“Sekarang sudah jarang… orang lebih pilih yang praktis.”
Kalimat itu diucapkan oleh Ibu Nur Laili (38), warga Desa Krueng Manyang, saat menceritakan tentang tradisi Boeh Gaca. Dari cara beliau berbicara, terasa bahwa tradisi ini bukan hanya sekadar kebiasaan biasa, tetapi sesuatu yang dulu dekat dengan kehidupan masyarakat.
Boeh Gaca merupakan tradisi menghias tangan pengantin dengan hena yang biasanya dilakukan sebelum hari pernikahan. Kegiatan ini tidak berlangsung di salon, melainkan di rumah, dengan melibatkan keluarga terdekat.
“Biasanya ibu-ibu, saudara perempuan, semua kumpul…” ujar Ibu Nur Laili.
Dalam proses acaranya, pengantin duduk di tengah, lalu anggota keluarga bergantian duduk mendekat. Ada yang membantu menghias, ada yang menemani, dan ada juga yang memberi nasihat. Suasana yang tercipta terasa santai, diselingi tawa dan haru bahagia yang penuh makna.
Tradisi ini bukan hanya tentang mempercantik pengantin. Boeh Gaca menjadi momen kebersamaan bagi keluarga sebelum pengantin memasuki kehidupan berumah tangga. Di dalamnya terdapat doa, harapan, dan dukungan dari orang-orang terdekat.
Dahulu, bahan hena yang digunakan berasal dari daun yang dikenal dengan sebutan Oen Ghaca. Daun tersebut diolah secara manual dengan cara ditumbuk sebelum digunakan. Proses ini memang membutuhkan waktu, tenaga dan kesabaran, namun hal ini juga menjadi bagian dari pengalaman tradisi itu sendiri.
Berbeda dengan sekarang, hena sudah banyak tersedia dalam bentuk instan dan lebih mudah untuk digunakan. Banyak orang memilih cara yang lebih praktis, seperti pergi ke salon atau menggunakan jasa profesional. Bahkan, banyak juga yang mengganti hena dengan nail art modern.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pola hidup masyarakat juga ikut berubah seiring berkembangnya zaman. Segala sesuatu yang lebih cepat dan efisien justru lebih sering menjadi pilihan. Sayangnya, di balik kemudahan tersebut, terdapat nilai yang perlahan berkurang, yaitu kebersamaan dalam keluarga.
“Masih ada, tapi sudah jarang…” kata Ibu Nur Laili saat ditanya apakah Boeh Gaca masih dilakukan.
Tradisi ini memang belum sepenuhnya hilang, tetapi juga tidak lagi menjadi bagian utama dalam setiap pernikahan. Banyak orang mulai meninggalkannya karena dianggap kurang praktis dibandingkan pilihan modern yang tersedia.
Padahal, Boeh Gaca memiliki makna yang lebih dari sekadar hiasan. Hena yang digunakan menjadi simbol kesiapan pengantin dalam menjalani kehidupan baru. Selain itu, tradisi ini juga mencerminkan hubungan kekeluargaan yang erat.
Dalam pelaksanaannya, keluarga tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi juga ikut terlibat langsung. Mereka memberikan doa, nasihat, dan dukungan secara personal. Hal ini menciptakan kedekatan emosional yang sulit ditemukan dalam suasana yang serba cepat seperti sekarang.
Menariknya, menurut Ibu Nur Laili, masih ada sebagian anak muda yang tertarik dengan tradisi ini. Meskipun jumlahnya tidak banyak, hal ini menunjukkan bahwa Boeh Gaca masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Hal ini membuka kemungkinan bahwa tradisi tidak harus sepenuhnya ditinggalkan. Boeh Gaca masih bisa dijalankan dengan cara yang lebih sederhana, tanpa menghilangkan makna utamanya.
Tradisi tidak selalu harus dijalankan persis seperti dahulu. Yang terpenting, makna di dalamnya tetap hidup dan terjaga. Di akhir wawancara, Ibu Nur Laili menyampaikan harapannya agar generasi muda tidak melupakan tradisi sendiri.
Menurutnya, budaya luar boleh saja diikuti, tetapi adat yang dimiliki tetap perlu dijaga. Karena tradisi bukan hanya tentang kebiasaan, tetapi juga bagian dari identitas. Perlu kita tegaskan sekali lagi, Boeh Gaca mungkin terlihat sederhana, hanya berupa hena yang diukir di tangan pengantin. Namun, di dalamnya justru terdapat nilai kebersamaan, doa, dan makna yang tidak tergantikan.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, tradisi seperti ini memang menghadapi tantangan. Tetapi selama masih ada yang memahami dan mempertahankannya, Boeh Gaca tidak akan benar-benar hilang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































