Islamic Center Jambi tuh dibangun dengan cita-cita segede gaban: mau jadi pusat kegiatan agama, pendidikan Islam, sekaligus destinasi wisata religi paling keren di Jambi. Proyeknya sendiri ngabisin duit sekitar Rp150 miliar, dicicil dari 2022 sampe 2024. Secara konsep sih, tempat ini diharapkan jadi simbol kemajuan dan kebanggaan buat umat Islam Jambi. Tapi ya, di balik tampilan fisiknya yang mewah, ternyata banyak masalah yang bikin masyarakat dan DPRD geleng-geleng kepala.
Jujur aja, dari awal diresmiin aja, udah banyak yang ngomongin soal kualitas bangunannya. Banyak yang bilang, hasilnya tuh gak sebanding sama duit yang digelontorin. Baru beberapa bulan selesai, eh udah ada aja bagian gedung yang rusak. Atap bocor, plafon jebol kena air, lantai granit di ruang utama juga nggak rata—kayak masang puzzle sambil merem. Ini sih jelas nunjukkin pengawasan pembangunan yang lemah banget. Dengan dana segitu, wajar jika warga kecewa berat.
Belum lagi soal material bangunannya. Ada laporan yang mengatakan beberapa dinding hanya pakai kasliboard atau GRC, bukan beton. Buat bangunan sebesar dan semahal itu, ya… mustinya nggak asal-asalan kayak gini. Jadinya orang nanya, “Ini beneran sesuai spesifikasi kontrak nggak sih, atau malah downgrade di tengah jalan?” Nggak heran, warga maunya Islamic Center ini jadi bangunan yang kokoh dan awet, bukannya cuma cakep di luar doang—kayak pepatah, “luarnya doang kinclong, dalemnya kosong.”
Urusan tugas juga bikin pusing. Udah habis Rp150 miliar, eh tahun depan masih aja nambah Rp13 miliar lagi buat interior dan lanskap. Kayaknya dari awal emang perencanaannya nggak mateng. DPRD pun sempet ribut karena ada dokumen addendum kontrak yang katanya tidak transparan. Bau-bau penyimpangan mulai kecium, apalagi BPK juga tidak menunjukkan indikasi kelebihan pembayaran. DPRD akhirnya meminta KPK dan aparat hukum turun tangan. Soal transparansi ini penting banget, soalnya duit yang dipake kan duit rakyat, bukan duit warisan nenek.
Sisi lain yang tidak kalah nyebelin: pemanfaatan gedungnya sendiri masih jauh dari ekspektasi. Pemerintah sih bilangnya buat dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial lintas usia. Ngomong-ngomong mah gampang. Faktanya, sampai sekarang, kegiatan rutin hampir tidak ada. Islamic Center malah lebih sering dipake untuk acara seremonial, bukan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kayak rumah mewah yang isinya cuma buat pamer doang.
Yang juga jadi catatan: masyarakat sekitar dari awal sampe sekarang kayak gak pernah diajak ngobrol. Jadi, bangunan ini lebih terasa seperti proyek pemerintah, bukan milik bersama umat Islam Jambi. Padahal, partisipasi warga itu penting biar ada rasa memiliki dan tanggung jawab bersama-bareng.
Kalau ditarik garis, Islamic Center Jambi malah jadi contoh jurang lebar antara mimpi dan kenyataan. Harapan punya pusat peradaban Islam yang dijanjikan, ya, masih jauh dari api. Ke depannya, pemerintah kudu benerin transparansi soal duit, perbaiki kualitas bangunan, bikin program keagamaan yang jalan terus, dan yang paling penting, libatin masyarakat. Kalau nggak, ya ujung-ujungnya, Islamic Center cuma jadi bangunan megah yang isinya hampa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































