Digitalisasi sistem moneter global tampaknya sedang memasuki babak baru yang sangat seru untuk diikuti. Di tengah ramainya perbincangan soal aset kripto dan stablecoin, bank-bank sentral dunia ternyata tidak tinggal diam. Mereka mulai berlomba menerbitkan mata uang digital resmi mereka sendiri, atau yang dikenal dengan istilah Central Bank Digital Currency (CBDC).
Namun, jika kita bicara siapa yang paling depan dan paling ambisius dalam tren ini, jawabannya sudah pasti satu: China.
Lewat proyek Digital Yuan atau e-CNY yang dikembangkan oleh People’s Bank of China (PBoC), Negeri Tirai Bambu ini sukses menjadi raksasa ekonomi pertama yang berani menguji coba mata uang digital ritel dalam skala masif kepada publik internasional, salah satunya pada ajang Olimpiade Musim Dinata Beijing.
Lalu, apa sebenarnya peran nyata Digital Yuan dalam mengubah lanskap keuangan internasional? Apakah ini sekadar modernisasi alat pembayaran domestik, atau ada agenda strategis yang jauh lebih besar di baliknya?
(Mendobrak Dominasi Swasta dan Menjaga Kedaulatan Moneter)
Di dalam negerinya sendiri, kehadiran Digital Yuan punya misi penting untuk menertibkan pasar. Selama bertahun-tahun, ekosistem pembayaran digital di China praktis dikuasai oleh duai raksasa teknologi swasta, yaitu Alipay (Alibaba) dan WeChat Pay (Tencent). Dengan statusnya sebagai alat pembayaran sah (legal tender) yang wajib diterima oleh siapa saja, e-CNY hadir sebagai “super account” universal untuk mendobrak dominasi raksasa swasta tersebut sekaligus mengembalikan kendali moneter ke tangan negara. Namun, daya pikat e-CNY yang paling menarik perhatian dunia adalah potensinya sebagai katalis internasionalisasi mata uang Renminbi (RMB).
Selama ini, perdagangan internasional selalu bergantung pada dolar Amerika Serikat dan sistem pengiriman uang internasional konvensional seperti SWIFT. Nah, Digital Yuan ini menawarkan infrastruktur pembayaran baru. Dengan e-CNY, negara-negara mitra dagang China bisa bertransaksi langsung lintas batas tanpa perlu lewat jalur perbankan barat yang berbasis dolar AS. Bagi negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada Amerika, inovasi moneter dari China ini tentu menjadi alternatif yang sangat menggiurkan.
(Fitur Khas: Bisa Dipakai Tanpa Internet!)
Salah satu keunggulan teknis Digital Yuan yang dirancang secara spesifik dan tidak dimiliki oleh dompet digital biasa adalah fitur pembayaran offline ganda (dual offline payment).
Dengan fitur ini, transaksi tetap dapat diselesaikan bahkan ketika kedua pihak yang bertransaksi sama sekali tidak memiliki akses internet ataupun Wi-Fi, selama perangkat ponsel pintar mereka masih menyala. Dari perspektif inklusi keuangan, ini adalah terobosan signifikan bagi jutaan penduduk di wilayah terpencil.
Selain itu, e-CNY juga menerapkan prinsip anonimitas terkendali (controllable anonymity). Untuk transaksi kecil sehari-hari, masyarakat hanya perlu mendaftarkan nomor telepon tanpa perlu menautkan ke rekening bank sehingga privasi terjaga. Namun, untuk transaksi besar, verifikasi identitas yang lebih ketat tetap diberlakukan guna mencegah aktivitas ilegal. Satu lagi karakteristiknya yang khas: mata uang digital ini tidak memiliki biaya transaksi dan tidak berbunga, karena ia merupakan perpanjangan digital dari uang tunai fisik.
(Implikasi Terhadap Stabilitas Sistem Perbankan)
Meski menawarkan efisiensi inovasi yang luar biasa, kehadiran Digital Yuan tetap membawa risiko sistemik yang tidak boleh diremehkan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah risiko disintermediasi perbankan.
Karena Digital Yuan dirilis langsung oleh bank sentral, instrumen ini secara inheren bebas dari risiko kredit dan likuiditas. Jika masyarakat secara rasional memilih memindahkan sebagian besar uang tabungan mereka dari bank komersial ke dalam e-CNY, bank biasa akan kehilangan sumber pendanaan murah mereka. Dampaknya, biaya dana perbankan akan meningkat dan suku bunga kredit bisa ikut melonjak naik, yang pada gilirannya berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi riil.
Lebih dari itu, risiko digital bank run (penarikan uang massal secara digital) menjadi kerentanan struktural yang mengintai. Berbeda dengan sistem konvensional yang dihambat oleh friksi fisik, e-CNY memungkinkan perpindahan dana secara instan hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel tanpa batasan waktu. Kepanikan finansial sekecil apa pun bisa menjalar menjadi krisis likuiditas sistemik dalam hitungan menit.
(Respons Negara Lain dan Tatanan Moneter Baru)
Kemajuan China dalam pengembangan e-CNY telah memicu efek domino yang nyata bagi pergeseran tatanan moneter global. Banyak bank sentral di berbagai belahan dunia kini berlomba-lomba mengembangkan proyek CBDC mereka sendiri. Di Asia, India telah meluncurkan e-Rupee secara bertahap sejak akhir tahun 2022 dengan volume transaksi yang berkembang pesat.
Bagaimana dengan Indonesia? Bank Indonesia sendiri saat ini sedang merancang Proyek Garuda untuk menerbitkan Rupiah Digital Menekankan kedaulatan moneter digital, Indonesia memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dan terstruktur demi menjaga stabilitas sistem keuangan yang sudah ada.
Sebaliknya, Federal Reserve Amerika Serikat justru memilih bersikap sangat berhati-hati dan skeptis terhadap urgensi CBDC. Sikap ini wajar, mengingat keuntungan struktural yang dinikmati AS selama ini dari status dolar AS sebagai mata uang cadangan global.
Pada akhirnya, Digital Yuan merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar modernisasi alat pembayaran. Ini adalah cerminan dari persaingan fundamental tentang bagaimana sistem moneter global abad ke-21 seharusnya diorganisir, dan siapa yang akan memegang kendali atas infrastruktur dasarnya di masa depan.
Ditulis Oleh : Adriyan Wawin, Universitas Cendrawasih Jayapura
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
































































