Jika Anda membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts belakangan ini, kemungkinan besar Anda akan berpapasan dengan audio berirama rancak yang khas dengan lirik atau instrumen burung, disertai gerakan joget yang seragam dan repetitif. Ya, itulah fenomena joget dan lagu “Kicau Mania” yang sedang viral di berbagai platform media sosial.
Fenomena ini menarik karena awalnya “Kicau Mania” hanyalah sebutan untuk komunitas pencinta dan penghobi burung berkicau di Indonesia sebuah subkultur yang biasanya digandrungi oleh bapak-bapak atau kalangan spesifik. Namun kini, lewat algoritma media sosial, ia bertransformasi menjadi sebuah produk budaya massa yang diikuti oleh lintas generasi, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kreator konten papan atas. Mengapa fenomena lokal ini bisa begitu masif menjangkau semua media sosial? Dan apa implikasi di balik viralnya tren ini?
Episentrum Viralitas: Bagaimana “Kicau Mania” Merajai Lini Masa?
Dalam lanskap media kontemporer postmodern, sebuah konten tidak lagi bergerak secara linier , melainkan secara jaring laba-laba . Ada beberapa faktor utama mengapa tren joget Kicau Mania ini bisa viral secara merata:
Audio yang Adiktif : Musik yang digunakan memiliki ritme yang repetitif dan menghentak. Dalam industri budaya digital, jenis musik seperti ini sangat mudah memicu dopamin pendengar, membuat mereka ingin mendengarkannya berulang kali (looping).
Gerakan Joget yang Mudah Ditiru : Tren ini sukses karena gerakan jogetnya tidak membutuhkan keahlian menari tingkat tinggi. Siapa saja, di mana saja (di kamar, di sekolah, di tempat kerja), bisa ikut merekam diri mereka dan langsung menjadi bagian dari tren tersebut.
Algoritma Multplatform: Ketika sebuah audio mulai ramai di satu platform (misalnya TikTok), algoritma di platform lain seperti Instagram Reels atau Shorts akan ikut merekomendasikan konten serupa kepada audiens karena dianggap sedang diminati secara global.
Menjinakkan Massa Lewat Jogetan: Analisis Hegemoni Antonio Gramsci
Mengapa jutaan orang secara sukarela meluangkan waktu untuk meniru gerakan joget ini dan mengunggahnya ke akun pribadi mereka? Fenomena ini bisa dibedah menggunakan teori Hegemoni dan Kuasa Media dari pemikir marxis Barat, Antonio Gramsci.
Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan atau dominasi di era modern tidak lagi dijalankan melalui paksaan fisik, melainkan melalui konsensus atau persetujuan sukarela. Media sosial hari ini bertindak sebagai alat hegemoni budaya yang sangat canggih.
Ketika tren “Kicau Mania” ini viral, media digital tidak memaksa Anda untuk ikut berjoget. Namun, media membangun sebuah kesadaran kolektif atau “tekanan sosial secara halus” bahwa jika Anda tidak ikut berpartisipasi atau tidak tahu lagu tersebut, Anda akan dianggap ketinggalan zaman (FOMO/ Fear of Missing Out). Kita secara sukarela menyerahkan diri kita untuk larut dalam standarisasi perilaku yang diciptakan oleh tren tersebut. Kita merasa sedang mengekspresikan diri secara bebas dan bersenang-senang, padahal secara tidak sadar, perilaku kita sedang diseragamkan oleh kuasa algoritma media.
Ekonomi Atensi: Keuntungan di Balik Layar yang Semu
Di balik keriuhan ratusan ribu video joget Kicau Mania, ada perputaran keuntungan yang sangat masif. Perspektif teori kritis melihat bahwa dalam industri budaya postmodern, segala hal yang termasuk budaya lokal pencinta burung akan mengalami komodifikasi yang artinya bisa menjadi barang yang dapat diperjualbelikan
Siapa saja yang meraup untung dari viralnya tren ini?
Pemilik Hak Cipta Audio & Kreator Orisinal: Keuntungan finansial terbesar tentu mengalir ke produser musik atau kreator pertama yang mempopulerkan aransemen lagu tersebut. Setiap kali audio itu digunakan ulang, posisi tawar mereka di industri hiburan semakin naik.
Influencer dan Kreator Konten : Bagi para kreator, menunggangi tren adalah cara instan untuk memancing algoritma agar video mereka masuk ke halaman utama atau menjadi FYP. Keuntungan yang didapat berupa lonjakan followers, engagement, yang ujung-ujungnya bermuara pada datangnya tawaran endorsement.
Kapitalisme Platform : Keuntungan terbesar sebenarnya dipegang oleh pemilik platform media sosial. Jutaan video “Kicau Mania” yang diproduksi secara gratis oleh netizen membuat pengguna betah berlama-lama menatap layar ponsel mereka. Semakin lama pengguna bertahan, semakin banyak iklan yang bisa dijual oleh platform kepada korporasi besar.
Kesimpulan
Tren joget dan lagu “Kicau Mania” adalah contoh sempurna bagaimana budaya pop postmodern bekerja hari ini. Sebuah identitas kelompok lokal ,subkultur burung, bisa dengan mudah dicabut dari akar aslinya, lalu dikemas ulang menjadi produk hiburan massal yang cair dan bernilai ekonomi tinggi.
Melalui kacamata Gramsci, fenomena ini mengingatkan kita bahwa media digital memiliki kuasa yang sangat halus untuk mengarahkan apa yang kita dengar, apa yang kita gerakkan, hingga apa yang kita anggap menghibur. Menikmati tren tentu sah-sah saja, namun memiliki kesadaran kritis untuk melihat bagaimana industri media bekerja di balik layar akan membuat kita menjadi pengguna yang tidak sekadar ikut-ikutan, melainkan audiens yang berdaya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































