Tidak semua mahasiswa datang ke kampus dengan rasa percaya diri yang sama. Sebagian harus menghadapi pandangan miring hanya karena berasal dari daerah tertentu. Di lingkungan kampus di Aceh, masih kerap muncul anggapan bahwa mahasiswa dari desa kurang mampu bersaing, sementara mereka yang berasal dari kota dianggap lebih unggul. Tanpa disadari, prasangka seperti ini perlahan membentuk jarak sosial yang nyata. Di lingkungan kampus Aceh, perbedaan latar belakang asal daerah sering kali menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Mahasiswa yang berasal dari desa kerap dipandang kurang modern, kurang percaya diri, atau bahkan dianggap memiliki kemampuan akademik yang lebih rendah. Sebaliknya, mahasiswa dari kota sering diasosiasikan sebagai individu yang lebih maju, terbuka, dan memiliki keunggulan tertentu. Pandangan seperti ini muncul tidak hanya dalam bentuk penilaian pribadi, tetapi juga tercermin dalam pola pergaulan sehari-hari yang cenderung membentuk kelompok- kelompok berdasarkan kesamaan latar belakang.
Prasangka tersebut kemudian tampak dalam berbagai bentuk perlakuan sosial di lingkungan kampus. Pemberian label terhadap mahasiswa tertentu sering kali dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan individu secara objektif. Mahasiswa dari desa, misalnya, kerap menjadi sasaran candaan yang merendahkan atau dianggap kurang
Ditulis oleh: Andre Maulana (250710113100066), Muhammad Ikhsan(250710113100011)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































