TANGERANG – Konflik Iran–Israel yang semakin memanas pada tahun 2026 memberikan dampak besar terhadap kondisi geopolitik dan ekonomi global. Muhammad Rizieq dari Program Studi Manajemen Universitas Pamulang berpendapat bahwa ketegangan tersebut tidak hanya memengaruhi kawasan Timur Tengah, tetapi juga berdampak terhadap perdagangan internasional, harga energi, stabilitas pasar keuangan, serta kondisi ekonomi berbagai negara di dunia. Konflik yang melibatkan dua negara dengan pengaruh besar di kawasan Timur Tengah ini menjadi perhatian internasional karena wilayah tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian dunia tertuju pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan sejumlah pihak lain memunculkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global. Pasalnya, kawasan tersebut memiliki peran penting dalam rantai distribusi minyak dan gas yang menjadi sumber energi utama bagi banyak negara.
Konflik yang kembali memanas antara Iran dan Israel pada tahun 2026 tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu dampak ekonomi yang dirasakan hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Ketegangan yang meningkat di kawasan penghasil energi dunia tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas perekonomian internasional.
Indonesia sebagai negara pengimpor minyak juga berpotensi mengalami dampak yang cukup besar akibat konflik tersebut. Kajian DPR RI menyebutkan bahwa Indonesia memiliki ketergantungan impor minyak rata-rata mencapai 31,10 juta ton per tahun selama periode 2015–2024. Ketergantungan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga minyak dunia dan gangguan distribusi energi global.
Dampak konflik terhadap indonesia
Pada Awal Maret 2026, masyarakat Indonesia mulai sadar ada sesuatu yang berubah. Harga BBM non-subsidi perlahan naik, terutama pada jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami kenaikan cukup tajam hanya dalam waktu singkat. Bagi sebagian orang mungkin kenaikan itu terlihat biasa. Namun untuk pengemudi online, pelaku usaha kecil, sampai masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi, perubahan harga BBM langsung terasa ke pengeluaran harian. Konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia ternyata dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat melalui kenaikan harga energi dan biaya distribusi barang.
Berdasarkan laporan Kontan.co.id, sejak konflik Iran pecah pada 28 Februari 2026, harga BBM non-subsidi Pertamina mengalami perubahan sebanyak tiga kali, yaitu pada 1 Maret, 18 April, dan 4 Mei 2026. Kenaikan paling signifikan terjadi pada jenis BBM Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik internasional memiliki dampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.
Masalahnya bukan cuma soal bensin kendaraan. Ketika harga energi naik, biaya distribusi barang ikut naik. Ujungnya, harga kebutuhan sehari-hari juga perlahan ikut bergerak. Ketika harga energi naik, hampir seluruh sektor ekonomi ikut terkena dampaknya. Oleh karena itu, konflik Iran dan Israel sebenarnya bukan lagi sekadar berita luar negeri, melainkan persoalan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia.
Apa yang terjadi di timur tengah ?
Konflik di Timur Tengah sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, tetapi situasinya kembali memanas pada akhir Februari 2026. Berdasarkan laporan Institute for Essential Services Reform (IESR), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menyebut operasi tersebut sebagai “operasi tempur besar”. Dalam serangan tersebut, sejumlah pejabat militer Iran dan pemimpin penting negara tersebut dilaporkan tewas.
Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal ke beberapa wilayah Asia Barat yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Ketegangan tersebut membuat situasi Timur Tengah semakin tidak stabil dan meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan perang berskala lebih besar.
Ketegangan antara Iran dan Israel juga bukan konflik yang muncul dalam semalam. Berdasarkan catatan Wikipedia dan berbagai laporan internasional, kedua negara sebelumnya telah beberapa kali terlibat serangan balasan pada tahun 2024 dan 2025. Konflik lama yang belum selesai akhirnya kembali meledak menjadi perang terbuka pada tahun 2026.
Situasi semakin rumit ketika kelompok Houthi dari Yaman ikut meluncurkan rudal ke Israel. Di sisi lain, Amerika Serikat mulai kehilangan dukungan dari beberapa negara G7 sehingga muncul dorongan untuk mencari jalan penyelesaian tanpa mengirim pasukan darat dalam jumlah besar.
Selat hormuz sebagai jalur strategis dunia
Salah satu alasan mengapa konflik Iran sangat memengaruhi ekonomi dunia adalah karena lokasi geografis Iran yang sangat strategis. Iran berada di dekat Selat Hormuz, jalur laut utama yang menjadi pusat distribusi minyak dunia. Menurut Dunia Energi, sekitar 98% minyak yang diperdagangkan melalui Selat Hormuz berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Iran, Kuwait, dan Qatar.
Ketika konflik pecah dan keamanan wilayah terganggu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz ikut terhambat. Banyak kapal tanker minyak mengurangi aktivitas pelayaran karena risiko serangan yang tinggi. Akibatnya, distribusi minyak dunia mengalami gangguan dan harga energi global langsung melonjak.
Media Suara menyebutkan bahwa Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi energi dunia hampir mengalami penghentian aktivitas secara total. Dampaknya paling besar dirasakan negara-negara Asia karena kawasan ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dari Timur Tengah.
Dampaknya kemudian terasa ke banyak negara, termasuk negara-negara yang sebenarnya tidak terlibat langsung dalam perang. CNBC Indonesia melaporkan bahwa sedikitnya 95 negara mengalami kenaikan harga bensin setelah konflik Iran pecah. Di Amerika Serikat, harga bensin naik dari US$2,94 per galon menjadi US$3,58 per galon hanya dalam beberapa minggu. Negara-negara seperti Vietnam, Laos, Nigeria, dan Kamboja bahkan mengalami lonjakan harga yang lebih tajam.
Dampak nyata bagi indonesia ?
Indonesia termasuk negara yang cukup rentan terhadap gejolak harga minyak dunia karena kebutuhan energi nasional masih sangat bergantung pada impor. Berdasarkan data dari IESR, Indonesia mengonsumsi sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 860 ribu barel per hari. Artinya, hampir separuh kebutuhan minyak Indonesia harus dipenuhi melalui impor.
Ketika harga minyak dunia naik akibat konflik Iran, Indonesia otomatis harus mengeluarkan biaya impor yang lebih besar. Hal tersebut memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada sektor subsidi energi.
Dampak konflik juga terasa langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Kenaikan harga energi menyebabkan biaya transportasi dan distribusi barang meningkat. Akibatnya, harga kebutuhan pokok seperti beras, telur, ayam, dan sayuran ikut mengalami kenaikan.
Ketika harga pangan naik, kelompok masyarakat menengah biasanya mulai paling terasa tekanannya karena pengeluaran harian ikut membesar. Pendapatan masyarakat yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai berkurang karena harga barang terus mengalami kenaikan.
Selain masalah ekonomi, konflik di Timur Tengah juga berdampak terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di kawasan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, terdapat sekitar 519.412 WNI yang berada di Timur Tengah, tersebar di Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pemerintah Indonesia kemudian melakukan evakuasi WNI secara bertahap dari wilayah Iran melalui Azerbaijan. Sebanyak 22 orang dilaporkan telah tiba di Indonesia pada 11 Maret 2026.
Analisis Kritis
Konflik Iran dan Israel memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih sangat dipengaruhi situasi global, terutama pada sektor energi. Kenaikan harga minyak dunia akibat terganggunya distribusi energi di Timur Tengah secara langsung memengaruhi biaya impor dan kondisi ekonomi dalam negeri. Selama ini konflik di Timur Tengah sering dianggap tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Namun ketika harga BBM meningkat dan biaya kebutuhan sehari-hari ikut naik, dampaknya mulai terasa secara nyata. Namun ketika harga BBM naik, ongkos transportasi meningkat, dan harga bahan pokok ikut melonjak, dampaknya baru benar-benar terasa.
Menurut data IESR, Indonesia masih harus mengimpor hampir separuh kebutuhan minyak nasional. Kondisi tersebut membuat Indonesia cukup rentan terhadap gejolak harga energi dunia, terutama ketika terjadi konflik di kawasan produsen minyak seperti Timur Tengah. Ketika distribusi minyak terganggu, Indonesia tidak memiliki banyak ruang untuk menghindari kenaikan harga energi dunia.
Di sisi lain, pemerintah juga berada dalam posisi yang tidak mudah. Jika subsidi energi dipertahankan terlalu besar, beban APBN akan meningkat. Namun apabila harga BBM dilepas mengikuti pasar, daya beli masyarakat dapat semakin melemah. Situasi seperti ini memperlihatkan bahwa dampak perang modern tidak selalu hadir melalui serangan militer secara langsung, tetapi juga melalui tekanan ekonomi yang perlahan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Dengan kondisi saat ini seharusnya menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak. Apabila situasi seperti ini terus berulang sementara persiapan nasional masih terbatas, maka setiap konflik global akan selalu membawa dampak besar terhadap kondisi ekonomi dalam negeri.
Penutup
Konflik Iran–Israel membuktikan bahwa peristiwa geopolitik internasional dapat memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok menjadi bukti bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak terlepas dari kondisi global. Oleh karena itu, penguatan ketahanan energi, pengurangan ketergantungan impor minyak, serta kebijakan ekonomi yang adaptif menjadi langkah penting agar Indonesia lebih siap menghadapi krisis internasional di masa mendatang.
Selama ini banyak orang menganggap konflik Timur Tengah hanyalah berita luar negeri yang cukup dilihat melalui televisi atau media sosial. Namun kenyataannya, dampak perang tersebut perlahan masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.Perang itu hadir melalui harga bensin yang naik, biaya transportasi yang semakin mahal, tagihan listrik yang meningkat, hingga harga kebutuhan pokok yang terus bertambah. Pada akhirnya, masyarakat mulai menyadari bahwa konflik global tidak selalu datang dalam bentuk ledakan atau suara senjata, tetapi juga dapat hadir secara perlahan melalui kondisi ekonomi yang semakin berat. Mungkin sekarang persoalannya bukan lagi soal jauh atau dekatnya perang itu dari Indonesia. Yang lebih penting adalah apakah Indonesia benar-benar siap menghadapi dampaknya ketika krisis seperti ini kembali terjadi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































