PURWOKERTO – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Rupa (Senru) UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto sukses menggelar ruang diskusi bertajuk “Pura-Pura Rupa: Membaca & Menulis Seni Rupa”. Acara yang berlangsung di Unsoed Campus Cafe pada Sabtu (11/04) malam, berupaya membongkar cara pandang masyarakat terhadap karya seni yang selama ini sering kali hanya berhenti di permukaan visual.
Filosofi di Balik “Pura-Pura Rupa”
Nama diskusi ini bukan sekadar permainan kata. Panitia menjelaskan bahwa “Pura-Pura” dalam konteks ini menggambarkan kondisi psikologis di mana seseorang merasa sudah tahu tentang sebuah karya, namun sebenarnya belum sungguh-sungguh memahami konteks, proses, dan wacana yang melatarbelakanginya.
Melalui forum ini, seni rupa tidak lagi diposisikan sebagai objek diam, melainkan sebagai “teks” yang bisa dibaca, ditafsirkan, dan dituliskan kembali secara kritis oleh penikmatnya.
Seni Sebagai Gerakan Hidup
Narasumber pertama, Rasman Maulana, seorang seniman dan kurator, menekankan bahwa seni rupa memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar barang pajangan.
“Seni rupa bukan sekadar karya yang diam, melainkan sebuah gerakan yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Seni rupa dapat dipahami sebagai sebuah movement atau gerakan,” tegas Rasman dalam sesi diskusi.
Peran Aktif Penonton
Senada dengan hal tersebut, Polanco S. Achri selaku esais dan kritikus seni rupa, menyoroti posisi krusial penonton dalam ekosistem seni. Menurutnya, literasi seni dimulai ketika penonton mulai berinteraksi secara aktif dengan karya.
“Seorang penonton tidak hanya melihat karya seni rupa secara pasif, tetapi juga mampu membaca dan menuliskan kembali pengalaman yang ia rasakan dari karya tersebut,” ujar Polanco.
Dukungan Lintas Komunitas
Diskusi yang dipandu oleh Celine Afelindia A, ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya seniman, tetapi juga menjadi titik temu lintas disiplin. Hal ini terlihat dari deretan mitra yang mendukung, mulai dari Komunitas Sastra Dua-Belas Pena, Midori Institute, Visi Visual, Wirasena Analisa, Unsoed Campus Cafe, hingga Penerbit Buku Mata Nusantara. Kehadiran gerakan Tukar Buku Tukar Cerita (TBTC) juga semakin memperkuat nuansa literasi dalam diskusi tersebut.
Dengan adanya diskusi ini, UKM Senru berharap para penggiat seni di Purwokerto dan sekitarnya dapat lebih berani untuk mulai mendokumentasikan pemikiran mereka melalui tulisan, sehingga diskursus seni rupa di level lokal tetap terjaga dan terus bertumbuh.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































