Dari rumah tinggal hingga coffee shop trendy, pintu kayu dengan ukiran artistik ini digandrungi sebagai pilihan dekorasi interior di tengah era gempuran interior modern-minimalis. Memang, akhir-akhir ini anak muda Indonesia mulai menaruh ketertarikan kepada unsur tradisional, mencoba mendekat kembali ke akar leluhur mereka. Tidak heran, pintu kayu ini sangat menarik perhatian sehingga kerap dijadikan statement piece bagi banyak orang. Ukirannya berkarakter, tak lekang oleh zaman, dan bahkan memiliki maknanya sendiri. Pintu apakah ini dan apa yang membuatnya begitu diminati?
Pintu Gebyok adalah salah satu warisan budaya Jawa yang terkenal dengan ukirannya yang indah, rumit dan berkarakter. Berasal dari Kota Ukir Jepara di Jawa Tengah, pintu gebyok dibuat dari kayu jati berkualitas, lalu diukir oleh para pengrajin yang berbakat; membuat sebuah motif sarat akan makna yang berkaitan dengan pedoman hidup masyarakat Jawa, kerap melambangkan keharmonisan antar manusia dengan alam. Sehingga tidak hanya untuk keperluan estetika, motif ukiran ini merupakan kesenian sakral yang memiliki cerita di baliknya.
Pintu Gebyok ini bernilai tinggi. Material yang digunakan membuatnya tahan lama, tidak mudah termakan rayap, dan tentunya memiliki desain yang timeless. Hal inilah yang membuatnya begitu digemari oleh masyarakat, bahkan mancanegara. Bahkan tidak sedikit yang rela menggocek harga yang tinggi demi memiliki pintu yang indah di rumahnya.
Dahulu pintu gebyok dimiliki oleh para bangsawan dan masyarakat Jawa sebagai penyekat ruangan atau pintu utama pada rumah joglo. Gebyok berperan sebagai pembatas ruang antara pendopo dengan emper, pringgitan dengan dalem ageng dan juga dalem ageng dengan senthong. Bentuknya beraneka ragam, ada yang berbentuk panel-panel, panel dengan ukiran yang dibuat dengan teknik kerawang/tembus pandang.
Keberadaan pintu gebyok menunjukkan tingkat status sosial pemiliknya dalam masyarakat. Di kalangan bangsawan, pintu gebyok memiliki bentuk visual lebih indah dan dibuat dengan kayu jati pilihan terbaik. Panel gebyok diukir lebih kompleks, umumnya memiliki finishing cat dan lapisan emas. Sedangkan bagi masyarakat biasa, gebyok memiliki bentuk visual yang lebih sederhana. Ukirannya cenderung kasar, umumnya tidak memiliki motif dan tidak memiliki finishing apapun. Bahan kayu jati pun didapatkan dari pohon-pohon jati di lingkungan sekitar.
Pembuatannya sendiri benar-benar diperhitungkan secara detail. Pintu gebyok disesuaikan dengan pemiliknya, mulai dari ketinggian, kelebaran, bentuk, tinggi pintu serta pembagian panel. Hal ini dilakukan agar rumah yang ditinggali dapat memberikan cerminan jiwa dan memberikan nilai-nilai positif. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, gebyok merupakan ungkapan jiwa, ekspresi, hasil perenungan, dan perhitungan yang matang dari pemiliknya.
Kini, karya seni bernilai tinggi ini dapat tersedia bagi semua kalangan, siap menghiasi rumah tinggal maupun bangunan apapun dengan sentuhan personal penuh dengan makna. Masyarakat tidak perlu mengikuti aturan-aturan atau pakem dalam penggunaan pintu gebyok; kini pintu gebyok dapat diletakkan di mana saja dan dimodifikasi sekreatif mungkin. Guna ulang dalam furnitur seperti ini memungkinkan masyarakat untuk mempopulerkan unsur tradisional dalam interior modern masa kini.
Sumber: Kartiman, dkk. 2015. Membangun Konsep Seni Nusantara. Prosiding Seminar Mahasiswa Pascasarjana Institut Indonesia Surakarta, Rabu 11 November 2015. Hal. 43-58.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































