Guru sesungguhnya memiliki motivasi yang kuat untuk memberikan edukasi HIV dan Hepatitis B kepada remaja, namun kapasitas pengetahuan konten mereka masih perlu diperkuat secara sistematis.
Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta I melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) berupa lokakarya partisipatif untuk mengidentifikasi kebutuhan guru dalam memberikan edukasi HIV dan Hepatitis B kepada remaja di SMK Al-Hidayah I Jakarta.
Kegiatan yang diikuti oleh 30 orang guru ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) semi-terstruktur dan bertujuan menghasilkan peta kebutuhan guru sebagai landasan pengembangan program edukasi berbasis sekolah yang kontekstual dan berkelanjutan.
“Guru memegang peran strategis sebagai ujung tombak pendidikan yang dapat mempengaruhi perilaku siswa, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam membentuk gaya hidup sehat,” ujar Ketua Tim Pengmas Husnul Khatimah, SST, MKM
Dari hasil FGD, ditemukan bahwa pengetahuan guru bersifat parsial dan tidak merata. Sebagian besar guru masih memiliki miskonsepsi tentang Hepatitis B yang dianggap sama dengan penyakit kuning dan dipercaya menular melalui makanan dan minuman.
“Miskonsepsi tentang jalur penularan Hepatitis B ini menjadi temuan yang paling kritis dan membutuhkan koreksi segera melalui program edukasi berbasis bukti,” kata Tim Pengmas Dr. Hariyanti, SKM, MKM
Meski demikian, secara keseluruhan guru menunjukkan sikap positif dan mendukung edukasi terbuka di lingkungan sekolah. Para guru menyatakan bahwa topik ini sudah tidak lagi tabu dan perlu disampaikan secara mendetail kepada siswa.
“Harus diedukasi secara mendetail, tidak bisa secara umum. Sudah bukan hal tabu, karena generasi sekarang harus disampaikan detail dan jelas sumbernya,” ujar salah satu guru peserta FGD.
Lokakarya ini juga mengidentifikasi sejumlah hambatan yang dihadapi guru. Hambatan personal yang paling dominan adalah keterbatasan pengetahuan, khususnya terkait Hepatitis B. Dari sisi preferensi media, guru secara konsisten memilih video pendek sebagai media edukasi karena dinilai mudah disebarluaskan dan relevan bagi generasi digital, diikuti oleh standing banner sebagai media pajang di lingkungan sekolah.
“Jangan hanya materi penyakit saja, tetapi dampak juga perlu ditekankan agar siswa memahami risiko ke depannya. Masa penularan juga perlu dijelaskan, karena baru ketahuan beberapa tahun kemudian, jadi orang akan merasa aman padahal sudah terinfeksi,” ungkap salah satu guru peserta.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdi dari Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta I yang terdiri dari Husnul Khatimah, Hariyanti, dan Rizkiana Putri berencana mengembangkan media edukasi berupa video pendek dan standing banner berbasis temuan lokakarya ini.
Selain itu, modul edukasi guru juga akan dirancang guna mendorong integrasi topik HIV dan Hepatitis B ke dalam program sekolah secara lebih sistematis, sebagaimana direkomendasikan oleh hasil FGD.
Data WHO (2024) menunjukkan sekitar 40,8 juta orang hidup dengan HIV secara global, sementara 240 juta orang menyandang infeksi Hepatitis B kronis. Di Indonesia, menurut data Kemenkes (hingga Juni 2025) tercatat 4976 anak usia 13-18 tahun dengan HIV, menjadikan edukasi dini di lingkungan sekolah sebagai kebutuhan yang mendesak.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































![Blok M Jadi Surga Nongkrong Gen Z di Jakarta Selatan 34 Kepadatan pengunjung kawasan Blok M
[Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi]](https://siaran-berita.com/wp-content/uploads/2026/06/1000862511-360x180.jpg)








































