Masa kuliah sering kali digambarkan sebagai fase eksplorasi jati diri yang penuh kebebasan dan pendewasaan. Namun, bagi sebagian besar mahasiswa generasi Z, realitas yang dihadapi jauh dari sekadar berkumpul di kedai kopi atau meributkan revisi makalah. Di balik layar laptop yang menyala hingga dini hari, banyak dari mereka yang diam-diam memikul beban ganda yang tak kasat mata. Mereka tidak hanya berjuang mati-matian untuk mempertahankan indeks prestasi kumulatif, tetapi juga harus menelan kenyataan pahit sebagai generasi sandwich. Menjadi tumpuan harapan keluarga, atau bahkan turut menjadi tulang punggung ekonomi di usia yang masih dalam fase transisi, menciptakan dinamika mental yang sangat kompleks dan sering kali melelahkan.
Fenomena generasi sandwich pada dasarnya merujuk pada individu yang harus merawat generasi di atasnya sekaligus memikirkan masa depannya sendiri. Bagi mahasiswa gen-Z, situasi ini termanifestasi dalam bentuk tekanan masif yang datang dari dua arah yang berlawanan. Di lingkungan kampus, mereka dituntut untuk lulus tepat waktu, aktif berorganisasi, dan memiliki portofolio yang mentereng agar siap menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Sementara itu di rumah, mereka diposisikan sebagai investasi masa depan keluarga. Sebagaimana dijelaskan dalam riset yang diterbitkan oleh Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada (2022) mengenai stres akademik dan ekspektasi keluarga, beban finansial dan emosional yang dititipkan oleh orang tua sering kali menjadi stresor utama yang memicu kecemasan berkepanjangan pada mahasiswa. Mereka merasa tidak memiliki kemewahan untuk gagal atau sekadar mengambil jeda, karena ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi atau pendidikan adik yang harus diamankan.
Dari sudut pandang psikologis, berada di posisi terjepit ini menguras ketahanan mental secara luar biasa. Mahasiswa yang terjebak dalam rantai generasi sandwich sangat rentan mengalami kelelahan emosional kronis atau burnout. Ada perasaan bersalah atau guilt trip yang kerap muncul secara otomatis ketika mereka ingin menggunakan uang atau waktu untuk kesenangan pribadi. Seolah-olah, setiap porsi kebahagiaan individu harus ditebus dengan pengorbanan untuk keluarga. Laporan dari American Psychological Association (2023) mengenai tren kesehatan mental gen-Z menyoroti bahwa generasi ini melaporkan tingkat stres yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, terutama yang berkaitan erat dengan ketidakpastian ekonomi dan beban tanggung jawab keluarga yang dilimpahkan terlalu dini. Mereka seakan dipaksa dewasa sebelum waktunya, melompati fase perkembangan psikologis yang seharusnya mereka nikmati secara wajar.
Namun, di tengah badai tekanan dan tuntutan yang tidak ada habisnya tersebut, terdapat sebuah mekanisme pertahanan psikologis yang sangat menarik untuk ditelaah, yakni bagaimana para mahasiswa ini melakukan penciptaan makna harapan. Bagi mereka, harapan bukan lagi sekadar angan-angan kosong atau optimisme yang buta terhadap realitas. Harapan direkonstruksi menjadi sebuah daya juang eksistensial. Meminjam perspektif psikologi humanistik, ketika seseorang mampu menemukan makna di balik penderitaan dan kelelahannya, ia akan mampu bertahan menghadapi tantangan seberat apa pun. Mahasiswa gen-Z yang merangkap sebagai generasi sandwich sering kali memaknai beban mereka sebagai bentuk bakti, sebuah jembatan penting untuk memutus rantai kesulitan ekonomi keluarga, atau sebagai sarana pembuktian kapasitas diri. Penciptaan makna inilah yang menjadi bahan bakar utama yang membuat mereka tetap tangguh, memampukan mereka untuk tetap bangun setiap pagi, berangkat ke kampus, lalu menyambung hidup dengan mengambil pekerjaan paruh waktu tanpa kehilangan kewarasan.
Kendati para mahasiswa ini memiliki daya lenting yang patut diacungi jempol, menjaga kesehatan mental tetap harus menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Bertahan dan menderita sendirian bukanlah sebuah medali kehormatan, melainkan jalan pintas menuju kehancuran mental. Oleh karena itu, membangun sistem dukungan yang tepat menjadi langkah yang sangat krusial. Sistem dukungan ini bisa diwujudkan melalui lingkaran pertemanan yang tidak menghakimi, komunitas sesama mahasiswa yang senasib, atau keberanian untuk mengakses layanan konseling di kampus. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of College Student Psychotherapy (2023), intervensi melalui dukungan sosial yang suportif terbukti secara signifikan mampu menurunkan gejala depresi pada mahasiswa yang menanggung beban keluarga tingkat tinggi. Selain itu, belajar mengomunikasikan batasan atau boundaries secara asertif dengan keluarga juga menjadi langkah terapeutik yang penting, meskipun hal ini sering kali terasa tabu dan penuh friksi dalam budaya komunal masyarakat kita.
Menjadi mahasiswa gen-Z sekaligus generasi sandwich adalah sebuah realitas berlapis yang membutuhkan empati nyata dari lingkungan sekitar, bukan sekadar pelabelan atau glorifikasi atas kerja keras mereka. Mereka adalah pejuang sunyi yang sedang berusaha menyeimbangkan dua dunia yang sama-sama menuntut kesempurnaan. Meromantisasi kelelahan dan penderitaan mereka bukanlah jawaban yang tepat untuk mengurai masalah ini. Yang paling mereka butuhkan adalah ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi, sistem akademik yang jauh lebih suportif dan fleksibel, serta pengakuan tulus bahwa sesekali merasa lelah, marah, atau ingin menyerah adalah emosi yang sangat manusiawi. Bagi para mahasiswa yang saat ini sedang berada di posisi tersebut, ketahuilah bahwa perasaan terbebani itu sepenuhnya valid, dan perjalanan panjang dalam mencari makna di tengah ekspektasi yang menggunung adalah sebuah proses pendewasaan yang luar biasa berharga.
Ditulis Oleh : Badriah, Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang
Dosen Pembimbing: Thea Umbarasari, S.Pd., M.Pd.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































