Garut, 24 November 2025 – MI Hidayatul Faizien terus berupaya menghadirkan suasana pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga keteduhan spiritual bagi seluruh peserta didiknya. Salah satu wujud nyata dari upaya tersebut adalah lahirnya program RINDU DZUHUR yang merupakan singkatan dari Rinai Duha – Dzuhur. Program ini dirancang sebagai jembatan pembinaan akhlak sehingga setiap siswa mampu memulai hari dengan sinar kebaikan melalui salat Duha dan menutupnya dengan ketenangan serta kemuliaan salat Zuhur.
Sejak program ini diterapkan, suasana madrasah berubah menjadi lebih religius dan penuh kedamaian. Setiap pagi, siswa melaksanakan salat Duha secara teratur dengan bimbingan para guru. Kegiatan tersebut menjadi rutinitas yang memberikan ketenangan sebelum mereka memasuki proses pembelajaran. Cahaya pagi yang menyinari halaman madrasah sering kali menjadi saksi betapa antusiasnya para siswa dalam menjalankan ibadah ini. Doa yang dipanjatkan di waktu Duha menjadi permulaan yang indah sebelum mereka menerima ilmu dari para gurunya.
Program RINDU DZUHUR tidak hanya menata ibadah harian, tetapi juga membentuk kebiasaan baik yang berdampak pada perilaku siswa. Guru-guru melihat perubahan sikap yang signifikan di antara para peserta didik. Mereka lebih tenang, menghargai waktu, serta menunjukkan sopan santun yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Melalui ibadah yang dilakukan secara konsisten, nilai kedisiplinan tumbuh pelan-pelan namun kuat.

Menjelang waktu Zuhur, seluruh siswa dan guru berkumpul di area yang telah disiapkan untuk melaksanakan salat berjamaah. Momen ini menjadi penutup hari belajar sekaligus perayaan kecil atas upaya yang telah dilakukan sejak pagi. Kebersamaan yang terjalin pada saat itu menghadirkan suasana keakraban yang hangat di lingkungan madrasah. Tidak hanya sekadar melaksanakan ibadah, tetapi juga merajut silaturahmi dan rasa persaudaraan antarsesama warga madrasah.
Setelah jamaah Zuhur selesai, seluruh siswa mendapatkan siraman rohani yang disampaikan langsung oleh Kepala Madrasah Bapak H. Aceng Malyan S Pd I. Beliau hadir di tengah-tengah siswa setiap hari untuk memberikan nasihat dan motivasi yang membangun. Dalam penyampaiannya, beliau selalu mengingatkan bahwa program RINDU DZUHUR bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga pembelajaran hati yang sangat berharga. Kehadiran beliau di tengah siswa memberikan suasana kedekatan yang sangat jarang ditemui di lembaga pendidikan lain.
Beliau pernah menyampaikan bahwa salat Duha yang dilakukan di awal hari membawa cahaya kejernihan ke dalam hati para siswa. Dengan hati yang jernih, seorang anak akan mudah menerima pelajaran dan mampu tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sedangkan salat Zuhur yang dilakukan bersama-sama menutup perjalanan hari dengan ketenangan dan rasa syukur. Kehadiran dua momentum ibadah ini setiap hari diyakini mampu menjadi pembersih hati dari berbagai sifat buruk yang mungkin muncul selama proses belajar berlangsung.

Dalam salah satu penyampaiannya, Bapak H Aceng menegaskan bahwa madrasah ingin membentuk generasi yang tidak hanya cerdas pada mata pelajaran umum, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman. Ia mengatakan bahwa setiap siswa harus tumbuh menjadi pribadi yang lembut tutur katanya, santun tingkah lakunya, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Beliau juga berharap agar kegiatan ini terus dijalankan dengan penuh cinta sehingga menjadi fondasi karakter yang kokoh bagi seluruh peserta didik.
Program RINDU DZUHUR mendapatkan sambutan baik dari para guru yang terlibat dalam proses pembinaan ini. Mereka melihat bagaimana anak-anak semakin mudah diarahkan dan semakin menghormati gurunya. Suasana kelas menjadi lebih nyaman karena siswa sudah terlebih dahulu menenangkan diri melalui ibadah. Sikap saling menghargai lebih sering muncul dan konflik dalam kelas berkurang secara signifikan. Nilai religius yang ditanamkan setiap hari benar-benar terasa hidup dan memberikan warna baru dalam proses pendidikan di MI Hidayatul Faizien.
Para siswa pun menunjukkan kegembiraan tersendiri saat mengikuti program ini. Beberapa dari mereka mengaku sangat menyukai momen setelah salat Zuhur ketika Kepala Madrasah memberikan ceramah singkat. Pesan-pesan yang disampaikan biasanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga mereka merasa mudah memahami dan menerapkannya. Ada yang mengatakan bahwa nasihat itu bagai angin sejuk yang menenangkan hati setelah menjalani hari yang penuh aktivitas.
Program RINDU DZUHUR pada akhirnya menjadi salah satu unggulan madrasah karena mampu memadukan pendidikan akademik dan spiritual secara harmonis. Setiap hari menjadi perjalanan pembentukan karakter yang membawa siswa semakin dekat pada nilai-nilai kebaikan. Cahaya Duha yang menyapa pagi dan ketenangan Zuhur yang mengakhiri hari membentuk lingkaran spiritual yang indah dalam dunia pendidikan madrasah. Tidak hanya mencetak siswa berprestasi, MI Hidayatul Faizien juga berkomitmen mencetak generasi yang lembut hatinya, bersih akhlaknya, dan kuat imannya.
Dengan kehadiran program ini, MI Hidayatul Faizien semakin menunjukkan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya yang mencerdaskan pikiran, tetapi juga yang menuntun hati menuju cahaya Allah. Program RINDU DZUHUR menjadi bukti bahwa madrasah mampu menghadirkan ruang belajar yang menenangkan dan menguatkan karakter. Setiap siswa pulang dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih sehingga mereka siap membawa nilai-nilai kebaikan itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”



































































