuan memahami dan mengelola emosi sendiri maupun orang lain—menjadi faktor penting dalam mencegah perilaku agresif.
Ketika seseorang memiliki kecerdasan emosional yang rendah, mereka:
mudah tersulut emosi,
sulit berempati,
kesulitan mengendalikan dorongan agresif.
WHO pada 2023 menegaskan bahwa rendahnya kecerdasan emosional masyarakat berkontribusi langsung pada meningkatnya kekerasan domestik di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Masalah Besar: Minimnya Literasi Psikologis di Indonesia
Akar masalah lainnya adalah rendahnya literasi psikologis. Banyak masyarakat masih menganggap psikologi hanya berkaitan dengan “orang gila”. Pandangan ini membuat isu kesehatan mental dan pengelolaan emosi sering dipandang remeh.
Dalam dunia pendidikan, fokus sekolah masih dominan pada aspek kognitif. Pendidikan emosional, empati, atau pengelolaan stres jarang diajarkan secara sistematis.
Padahal, UNICEF (2025) menyebutkan bahwa pendidikan emosional sejak dini bisa menjadi benteng utama dalam mencegah konflik dan kekerasan.
KemenPPPA bahkan menegaskan bahwa peningkatan literasi psikologis masyarakat dapat menjadi strategi preventif yang jauh lebih efektif daripada sekadar memperketat hukuman.
Solusi: Pendidikan Emosi Hingga Akses Konseling
Masalah kekerasan tidak cukup ditangani melalui jalur hukum saja. Para pakar menyarankan langkah-langkah berikut:
Pendidikan emosi di sekolah
Anak-anak perlu diajarkan memahami emosi, mengelola rasa marah, dan membangun empati.
Pelatihan regulasi emosi bagi orang tua dan guru
Orang-orang terdekat anak menjadi agen penting dalam membentuk pola emosi yang sehat.
Memperluas akses layanan psikologis
Konseling harus dipandang sebagai kebutuhan normal, bukan hal tabu.
Kampanye literasi psikologis secara nasional
Edukasi publik tentang kesehatan mental dapat membantu menekan perilaku impulsif.
Kekerasan adalah Cermin Kesehatan Emosional Bangsa
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar pelanggaran hukum, ia adalah sinyal kegagalan regulasi emosi yang meluas. Jika tidak ditangani, ia akan berkembang menjadi masalah antargenerasi dan mempengaruhi kualitas masyarakat secara keseluruhan.
Membangun literasi psikologis dan kecerdasan emosional bukan hanya upaya mengurangi kekerasan, tetapi juga investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat secara emosional, lebih berempati, dan lebih beradab.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































