Banjarbaru, (26/8/2026) — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan Kembali menjadi persoalan serius. Saat ini api muncul di sejumlah wilayah, tantangan yang dihadapi bukan hanya memadamkan api yang terlihat di permukaaan. Karakter lahan gambut membuat bara bertahan di bawah tanah dan berpotensi kembali menimbulkan asap. Karena itu, karhutla membutuhkan penganganan peralatan, air dan biaya operasional yang tidak sedikit, sehingga sejumlah unsur pemerintah, aparat, serta pihak swasta bergerak memperkuat penanganan di lapangan. Salah satu nama yang kemudian muncul adalah pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, yang memberikan dukungan berupa 100 unit pompa air serta dana operasional senilai Rp7,6 miliar untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Bantuan tersebut di sampaikan Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin dan ditujukan untuk mendukung penanganan karhutla selama dua minggu.
Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menyampaikan bahwa Haji Isam memang diminta untuk terlibat dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut. Namun, keterlibatan itu perlu dipahami lebih tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman mengenai tim penanganan Karhutla. Muhidin menegaskan Haji Isam bukan Ketua Tim Percepatan Penanganan Karhutla. Posisi koordinator tetap berada pada pemerintah dan unsur resmi yang telah ditetapkan. Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan informasi yang sebelumnya beredar di media sosial mengenai kabar bahwa Haji Isam ditunjuk langsung untuk memimpin penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga membantah kabar mengenai penunjukan Haji Isam sebagai koordinator penanganan karhutla di Kalimantan. Pemerintah, menurut Prasetyo, memang meminta berbagai pihak untuk ikut membantu mempercepat penanganan kebakaran, tetapi tidak ada penunjukan Haji Isam sebagai koordinator tim. Penegasan tersebut penting karena derasnya informasi di media sosial sempat membuat posisi Haji Isam dalam operasi karhutla dipersepsikan lebih besar daripada peran yang sebenarnya. Dengan demikian, keterlibatannya lebih tepat dipahami sebagai dukungan terhadap operasi yang tetap berada dalam koordinasi pemerintah dan satuan tugas resmi.
Dukungan yang diberikan Haji Isam bukan sekadar pernyataan solidaritas. Gubernur Muhidin menyebut terdapat 100 unit pompa air yang dibantu Haji Isam serta dana operasional Rp7,6 miliar untuk mendukung kebutuhan penanganan selama dua pekan. Haji Isam juga disebut menawarkan bantuan berupa alat berat dan water bombing. Tambahan sarana tersebut digunakan untuk memperkuat tim gabungan dalam menangani di sejumlah titik yang membutuhkan penanganan intensif seperti, Pangayuan, Guntung Damar, dan Kawasan Hutan Lindunga. Keberadaan pompa air memiliki arti penting dalam kondisi karhutla yang tidak hanya menyisakan api di permukaan. Penanganan di sejumlah kawasan juga harus memperhitungkan bara yang dapat bertahan di bawah permukaan tanah, khususnya pada lahan gambut. Bara yang tidak sepenuhnya padam dapat kembali memunculkan asap maupun api ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itu, strategi pemadaman tidak berhenti pada menghilangkan api yang terlihat, tetapi juga diarahkan pada pembasahan dan pendinginan kawasan untuk mencegah kebakaran kembali muncul.
Sejumlah laporan menyebut bahwa bantuan 100 pompa air dan dana operasional sebesar Rp7,6 miliar digunakan untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Dukungan tersebut melengkapi peralatan dan sumber daya yang telah dikerahkan oleh pemerintah serta berbagai pihak di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa memadamkan karhutla membutuhkan sumber daya yang besar, terutama ketika kondisi lahan gambut dan cuaca membuat api sulit dikendalikan. Keterlibatan Haji Isam pun menarik perhatian publik karena latar belakang bisnisnya yang dekat dengan sektor sumber daya alam melalui Jhonlin Group. Perjalanan bisnis tersebut membuat Haji Isam menjadi salah satu figur pengusaha yang memiliki pengaruh besar di Kalimantan Selatan sekaligus menjadikannya sosok yang tidak asing dengan perdebatan publik mengenai pengelolaan sumber daya alam dan relasi antara kepentingan ekonomi, lingkungan, serta masyarakat. Sorotan terhadap rekam jejak tersebut bukan sesuatu yang muncul baru-baru ini. Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat bahwa ekspansi bisnis yang berkaitan dengan Haji Isam pernah menuai kritik dalam persoalan lahan, tata ruang, aktivitas pertambangan, serta dampak lingkungan. Kelompok usaha tersebut bergerak di berbagai bidang, termasuk pertambangan, perkebunan, energi, transportasi, dan industri pengolahan. Karena itu, keterlibatannya dalam penanganan karhutla juga dilihat publik dari berbagai sudut pandang.
Namun, persoalan tersebut perlu dilihat secara proporsional dan berdasarkan fakta serta konteks masing-masing. Bantuan untuk menangani karhutla tidak otomatis menghapus kritik yang pernah muncul, tetapi kritik terhadap aktivitas bisnis juga tidak berarti bahwa bantuan yang diberikan menjadi tidak bernilai. Justru, peristiwa ini mengingatkan bahwa persoalan karhutla jauh lebih besar daripada sekadar memadamkan api. Setelah kebakaran berhasil dikendalikan, masih ada pertanyaan penting tentang bagaimana pengelolaan lahan, pengawasan, dan upaya pencegahan dapat diperbaiki agar kebakaran serupa tidak terus berulang setiap tahun.
Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah yang terdampak karhutla cukup besar pada periode tahun ini. Berdasarkan data BNPB yang dikutip pada 22 Agustus 2026, luas karhutla di Kalsel mencapai sekitar 8.019,62 hektare, sehingga termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia setelah Kalimantan Barat dan Riau. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebakaran yang terjadi membutuhkan penanganan dan koordinasi dalam skala besar. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab utama, tetapi dukungan dari pihak swasta, masyarakat, dan pihak lain juga dapat memperkuat kapasitas di lapangan. Bantuan 100 pompa air dan dana operasional Rp7,6 miliar pun menjadi tambahan sumber daya yang penting, sekaligus menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan biaya, peralatan, dan kerja sama yang besar agar kebakaran dapat segera dikendalikan.
Munculnya nama Haji Isam dalam penanganan karhutla juga menarik perhatian publik, terutama setelah sempat beredar informasi bahwa ia ditunjuk sebagai koordinator penanganan karhutla. Pemerintah kemudian mengklarifikasi bahwa informasi tersebut tidak benar. Haji Isam tidak ditunjuk untuk memimpin operasi, tetapi terlibat dalam memberikan bantuan dan dukungan di lapangan. Perbedaan antara memimpin dan membantu menjadi penting karena dukungan logistik dan pendanaan dari seorang pengusaha tidak berarti menggantikan peran pemerintah dalam penanggulangan bencana.
Bagi masyarakat, hal yang paling penting bukanlah siapa yang paling banyak mendapat sorotan, melainkan seberapa efektif kebakaran dapat dikendalikan dan dampaknya terhadap manusia serta lingkungan dapat dikurangi. Bantuan 100 pompa air dan dana Rp7,6 miliar menjadi bagian dari upaya besar yang melibatkan pemerintah, petugas, masyarakat, dan sektor swasta. Bantuan tersebut patut diapresiasi, tetapi tidak berarti menghapus kritik terhadap persoalan lingkungan yang pernah menjadi sorotan. Sebaliknya, kritik juga harus didasarkan pada data dan fakta, bukan prasangka. Pada akhirnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak ditentukan oleh satu tokoh atau satu pihak, melainkan oleh kerja sama semua pihak untuk memadamkan api dan, yang lebih penting, mencegah kebakaran serupa kembali terjadi.
Nama Haji Isam kini kembali berada dalam sorotan publik dengan peran yang berbeda: bukan karena ekspansi bisnisnya, melainkan karena dukungan yang diberikan untuk menghadapi karhutla di wilayah yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan ekonominya. Api harus dipadamkan hari ini, sementara perlindungan terhadap hutan, lahan, masyarakat, dan ekosistem harus dijaga setiap hari. keterlibatan Haji Isam dalam penanganan karhutla Kalsel dapat ditempatkan secara jernih: ia bukan koordinator operasi sebagaimana sempat beredar, melainkan pihak yang diminta ikut membantu dan memberikan dukungan material maupun finansial. Bantuan tersebut penting bagi operasi di lapangan, tetapi tidak serta-merta menghapus perdebatan mengenai rekam jejak bisnis maupun isu lingkungan yang pernah melekat pada namanya. Pada saat yang sama, kontroversi masa lalu juga tidak semestinya membuat kontribusi dalam situasi darurat diabaikan. Ukuran akhirnya tetap sederhana dan konkret: seberapa banyak api berhasil dipadamkan, seberapa luas kerusakan dapat dicegah, dan seberapa serius seluruh pihak membangun sistem agar bencana serupa tidak kembali berulang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































