Kudus – SMPN 2 Jati Kudus terpilih sebagai salah satu sekolah dalam program CERAH (Cinta Lingkungan Rendah Emisi Tangguh Iklim), program dari Djarum Foundation yang mendorong sekolah membentuk kebiasaan peduli lingkungan melalui aksi rendah emisi serta ketangguhan menghadapi perubahan iklim. Dalam pelaksanaannya, SMPN 2 Jati Kudus meluncurkan inisiatif lokal bertajuk “GEMA SABIT DUJAKU” (Gerakan Memilah Sampah dan Bijak Listrik) sebagai aksi nyata di lingkungan sekolah.
Salah satu tim program CERAH SMPN 2 Jati Kudus, Ella Ayuningtyas, menjelaskan bahwa program tersebut dimulai dari seleksi sejak akhir tahun 2025. Dari 10 sekolah yang mendaftar, peserta disaring hingga tersisa enam sekolah yang terpilih mengikuti pendampingan.
“Seleksinya dari 10 sekolah, kemudian mengerucut jadi 8, dan terakhir menjadi 6 sekolah yang sekarang mengikuti program,” jelas Ella.
Enam sekolah tersebut meliputi SMPN 2 Jati, SMPN 1 Gebog, MTs NU Banat, SD Masehi, MI Al-Tanbih, dan SD IT Al-Islam. Setelah terpilih, keenam sekolah tersebut mendapatkan pelatihan serta pendampingan mulai dari bulan Januari hingga bulan Agustus, dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti kampanye dan aksi nyata yang berkaitan dengan cinta lingkungan, rendah emisi, serta ketangguhan iklim. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, masing-masing sekolah akan memamerkan hasil program melalui showcase.
Meskipun program CERAH baru dijalankan melalui pendampingan Djarum Foundation, SMPN 2 Jati Kudus sebenarnya sudah lebih dahulu menerapkan budaya peduli lingkungan. Kehadiran program ini dinilai memperkuat gerakan yang sudah berjalan agar lebih terarah dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang bersih, nyaman, rapi, dan indah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 2 Jati Kudus yang sekaligus menjadi koordinator program, Just Nurkha, menyampaikan bahwa perubahan yang paling signifikan terlihat dari perkembangan karakter siswa. Menurutnya, siswa mulai lebih bertanggung jawab dalam memilah sampah dan berusaha mengurangi sampah plastik dengan membawa tumbler dan tempat makan sendiri.
“Perubahan signifikan terlihat dari karakter siswa yang lebih bertanggung jawab dalam pemilahan sampah dan perilaku mengurangi sampah dengan membawa tumbler serta tempat makan sendiri,” jelasnya.
Selain itu, kesadaran siswa terhadap kebersihan lingkungan sekolah juga meningkat. Dari sisi rendah emisi, siswa mulai konsisten berangkat sekolah menggunakan sepeda atau diantar orang tua.
Dampak program juga dirasakan dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga mulai mengaitkannya dengan isu perubahan iklim sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kehidupan siswa.
“Guru saat ini tidak hanya mengajarkan materi saja, tapi juga mengaitkan dengan isu perubahan iklim. Pembelajaran jadi lebih bermakna,” tambahnya.
Dalam menilai keberhasilan program, sekolah tidak hanya melihat aspek sikap, tetapi juga perubahan perilaku dan budaya sekolah. Indikatornya antara lain kedisiplinan siswa dalam menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, penghematan energi, serta integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran.
Untuk memastikan program terus berjalan dan tidak hanya menjadi tren sesaat, sekolah berencana membudayakan nilai CERAH melalui kegiatan rutin, mengintegrasikannya dalam program sekolah, serta melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar. Sekolah juga akan melakukan evaluasi dan pengembangan secara berkelanjutan untuk memastikan program tetap relevan dan berdampak bagi warga sekolah, khususnya para murid.
“Keberlanjutan dilakukan dengan membudayakan kegiatan rutin, integrasi nilai CERAH, melibatkan orang tua siswa dan masyarakat, serta evaluasi dan pengembangan berkelanjutan,” tutupnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































