Unilever merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang Fast Moving Consumer Goods (FMCG), kategori produk kebutuhan sehari-hari yang perputarannya cepat di pasar. Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, perusahaan sebesar Unilever tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional dalam memasarkan produknya. Dibutuhkan sebuah Sistem Informasi Pemasaran (SIP) yang mampu mengolah data pasar, memahami perilaku konsumen, dan pada akhirnya meningkatkan daya saing produk di tengah gencarnya kompetisi antar merek.Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah sistem pemasaran Unilever secara mendasar, dari yang sebelumnya bersifat tradisional menjadi pemasaran berbasis data atau yang dikenal dengan istilah data-driven marketing.
Dari Laporan Manual ke Data Real-Time
Indah Saputri, SBA Unilever, menceritakan bagaimana proses pengumpulan informasi pasar dilakukan pada masa lalu, khususnya di tingkat toko seperti Fortuna Swalayan. Menurutnya, dahulu informasi tentang kebutuhan pasar di toko tersebut biasanya hanya diperoleh dari laporan penjualan dan survei yang dilakukan secara manual. Proses semacam itu, ia mengakui, cukup memakan waktu dan membuat perusahaan kesulitan mengetahui perubahan tren konsumen secara cepat. Kondisi tersebut kini telah berubah jauh. Unilever telah beralih menggunakan sistem informasi pemasaran berbasis digital yang terintegrasi dengan data media sosial, platform ecommerce, hingga analisis perilaku konsumen secara real-time. Perubahan ini, menurutnya, membuat strategi pemasaran perusahaan menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Pernyataan Langsung Indah Saputri, SBA Unilever
Berikut kutipan langsung Indah Saputri mengenai perubahan sistem informasi pemasaran yang terjadi di Unilever.
Mengenai cara lama dalam memperoleh informasi pasar, Indah Saputri mengungkapkan:
“Dulu, informasi tentang kebutuhan pasar di Fortuna Swalayan ini biasanya diperoleh dari laporan penjualan dan survei manual. Prosesnya cukup lama dan tidak bisa langsung mengetahui perubahan tren konsumen secara cepat,” jelasnya.
Sementara mengenai kondisi sistem pemasaran Unilever saat ini yang sudah berbasis digital,
Indah Saputri menjelaskan:
“Saat ini semua data pemasaran sudah berbasis digital. Kami bisa melihat tren konsumen dari media sosial, hasil penjualan online, hingga feedback pelanggan secara langsung. Hal ini membuat strategi pemasaran lebih cepat dan tepat sasaran,” ungkapnya.
Perbandingan Pemasaran Dulu dan Sekarang
Transformasi yang dialami Unilever ini menggambarkan pergeseran besar dalam dunia pemasaran secara umum. Pada masa lalu, pemasaran banyak bergantung pada media konvensional seperti televisi, radio, dan koran, dengan pola komunikasi yang cenderung satu arah dari perusahaan ke konsumen. Data konsumen yang dimiliki perusahaan pun masih sangat terbatas, sehingga sulit bagi perusahaan untuk mengukur respons pelanggan secara akurat terhadap suatu produk atau kampanye iklan.Sebaliknya, pemasaran di era sekarang memanfaatkan media digital seperti media sosial,situs web resmi, dan marketplace. Komunikasi yang terjalin pun bersifat interaktif dan dua arah antara perusahaan dengan konsumen. Dengan dukungan data analytics dan kecerdasan buatan (AI), perusahaan dapat merespons kebutuhan pasar dengan jauh lebih cepat dan tepat sasaran dibandingkan era sebelumnya.Komponen Sistem Informasi Pemasaran UnileverSecara garis besar, sistem informasi pemasaran yang diterapkan Unilever mencakup beberapa komponen utama, mulai dari pengumpulan data dari berbagai platform media sosial, analisis tren pasar, pengambilan data penjualan dari jaringan ritel maupun e-commerce, hingga penghimpunan feedback pelanggan yang disampaikan secara online. Seluruh data yang terkumpul tersebut kemudian diolah dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan strategis perusahaan, antara lain dalam menentukan strategi iklan yang paling efektif, mengembangkan produk baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta menentukan target pasar yang lebih spesifik dan terukur.
Kelebihan dan Kekurangan Sistem
Penerapan sistem informasi pemasaran berbasis digital ini membawa sejumlah keuntungan nyata bagi Unilever. Strategi pemasaran perusahaan menjadi lebih akurat karena didasarkan pada data nyata di lapangan, respons konsumen pun dapat diketahui dengan cepat, dan pada akhirnya daya saing produk di pasar dapat meningkat secara signifikan.Meski demikian, sistem ini bukan tanpa konsekuensi. Penerapannya membutuhkan dukungan teknologi yang cukup tinggi, sehingga biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk membangun dan memelihara sistem tersebut juga cukup besar. Selain itu, ketergantungan pada data digital dalam skala besar juga membawa risiko tersendiri, terutama terkait potensi kebocoran data yang harus terus diwaspadai dan diantisipasi oleh perusahaan.
Penutup
Transformasi sistem informasi pemasaran yang dilakukan Unilever, termasuk dalam memantau kebutuhan pasar di toko-toko seperti Fortuna Swalayan, menjadi gambaran nyata bagaimana teknologi digital telah mengubah cara perusahaan memahami dan melayani konsumennya. Dari yang dulunya mengandalkan laporan manual dan survei yang lambat, kini Unilever mampu membaca tren pasar secara real-time melalui data media sosial, e-commerce, dan feedback pelanggan. Meskipun masih menyisakan tantangan dari sisi biaya dan keamanan data, langkah ini terbukti membuat strategi pemasaran Unilever menjadi lebih akurat, responsif, dan kompetitif di tengah ketatnya persaingan industri FMCG.
Ditulis Oleh : Dewita Alyanti, Dicky Hamzah Angling Darmawan, Febi Siti Afifah, Muhammad Daffa Umaran,Muqoddamah Gusiqoh.
Program Studi Manajemen S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
Dosen Pengampu : Mada Faisal Akbar S.E., M.M
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































