Kota Malang- Nilai-nilai kebangsaan idealnya tidak hanya menjadi didalam buku teks warga dewasa, melainkan harus ditanamkan sejak dini melalui cara-cara yang menyenangkan.
Sadar betapa pentingnya fondasi karakter tersebut, mahasiswa program studi pendidikan bahasa arab (PBA) sukses menerapkan kegiatan edukasi kreatif bertajuk “Kecil-kecil cinta indonesia” bersama anak-anak usia dini [TPQ Ponpes As’adiyyah / Kedungkandang, Bumiayu, Malang].
Kegiatan ini berlangsung pada [Senin, 18 Mei 2026] ini bertujuan untuk membumikan 4 konsensus dasar kebangsaan – pancasila , UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka tunggal ika, dalam dunia anak yang penuh warna dan imajinasi. Mengingat sasarannya adalah anak-anak usia dini, pendekatan yang digunakan murni berbasis bernyanyi dan berkreasi bersama.
Penelitian ini menggunakan metode Project-Based Learning (PJBL) yang akan dipadukan dengan Pendekatan Bermain dan Belajar (Play-Based Learning) bagi anak usia dini. Melalui metode ini, mahasiswa tidak sekedar menyampaikan teori kewarganegaraan secara searah, melainkan memfasilitasi anak-anak untuk menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan secara langsung melalui aktivitas fisik dan kreativitas.
Secara sistematis metode ini dibagi tiga alur utama, yaitu :
1. Tahap perencanaan (Pleaning)
• Identifikasi Mitra : Menentukan dan melakukan observasi awal terhadap karakteristik anak usia dini dilokasi kegiatan [TPQ Ponpes As’adiyyah Malang]
• Perancangan modul kegiatan : Menyusun konsep permainan “tebak lagu wajib nasional”.
• Penyediaan logistik : Menyediakan media fisik berupa leptop, alat tulis, seta kertas teks lagu.
2. Tahap pelaksanaan (Action)
Kegiatan dilakukan dengan teknik intraksi persuasif-komunikatif yang berfokus pada anak (Child-cantered). Proses pengumpulan data perilaku anak dilakukan melalui “Observasi pertisipatif” dimana mahasiswa ikut terjun langsung ke dalam kegiatan untuk mengamati aspek-aspek berikut :
• Antusiasme dan fokus anak saat menyanyikan lagu wajib nasional.
• Indikator toleransi, kesabaran, dan kemampuan gotong royong anak saat menyelesaikan misi bersama.
• Kemampuan motorik halus serta pembelajaran terhadap lagu wajib nasional yang akan dinyanyikan.
3. Tahap analisis dan pelaporan (Reflection & Reporting)
• Refleksi nilai : Mahasiswa menganalisis tindakan anak selama kegiatan berdasarkan kesesuaian dengan indikator 4 konsensus dasar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan, Bhinneka tunggal ika).
• Penyusunan berita : Hasil observasi dan dokumentasi dilapangan kemudian di konversi ke dalam artikel berita yang komunikatif agar layak dipublikasikan ke media publikasi digital.
Hasil dan Pembahasan
Sejak pukul 14.00 WIB, suasana dilokasi kegiatan sudah tampak bersemangat. Sebanyak 4-6 anak yang sudah berkumpul adapun acara yang di awali dengan antusias yang sangat luar biasa yang membakar semangat dengan menyanyikan lagu “Indonesia raya dan lagu maju tak gentar” sambil bertepuk tangan berirama, anak-anak dengan lantang mengikuti lirik lagu, menciptakan atmosfer nasionalisme yang kental namun tetap semangat dan ceria.
Masuk ke kegiatan yang pertama mahasiswa mampu mengajak anak-anak bernyanyi lagu wajib nasional serta diiringi irama tepukan tangan sehingga anak-anak sangat bersemangat dalam bernyanyi. Tidak sampai di situ saja, anak-anak mampu mengetahui dan mampu mencermati teks lirik lagu wajib nasional didalamnya “Lagi Indonesia raya dan lagu maju tak gentar”. Dan mahasiswa mampu menjelaskan makna-makna dari lagu wajib nasional diantaranya :
• Lagu Indonesia Raya
❖ Menumbuhkan rasa cinta tanah air indonesia.
❖ Semangat membangun negeri.
❖ Suatu kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
• Lagu Maju Tak Gentar
❖ Semangat pantang menyerah.
❖ Keberanian membela bangsa.
❖ Menumbuhkan jiwa patriotisme dan perjuangan serta membangun kerja sama dan mempersatukan rakyat indonesia.
➢ Lagu ini mengajarkan anak-anak usia dini agar dari sekarang anak-anak berani, kuat, dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, cinta tanah air, serta tetap semangat dalam menjaga persatuan bangsa.
➢ Meskipun dikemas dalam konsep bernyanyi esensi utama dari 4 konsensus dasar kebangsaan tetap melekat kuat dalam setiap sesi kegiatan :
• Nilai pancasila (Kekeluargaan, Keadilan, dan Pembangunan jiwa) o Implementasi pada lagu : Di dalam lagu Indonesia raya, terdapat lirik mendalam “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”.
o Esensinya : Lirik ini sejalan dengan nilai pancasila yang mengutamakan pembangunan moral, karakter, dan rasa keadilan sosial sebelum membangun hal-hal fisik. Sifat kekeluargaan juga terpancarkan dari lirik “Bangsaku, rakyatku, semuanya”. Yang mengajarkan anak-anak bahwa seluruh rakyat Indonesia adalah satu keluarga besar yang berhak mendapatkan keadilan dan kebahagiaan yang sama.
• Nilai UUD Tahun 1945 (Ketaatan Hukum dan Aturan)
o Implementasi pada lagu : Didalam lagu Maju Tak Gentar, terdapat penegasan “Maju tak gentar, membela yang benar”.
o Esensinya : Konsep “membela yang benar” merupakan fondasi dari supremasi hukum yang diatur dalam UUD 1945. Anak-anak diajarkan bahwa keberanian mereka harus berpijak pada kebenaran, aturan, keadilan, bukan sekedar mengikuti emosi.
• Nilai NKRI (Persatuan bangsa) o Implementasi pada lagu : kalimat ikonik dalam lagu indonesia raya berbunyi “Marilah kita berseru, indonesia bersatu”.
o Esensinya : Ini adalah manifestasi mutlak dari nilai NKRI. Melalui lirik ini anak-anak diajak untuk memiliki rasa cinta tanah air dan kesadaran menjaga keutuhan wilayah negara.
• Nilai Bhinneka tunggal ika (Toleransi & Gotong royong) o Implementasi pada lagu : Lagu maju tak gentar, kata-kata “maju serentak, mengusir penyerang”dilantunkan dengan sangat tegas dan semangat.
o Esensinya : “Serentak” murni melambangkan semangat gotong royong dan persatuan ditengah perbedaan, anak-anak yang hadir dapat menghargai teman yang berbeda suku, agama, atau karakter (toleransi) untuk bergerak bersama hingga mencapai tujuan.
Kegiatan ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam, baik bagi anak-anak usia dini maupun bagi mahasiswa sendiri. Senyum lebar dan kebersamaan yang hangat inilah anak-anak di akhir acara menjadi tanda bahwa pesan kasih sayang dari kebersamaan dihari itu sampai ke hati mereka masing-masing.
Dan melalui kegiatan sederhana inilah diharapkan benih-benih cinta tanah air, toleransi, dan jiwa gotong royong sudah mulai tumbuh didalam sanubari mereka. Anak usia dini adalah peniru yang ulung : jika hari ini kita mencontohkan indahnya persatuan, maka dimasa depan mereka akan tumbuh menjadi warga negara yang siap menjaga keutuhan bangsa dengan cara yang damai dan harmonis.
Harapan besar kami sebagai mahasiswa, benih-benih karakter luhur yang bersumber dari 4 konsensus dasar kebangsaan, ini dapat tumbuh subur dan mengakar kuat dalam sanubari mereka, seiring bertambahnya usia. Karena anak-anak usia dini adalah peniru yang ulung, sekaligus penerus warisan bangsa. Jika sejak dini kita konsisten mengenalkan contoh indahnya hidup bertoleransi, cinta tanah air, mereka akan tumbuh menjadi generasi emas yang siap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang damai, cerdas, dan harmonis.
𝑅𝑎𝑠𝑦𝑎 𝐴𝑚𝑟𝑢, 225010150031, 𝑆𝑦𝑎𝑙𝑧𝑎 𝐾ℎ𝑎𝑖𝑟𝑖𝑛𝑛𝑖𝑠𝑎 𝐾𝑒𝑙𝑟𝑒𝑦, 225010150172
𝑈𝑛𝑖𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐼𝑠𝑙𝑎𝑚 𝑀𝑎𝑙𝑎𝑛𝑔12
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































