Ketika kandungan memasuki bulan ketujuh, perempuan Jawa itu tidak hanya sibuk mempersiapkan perlengkapan bayi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus disiapkan—doa, air bunga, dan kehadiran orang-orang tercinta. Di Unit 5, Desa Babussalam, Baktiya, Aceh Utara, seorang ibu muda bernama Siska Wani (28) masih memegang teguh tradisi itu.
Tradisi itu bernama tingkepan—upacara adat Jawa yang digelar saat kehamilan genap tujuh bulan. Di tengah masyarakat yang kian modern, tingkepan bukan sekadar ritual yang diwariskan turun-temurun. Bagi mereka yang menjalaninya, ia adalah bentuk permohonan, harapan, dan rasa syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Tujuannya untuk mendoakan keselamatan ibu dan bayi, serta memohon kelancaran saat persalinan,” ujar Siska saat ditemui di kediamannya. Kalimat itu terucap sederhana, tapi menyimpan beban harapan yang tidak ringan—harapan seorang ibu untuk menyambut buah hatinya dengan selamat.
Prosesi tingkepan bukan sekadar formalitas. Ia kaya akan simbolisme. Dimulai dengan siraman—ibu hamil dimandikan dengan air bunga oleh orang tua atau keluarga, sebagai simbol penyucian sekaligus doa. Lalu sang ibu berganti kain jarik sebanyak tujuh kali, masing-masing dengan harapan berbeda: agar hidup si bayi kelak senantiasa baik dan penuh berkah.
Ada pula ritual brojolan—memasukkan telur atau kelapa sebagai simbol persalinan yang lancar—dan memecah kelapa (cengkir) oleh sang ayah. Tindakan kecil itu ternyata sarat makna: kesiapan seorang laki-laki untuk menjadi pelindung keluarga. Semua itu ditutup dengan selamatan, doa bersama yang mengumpulkan keluarga dalam satu niat yang sama.
Meja makan pun tak kalah bercerita. Tumpeng hadir sebagai simbol syukur. Rujak buah dipercaya bisa menebak jenis kelamin bayi—dan entah dari mana kepercayaan itu berasal, tapi tak ada yang benar-benar ingin membuktikan kesalahannya. Ada pula dawet sebagai harapan rezeki yang mengalir, jenang (bubur merah putih) yang melambangkan keseimbangan hidup, ayam ingkung sebagai simbol kepasrahan kepada Tuhan, hingga jajan pasar yang merayakan keberagaman dan kebahagiaan.
Menariknya, Siska yang kini tinggal jauh dari tanah Jawa tetap memilih menjalankan tradisi ini. Di sebuah desa di Aceh Utara, tingkepan tetap hidup—bukan karena kewajiban, tapi karena keyakinan. Bahwa ada hal-hal yang lebih dari sekadar adat: sebuah cara manusia mengucap doa dengan seluruh tubuhnya.
Tujuh bulan. Tujuh helai kain. Tujuh jenis makanan. Dalam angka yang sama, orang Jawa menyimpan doa yang paling dalam—bahwa kehidupan baru yang akan datang, layak disambut dengan segenap cinta.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































