Kabupaten Malang – Sebanyak 12 Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Komunitas dalam Restorasi Ekosistem Mata Air dan Manajemen Air Bersih Berbasis Lembaga Lokal yang diselenggarakan oleh Yayasan Lingkar Gagasan Indonesia (Lingga Indonesia) pada 8–9 Juli 2026 di Gedung Cakra Mahesa Kencana, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Pelatihan tersebut merupakan Program Lingkungan Lingga Indonesia yang didukung melalui Indonesia FOLU Net Sink 2030 – Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Program ini bertujuan memperkuat kapasitas kelembagaan HIPPAM sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem mata air sebagai sumber utama penyediaan air bersih pedesaan.
Dibuka dengan apresiasi untuk Desa Kebobang
Kegiatan dibuka oleh Ketua Badan Pengurus Yayasan Lingkar Gagasan Indonesia, Yoga Ardianta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Kebobang atas prestasi yang berhasil diraih.
“Atas nama pribadi dan Yayasan Lingkar Gagasan Indonesia, kami mengucapkan selamat kepada Pemerintah Desa Kebobang yang telah meraih Juara I Tingkat Provinsi Jawa Timur dalam Lomba Administrasi Kelembagaan Desa. Prestasi ini menunjukkan bahwa tata kelola desa yang baik menjadi modal penting dalam membangun kolaborasi untuk menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yoga.
Ia juga berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal lahirnya HIPPAM yang semakin kuat, mandiri, dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah desa dalam pengelolaan air bersih berbasis masyarakat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus arahan dari Kepala Desa Kebobang, Mujiati, yang menyampaikan apresiasi kepada Lingga Indonesia atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Menurutnya, penguatan kapasitas HIPPAM menjadi kebutuhan penting agar pelayanan air bersih di desa dapat terus berkembang secara profesional dan berkelanjutan.

Kolaborasi lintas sektor untuk menjaga sumber air
Pelatihan turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pengelolaan lingkungan dan sumber daya air, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Malang, Penyuluh Kehutanan Kecamatan Wonosari, KRPH Gendogo, Pemerintah Desa Kebobang, serta perwakilan HIPPAM.
Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat kelembagaan pengelola air bersih sekaligus mendorong upaya konservasi kawasan resapan air di wilayah Kabupaten Malang.
Hari pertama: membangun pemahaman tentang konservasi dan tata kelola
Hari pertama pelatihan diisi dengan tiga materi utama yang saling melengkapi.
Materi pertama disampaikan oleh Bayu Hadi Saputro dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang mengenai Ekosistem Mata Air dan Konservasi Sumber Air. Materi ini mengajak peserta memahami hubungan antara kondisi daerah resapan, kualitas lingkungan, dan keberlanjutan sumber air yang dimanfaatkan masyarakat.
Materi kedua disampaikan oleh Agustin, Penyuluh Kehutanan dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Malang. Ia menjelaskan pentingnya menjaga fungsi kawasan hutan sebagai daerah tangkapan air serta perlunya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Dalam sesi diskusi, peserta turut menyampaikan berbagai dinamika yang terjadi di kawasan hulu, termasuk perubahan pemanfaatan lahan di beberapa lokasi. Diskusi berlangsung konstruktif dengan menekankan pentingnya pengelolaan kawasan yang tetap memperhatikan fungsi ekologis sehingga keberlanjutan sumber daya air dapat terus terjaga.
Materi ketiga disampaikan oleh Isa Cholili, narasumber dari Lingga Indonesia sekaligus dosen tetap Universitas Al-Rifa’ie Malang. Ia membahas tata kelola keuangan HIPPAM, mulai dari pencatatan transaksi, administrasi pelanggan, hingga penyusunan laporan pertanggungjawaban sebagai bagian dari penguatan kelembagaan.
Hari kedua: praktik menyusun kelembagaan HIPPAM
Berbeda dengan hari pertama yang berfokus pada materi konseptual, pelaksanaan hari kedua lebih menitikberatkan pada praktik.
Peserta melakukan asesmen kondisi kelembagaan HIPPAM masing-masing, mengidentifikasi dokumen administrasi yang telah dimiliki, mempraktikkan pencatatan keuangan sederhana, serta menyusun rencana penguatan kelembagaan yang dapat diterapkan setelah pelatihan.
Melalui pendampingan fasilitator, peserta juga mulai menyusun berbagai dokumen dasar organisasi, seperti administrasi kelembagaan, tata kelola keuangan, hingga rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan di masing-masing HIPPAM.
Hasil asesmen: legalitas HIPPAM masih perlu diperkuat
Salah satu hasil penting dari pelatihan ini adalah diperolehnya gambaran kondisi kelembagaan HIPPAM di Desa Kebobang. Hasil asesmen menunjukkan bahwa dari 12 HIPPAM yang mengikuti pelatihan, baru dua HIPPAM yang telah memiliki Surat Keputusan (SK) Kepala Desa, sementara 10 HIPPAM lainnya belum memiliki legalitas tersebut.
Temuan ini menjadi perhatian bersama karena keberadaan SK Kepala Desa merupakan salah satu bentuk penguatan kelembagaan yang dapat memberikan kepastian organisasi dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat serta membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Sebagai tindak lanjut, para peserta berkomitmen mengusulkan penerbitan SK Kepala Desa bagi HIPPAM yang belum memilikinya.
Sepakati aksi konservasi bersama
Selain penguatan kelembagaan, pelatihan juga menghasilkan komitmen bersama untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan mata air dan daerah resapan.
Peserta menilai bahwa keberlanjutan sumber air tidak hanya bergantung pada infrastruktur pelayanan, tetapi juga pada terjaganya fungsi ekologis kawasan hulu melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, kelompok tani, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Sebagai tindak lanjut nyata, peserta bersama Pemerintah Desa, HIPPAM, kelompok tani, serta unsur masyarakat menyepakati pelaksanaan aksi perawatan hasil penanaman pohon di kawasan Coban Baung pada 12 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kawasan resapan air.
Langkah awal membangun HIPPAM yang tangguh
Pelatihan ditutup oleh Kepala Desa Kebobang, Mujiati, yang kembali menyampaikan apresiasi kepada Lingga Indonesia atas pelaksanaan program tersebut.
Ia berharap seluruh materi dan praktik yang telah diperoleh peserta dapat segera diterapkan di masing-masing HIPPAM sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan air bersih sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga sumber daya air.
Melalui program lingkungan ini, Lingga Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan kelembagaan lokal sebagai fondasi pengelolaan air bersih yang berkelanjutan. Ke depan, model pelatihan ini diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung konservasi lingkungan berbasis komunitas di Kabupaten Malang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































