Baru-baru ini, agak sulit untuk membuka TikTok atau Instagram tanpa melihat konten tentang pakaian. Mulai dari rekomendasi pakaian, pembelian belanja, hingga promo besar dari berbagai merek fashion terus muncul di halaman depan media sosial.
Tren berganti begitu cepat. Hari ini gaya pakaian tertentu jadi trending, beberapa minggu kemudian muncul tren baru yang lebih menarik lagi.
Di tengah fenomena tersebut, Generasi Z sering kali jadi pihak yang paling diperhatikan. Banyak orang menganggap generasi Gen Z sebagai generasi yang suka belanja banyak dan terpengaruh oleh tren fast fashion. Menurut saya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Tentu saja, tidak bisa dibantah bahwa fenomena fast fashion kini semakin dekat dengan kehidupan para pemuda. Harga yang tidak terlalu mahal dan kemudahan membeli pakaian melalui toko online membuat pembelian bisa dilakukan dalam beberapa menit saja.
Penelitian oleh Fitri, Kusumaningrum, dan Irfani (2025) menunjukkan bahwa rasa takut ketinggalan (FOMO), tren pakaian, harga, desain, serta kualitas produk menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli pakaian fast fashion di kalangan Generasi Z di Indonesia.
Algoritma Media Sosial dan Godaan Belanja Online
Namun, menurut saya, menyederhanakan isu mode cepat hanya sebagai kesalahan Generasi Z justru mengabaikan akar masalah yang lebih dalam. Anak muda sekarang hidup di lingkungan digital yang setiap hari mendorong mereka untuk belanja melalui algoritma, iklan yang personal, dan tren yang berubah sangat cepat.
Ketika seseorang sering melihat konten fesyen di media sosial, platform akan terus menampilkan berbagai rekomendasi produk, diskon, dan tren terbaru yang sesuai dengan ketertarikan mereka. Akibatnya, keinginan membeli sering muncul meskipun produk tersebut belum benar-benar diperlukan.
Di sisi lain, dampak dari fast fashionbukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan volume limbah tekstil yang dihasilkan di Indonesia mencapai sekitar 2,3 juta ton setiap tahunnya.
Jika cara produksi dan penggunaan saat ini tidak berubah, angka tersebut diperkirakan akan naik hingga sekitar 70 persen dan bisa mencapai 3,9 juta ton pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan bahwa di balik harga pakaian yang murah, terdapat masalah lingkungan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
Lahirnya Kesadaran Baru dan Teori Penerimaan Aktif
Meski begitu, saya melihat ada hal lain yang sering terlewatkan. Tidak semua Gen Z menerima tren fast fashion dengan cara yang sama. Sekarang ini semakin banyak anak muda yang mulai menyadari bagaimana industri pakaian berdampak pada lingkungan.
Tren memakai pakaian bekas, penggunaan baju yang sudah dipakai sebelumnya (preloved), hingga konsep berpakaian minimalis mulai ramai dibicarakan. Menariknya, media sosial yang sering dikritik karena memicu budaya konsumtif justru juga menjadi tempat munculnya kesadaran baru mengenai cara konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Fenomena ini membuktikan bahwa media sosial dapat menghasilkan respons yang berbeda pada setiap orang. Ada yang terdorong membeli pakaian baru demi tren, tetapi ada pula yang justru mulai tertarik pada thrifting atau konsep capsule wardrobe.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pengguna media sosial bukanlah penerima pesan yang pasif. Setiap individu memiliki cara sendiri dalam menafsirkan informasi sesuai dengan nilai yang mereka miliki. Pandangan ini sejalan dengan Teori Penerimaan Aktif yang melihat audiens sebagai pihak yang berperan aktif dalam memberi makna terhadap pesan media.
Menurut saya, masalah fast fashion ini tidak boleh hanya dilihat dari jumlah baju yang dibeli oleh generasi muda saja. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat bisa lebih bijak dalam memilih dan mengonsumsi. Membeli pakaian baru bukanlah sesuatu yang salah, masalah baru muncul ketika seseorang membelinya secara berlebihan tanpa memikirkan dampaknya.
Akhirnya, tidak semua Gen Z terjebak dalam tren fast fashion. Di tengah tantangan lingkungan yang semakin jelas, langkah kecil seperti membeli sesuai kebutuhan, memakai pakaian lebih lama, atau memilih produk ramah lingkungan mungkin terasa biasa saja. Namun, justru dari pilihan-pilihan kecil itulah perubahan besar bisa dimulai.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































