Dunia remaja Indonesia hari ini tidak bisa dilepaskan dari layar gawai dan aplikasi media sosial. Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, Facebook, dan X bukan sekadar sarana hiburan, melainkan telah menjelma menjadi ruang utama tempat generasi muda berkomunikasi, belajar, dan membangun citra diri. Skala fenomena ini terlihat jelas dari data yang dihimpun Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), yang mencatat pengguna internet di Indonesia pada 2024 mencapai 221.563.479 orang, atau setara 79,5% dari total populasi nasional (APJII, 2024). Tingginya angka tersebut tidak lepas dari kenyataan bahwa remaja merupakan kelompok usia dengan intensitas penggunaan internet paling tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Ketertarikan remaja terhadap dunia digital ini sebenarnya selaras dengan tahap perkembangan psikologis yang sedang mereka lalui. Masa remaja dikenal sebagai periode pencarian jati diri, masa ketika seseorang berusaha memahami siapa dirinya, apa yang ia yakini, dan bagaimana ia ingin dipandang oleh orang lain. Media sosial menyediakan ruang yang relatif bebas dan fleksibel bagi remaja untuk mencoba berbagai peran, gaya, dan ekspresi diri sebelum mereka benar-benar yakin dengan identitas yang dipilih (Boyd, 2014). Di samping itu, kebutuhan psikologis akan pengakuan dari teman sebaya serta rasa ingin tahu yang besar terhadap hal-hal baru turut menjadi alasan mengapa remaja sulit melepaskan diri dari aktivitas berselancar di dunia maya.
Tidak dapat dipungkiri, kehadiran media sosial membawa sejumlah manfaat nyata. Sebagai sarana komunikasi, platform ini mempermudah remaja menjalin dan memelihara hubungan dengan teman maupun keluarga tanpa terhalang jarak. Sebagai sarana belajar, media sosial membuka akses terhadap beragam sumber pengetahuan, mulai dari tutorial keterampilan hingga diskusi isu-isu terkini yang sebelumnya sulit dijangkau melalui jalur pendidikan formal semata. Sebagai ruang berekspresi, platform ini juga memungkinkan remaja menyalurkan bakat menulis, menggambar, bermusik, maupun berbagai bentuk kreativitas lain kepada khalayak yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Sayangnya, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang tidak terkendali juga membuka pintu bagi sejumlah persoalan. Yang paling mendasar adalah munculnya kecenderungan adiktif. Ketika waktu bermedia sosial tidak dibatasi, remaja berisiko kehilangan waktu yang semestinya digunakan untuk belajar, beristirahat, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya. Pola konsumsi konten yang berlangsung tanpa jeda ini lambat laun dapat menurunkan produktivitas dan konsentrasi remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Pada tataran sosial, ruang digital juga rentan menjadi tempat berlangsungnya perundungan siber atau cyberbullying. Kemudahan berkomunikasi yang seharusnya mempererat hubungan justru kerap disalahgunakan untuk mengintimidasi, mengejek, atau menyebarkan konten yang merugikan orang lain (Marsinun & Riswanto, 2020). Anonimitas yang ditawarkan dunia maya membuat sebagian pelaku merasa lebih leluasa melakukan tindakan tersebut tanpa harus berhadapan langsung dengan konsekuensi sosial yang biasanya muncul dalam interaksi tatap muka. Bagi korban, dampaknya bisa sangat berat, mulai dari rasa cemas berkepanjangan hingga menurunnya rasa percaya diri.
Selain risiko yang menyentuh ranah interaksi antarindividu, terdapat pula persoalan yang sifatnya lebih struktural, yaitu menyangkut keamanan data pribadi dan keakuratan informasi yang beredar. Banyak remaja yang masih kurang menyadari pentingnya menjaga kerahasiaan data diri, sehingga dengan mudah membagikan nomor telepon, titik lokasi, hingga foto pribadi kepada publik luas. Kebiasaan ini membuka celah bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk menyalahgunakannya, mulai dari pencurian identitas hingga modus penipuan daring. Persoalan ini diperparah oleh masih rendahnya kemampuan literasi digital di kalangan remaja, sehingga mereka kerap kesulitan membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Akibatnya, remaja tidak hanya berisiko menjadi korban hoaks, tetapi juga berpotensi tanpa sadar ikut menyebarkannya ke lingkar pertemanan mereka.
Dari sisi psikologis, tekanan yang dirasakan remaja kerap diperparah oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan yang muncul akibat rasa takut tertinggal dari momen atau tren yang sedang ramai dibicarakan di media sosial (Akbar dkk., 2018). Kebiasaan menyaksikan kehidupan orang lain yang ditampilkan secara selektif dan tampak “sempurna” turut mendorong remaja membandingkan kehidupannya sendiri dengan standar yang sebenarnya tidak realistis. Gabungan antara FOMO, kebutuhan validasi sosial, dan kebiasaan membandingkan diri ini, jika dibiarkan tanpa intervensi, berpotensi berkembang menjadi kecemasan kronis dan menurunkan kesejahteraan psikologis remaja dalam jangka panjang.
Mengingat kompleksitas dan keterkaitan antarrisiko tersebut, diperlukan pendekatan yang sistematis untuk mengelolanya, salah satunya melalui kerangka manajemen risiko ISO 31000:2018. Standar ini menawarkan alur kerja yang terstruktur, mulai dari identifikasi risiko, analisis penyebab dan dampaknya, evaluasi tingkat urgensi, hingga perumusan langkah mitigasi yang sesuai (International Organization for Standardization [ISO], 2018). Pendekatan semacam ini relevan diterapkan karena memungkinkan setiap pihak yang terlibat baik keluarga, sekolah, maupun pembuat kebijakan untuk menyusun langkah penanganan secara lebih terarah, bukan sekadar reaktif terhadap kasus yang sudah terjadi.
Penerapan kerangka tersebut secara nyata dapat diwujudkan melalui beberapa langkah yang saling melengkapi. Pertama, peningkatan literasi digital perlu dijadikan fondasi utama, agar remaja memiliki bekal untuk menyaring informasi, melindungi data pribadi, dan bersikap kritis terhadap konten yang mereka konsumsi. Kedua, pendampingan dan pengawasan orang tua tetap memegang peranan penting sebagai mekanisme kontrol yang paling dekat dengan keseharian remaja. Ketiga, integrasi pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah dapat menjadi sarana penanaman nilai jangka panjang, seperti empati, tanggung jawab, dan kesadaran etika digital. Keempat, optimalisasi fitur-fitur keamanan yang sudah disediakan oleh platform seperti pengaturan privasi, fitur pelaporan, dan pembatasan durasi penggunaan perlu dimanfaatkan secara maksimal sebagai lapisan perlindungan teknis. Keempat langkah ini akan lebih efektif apabila didukung oleh kolaborasi yang erat antara keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dan industri teknologi, sebab masing-masing pihak memiliki peran yang tidak dapat saling menggantikan.
Pada akhirnya, media sosial tetap merupakan aset teknologi yang sangat berharga bagi perkembangan remaja, asalkan dimanfaatkan dengan bijak. Potensinya untuk mendukung komunikasi, memperluas wawasan, dan menyalurkan kreativitas hanya dapat terwujud secara optimal apabila diimbangi dengan kesadaran akan risiko serta tanggung jawab pribadi dalam menggunakannya. Dengan manajemen risiko yang terencana dan kerja sama yang kuat antarberbagai pihak, remaja Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan media sosial sebagai pendorong pengembangan diri yang produktif, bukan sumber dampak negatif yang menghambat masa depan mereka.
SUMBER REFERENSI
Akbar, R. S., Aulya, A., Apsari, A., & Sofia, L. (2018). Ketakutan akan kehilangan momen (FoMO) pada remaja Kota Samarinda. Psikostudia: Jurnal Psikologi, 7(1), 38–47.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024, 31 Januari). Pengguna internet Indonesia tembus 221 juta orang. https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-orang
Boyd, D. (2014). It’s complicated: The social lives of networked teens. Yale University Press.
International Organization for Standardization (ISO). (2018). ISO 31000:2018 — Risk management: Guidelines. ISO.
Marsinun, R., & Riswanto, D. (2020). Perilaku cyberbullying remaja di media sosial. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 12(2), 98–111.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































