MALANG, 27 Juni 2026 – Belajar tentang simbol-simbol negara… kerap dianggap membosankan bagi anak usia dini. Namun, anggapan itu ternyata keliru. Justru sebaliknya, jika dikemas dengan metode bermain dan bercerita, materi persahabatan ini bisa menjadi momen paling dinanti oleh para siswa.
Hal tersebut terbukti dalam kegiatan pengenalan simbol negara yang digelar di KB/RA Muslimat NU I, Lowok w aru Malang, pada Rabu, 10 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan suasana belajar yang ceria melalui sesi mendongeng ( storytelling ) dan permainan tebak-tebakan interaktif yang melibatkan seluruh siswa.
Dongeng sebagai Pintu Masuk Nilai-Nilai Kebangsaan
Kegiatan dibuka dengan sesi storytelling yang dibawakan dengan ekspresif oleh para pendamping Universitas Islam Malang. Alih-alih menjelaskan definisi Pancasila secara teoritis, cerita yang diangkat mengisahkan petualangan lima sahabat hewan yang masing-masing mewakili sila-sila Pancasila. Ada si Kancil yang adil, Burung Hantu yang bijaksana, dan Semut yang gemar gotong royong.

Melalui narasi ini, anak-anak diajak berimajinasi bahwa nilai-nilai luhur bangsa bukanlah hafalan mati, melainkan perilaku sehari-hari yang menyenangkan. Antusiasme anak-anak terlihat jelas dari mengumpulkan mata mereka yang penuh perhatian dan pertanyaan-pertanyaan polos yang muncul saat sesi tanya usai jawab mendongeng. Mereka seolah-olah larut dalam cerita tersebut, memahami bahwa menjadi anak Indonesia berarti harus saling membantu dan jujur.

Permainan Kreatif Melatih Ingatan Visual
Memasuki sesi kedua, suasana kelas berubah semakin riuh namun tertib saat permainan tebak-tebakan dimulai. Kakak pendamping memegang kartu bergambar simbol negara mulai dari gambar bintang, rantai, pohon beringin, hingga kepala banteng dan meminta anak-anak menyebutkan nama simbol beserta makna singkatnya.
“Simbol apa yang bentuknya berkaitan?” tanya kakak pendamping. “Rantai!” seru anak-anak serempak sambil mengangkat tangan. Metode gamifikasi ini ternyata sangat efektif untuk melatih daya ingat visual anak. Tidak hanya sekadar menebak gambar, anak-anak juga diajak menirukan gerakan atau suara yang berkaitan dengan simbol tersebut, sehingga pembelajaran melibatkan aspek kinestetik dan auditori sekaligus.
Menanamkan Konsensus Kebangsaan sejak Dini
Di balik keseruan permainan tersebut, terkandung nilai-nilai kewarganegaraan yang mendalam. Kegiatan ini secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai konteks kebangsaan, terutama sila pertama dan ketiga Pancasila. Saat anak-anak belajar menghormati simbol Garuda dan Bendera Merah Putih sejak dini, mereka sedang membangun fondasi identitas nasional.

Selain itu, proses bermain bersama teman sebaya selama tebak-tebakan mengajarkan nilai demokrasi dan toleransi; anak belajar menunggu giliran, menerima kekalahan dengan lapangan dada, dan merayakan kemenangan teman tanpa menontonnya. Peran pelajar atau kakak pendamping di sini sangat krusial sebagai fasilitator yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga memodelkan sikap sopan santun dan kasih sayang, mencerminkan karakter bangsa yang ingin dibangun.
Keterangan Foto: Senyum ceria siswa RA Muslimat NU I Bersama kakak pendamping mengakhiri rangkaian kegiatan pengenalan simbol negara
Harapan untuk Generasi Emas
Kesan positif begitu terasa hingga akhir kegiatan. Wajah-wajah lelah namun bahagia terpampang saat anak-anak pulang membawa stiker bintang dianugerahi karena telah berhasil “menjadi warga negara cilik yang hebat”. Bagi para pendidik dan orang tua, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu formal dan kaku. Pendekatan yang humanis dan menyenangkan justru lebih mudah diserap oleh alam bawah sadar anak.
Sebagai penutup, harapan besar digantung pada generasi emas ini. Diperkenalkannya simbol negara sejak usia dini di KB/RA bukan bertujuan agar anak hafal butir-butir Pancasila di luar kepala, melainkan agar rasa cinta tanah air tumbuh secara alami dalam diri mereka. Semoga langkah kecil melalui dongeng dan teka-teki hari ini dapat bermuara pada terbentuknya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa nasionalisme yang kuat dan karakter yang mulia di masa depan. Sesungguhnya, mencintai negeri ini berawal dari mengenalnya dengan cara yang menyenangkan.
Elis Rahmawati & Ummu Latifah
Mahasiswa Semester 2 Kelompok 5 Universitas Islam Malang di
RA Muslimat NU I
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































