Kabupaten Kendal — Warung kopi mungkin sudah menjadi pemandangan biasa, tetapi di sudut sebuah sentra pengolahan kopi di Desa Gedong, hadir langkah kecil penuh makna dari tiga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro (UNDIP). Mereka datang bukan membawa mesin atau teknologi baru, melainkan sebuah booklet sederhana yang memuat narasi sejarah, tradisi, dan manajemen usaha kopi. Harapannya: pengetahuan dapat tumbuh seiring aroma kopi yang digiling dan dikemas di tempat itu.
Booklet setebal beberapa halaman tersebut diserahkan oleh 3 anggota dari KKN-T Tim 21 UNDIP, yang terdiri dari Syahrul, Aulia, dan Bagas kepada pengelola sentra olahan kopi yang bernama Gedong Coffee pada 19 Juli 2025. Di dalamnya terdapat tiga bagian utama yakni sejarah kopi robusta, adat istiadat masyarakat penghasil kopi, serta manajemen sederhana yang bisa diterapkan untuk pengembangan usaha pengolahan kopi lokal.
“Melalui booklet ini kami ingin mendukung pengelola agar bukan hanya menjual hasil olahan kopi, tetapi juga menyampaikan nilai di balik proses dan budayanya,” ujar Syahrul, salah satu anggota tim KKN.
Sentra pengolahan kopi yang mereka kunjungi bukanlah tempat wisata, melainkan pusat penggilingan, roasting, dan pengemasan kopi milik desa yang kemudian dipasarkan ke berbagai daerah. Menurut pemilik usaha, kehadiran booklet tersebut dianggap sangat membantu untuk memperkaya wawasan baik bagi pengelola maupun calon pembeli yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kopi.
Dosen pembimbing lapangan KKN-T Tim 21 UNDIP, Hega Bintang Pratama Putra, S.T.P., M.Sc., menyatakan bahwa inisiatif mahasiswa ini merupakan bentuk nyata pengabdian sekaligus edukasi berbasis budaya. “Mahasiswa tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menegaskan bahwa setiap produk lokal memiliki cerita, identitas, dan karakter yang harus diangkat. Booklet ini menjadi media kecil yang berdampak besar untuk penguatan UMKM kopi desa,” terangnya.
Dalam penyusunannya, tim yang beranggotakan tiga orang ini menggali berbagai referensi sejarah, riset kebudayaan, hingga panduan manajemen mikro UMKM agar isi booklet memiliki kedalaman sekaligus mudah dipahami. Format ringannya sengaja dipilih agar bisa dinikmati oleh siapa saja, termasuk pengunjung yang datang sekadar untuk membeli satu bungkus kopi.
Tak sekadar kenangan KKN, booklet itu menjadi jembatan literasi antara kampus dan masyarakat. Upaya kecil ini menunjukkan bagaimana peran perguruan tinggi dapat hadir langsung dalam menguatkan industri kopi lokal, bukan hanya lewat teknologi, tetapi juga lewat cerita, identitas, dan pengetahuan.
Ke depan, Tim-21 KKN-TUNDIP berharap booklet tersebut bisa dijaga dan dibaca ke pengunjung yang datang agar semakin banyak pelaku usaha kopi lokal yang teredukasi sekaligus mampu meningkatkan nilai jual produk mereka.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































