Surabaya, di tahun 2026 ini, banyak sekali isue ataupun kabar buruk yang dibuat sendiri dari ulah kelakuan pemerintah yang mengakibatkan masyarakat menjadi stress saat mengetahuinya. Di kalangan mahasiswa Gen Z yang kesehariannya tidak luput dengan media sosial, hal ini bisa menjadi sebuah tekanan berat karena memikirkan kelakuan para pejabatnya, sebagaimana kita tahu kekuatan internet yang sangat cepat membuat informasi apapun bisa didapatkan dengan mudah.
Sebagai mahasiswa fakultas ilmu komunikasi, kemampuan untuk membaca dan memahami sebuah berita di uji dalam menyikapinya. Kabar buruk yang begitu banyak didapatkan bisa jadi sebuah masalah dalam aktivitas seorang mahasiswa. Tekanan itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele. Setiap hari, linimasa dipenuhi potongan berita tentang kebijakan yang kontroversial, pernyataan pejabat yang melukai perasaan publik, hingga dugaan penyalahgunaan wewenang. Bagi mahasiswa, paparan yang terus-menerus ini sering berujung pada kelelahan emosional. Ada yang menjadi mudah marah, ada yang merasa putus asa karena suaranya tidak didengar, dan ada pula yang akhirnya apatis. Kebiasaan menggulir layar tanpa henti demi mencari kabar buruk berikutnya, atau yang dikenal sebagai doomscrolling, membuat pikiran sulit beristirahat. Konsentrasi kuliah terganggu, tugas tertunda, dan jam tidur berkurang hanya karena kita merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru.
Masalahnya tidak berhenti pada banyaknya informasi, tetapi juga pada cara informasi itu sampai kepada kita. Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, dan konten yang memancing emosi terbukti paling efektif untuk itu. Akibatnya, kabar yang membuat marah atau cemas akan lebih sering muncul dibandingkan kabar yang menenangkan atau bersifat klarifikasi. Kita juga cenderung berada dalam ruang gema (echo chamber), yaitu lingkungan digital yang hanya mempertemukan kita dengan pandangan yang sejalan. Lama-kelamaan, persepsi kita tentang keadaan negeri bisa menjadi terlalu gelap atau terlalu bias, karena apa yang kita lihat adalah hasil seleksi mesin, bukan gambaran utuh kenyataan.
Di titik inilah mahasiswa ilmu komunikasi memegang peran yang berbeda dari kebanyakan orang. Kita dibekali teori dan keterampilan untuk membongkar cara sebuah pesan dibentuk. Kita mengenal konsep framing, yaitu bagaimana sebuah peristiwa dibingkai sehingga menimbulkan kesan tertentu, juga agenda setting, yaitu bagaimana media menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik. Dengan bekal ini, seharusnya kita tidak langsung bereaksi pada judul yang provokatif. Kita bisa bertanya: siapa yang menyampaikan, apa kepentingannya, apakah ada data pendukung, dan apakah sudut pandang lain sudah diberi ruang. Kemampuan membaca berita secara kritis inilah yang menjadi ujian sesungguhnya, bukan hanya di ruang kelas, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, bersikap kritis tidak sama dengan bersikap sinis terhadap segalanya. Ada godaan untuk menganggap semua berita sama buruknya, semua pejabat sama saja, dan semua usaha perbaikan sia-sia. Sikap seperti ini tampak realistis, tetapi sebenarnya berbahaya karena melumpuhkan. Padahal, keresahan terhadap perilaku pejabat adalah tanda bahwa kita masih peduli pada negeri ini. Sejarah mencatat bahwa mahasiswa selalu menjadi bagian dari kontrol sosial, dari gerakan-gerakan besar hingga kritik-kritik kecil di ruang diskusi kampus. Kepedulian itu patut dijaga, asalkan disalurkan dengan cara yang sehat dan konstruktif.
Karena itu, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, biasakan memverifikasi sebelum membagikan. Satu berita sebaiknya dibandingkan dengan minimal dua sumber kredibel, dan jangan mudah percaya pada tangkapan layar atau potongan video tanpa konteks. Kedua, batasi waktu bermedia sosial, misalnya dengan menentukan jam khusus untuk membaca berita dan menutup aplikasi setelahnya. Informasi penting akan tetap sampai tanpa perlu dipantau setiap menit. Ketiga, ikuti beragam sumber, termasuk media arus utama, jurnalisme investigasi, dan kajian akademis, agar sudut pandang kita tidak sempit. Keempat, ceritakan keresahan kepada teman atau dosen, karena membicarakan beban bersama-sama sering kali meringankan pikiran dan melahirkan sudut pandang baru.
Selain menjaga diri, mahasiswa komunikasi juga bisa mengubah keresahan menjadi karya. Kemampuan menulis, membuat konten visual, mengelola media sosial, dan berbicara di depan umum adalah modal besar untuk menyampaikan informasi yang benar dan mudah dipahami. Alih-alih hanya menjadi penonton, kita bisa membuat konten edukatif yang meluruskan hoaks, merangkum kebijakan publik dengan bahasa sederhana, atau mengangkat isu-isu yang luput dari perhatian. Cara ini bukan hanya melatih keterampilan profesional, tetapi juga memberi rasa berdaya, perasaan bahwa kita turut berkontribusi dan tidak sekadar menanggung kabar buruk.
Pada akhirnya, kesehatan mental juga bagian dari tanggung jawab seorang mahasiswa. Kita tidak akan mampu berpikir jernih, menulis dengan baik, atau berdiskusi dengan sehat jika terus dalam kondisi tertekan. Beristirahat dari layar, berolahraga, bersosialisasi secara langsung, dan menekuni hobi bukanlah tanda ketidak pedulian, melainkan cara merawat tenaga agar tetap bisa peduli dalam jangka panjang. Jika rasa cemas dan stres terasa terlalu berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan layanan konseling kampus atau tenaga profesional adalah langkah yang bijak dan patut dihargai.
Dengan demikian, kabar buruk yang datang bertubi-tubi memang tidak bisa kita hentikan, tetapi cara kita menyikapinya sepenuhnya ada di tangan kita. Mahasiswa ilmu komunikasi di Surabaya, dan di mana pun, memiliki bekal untuk menjadi pembaca yang cerdas, penyampai yang jujur, dan warga yang peduli tanpa kehilangan keseimbangan diri. Menjadi melek informasi tidak berarti harus tenggelam di dalamnya. Dengan literasi yang baik, kepedulian yang terarah, dan kesehatan mental yang terjaga, kita dapat menjadikan tekanan hari ini sebagai bahan untuk tumbuh, serta kemampuan komunikasi kita sebagai alat untuk ikut memperbaiki keadaan, bukan sekadar bereaksi terhadapnya. Ingat quotes by Abraham Lincoln “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” . Sekian dan terimakasih
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































