Orangtua yang mendadak harus menghadapi kenyataan bahwa perbuatan anaknya bertentangan dengan nilai yang mereka pegang, lalu menanggung malunya, sebenarnya bukanlah cerita baru. Jauh sebelum era media sosial, Abdoel Moeis sudah menulis persis soal ini dalam novel Salah Asuhan (1928). Tokohnya, Hanafi, disekolahkan sebaik-baiknya oleh sang ibu dengan harapan supaya anaknya menjadi orang pandai, melebihi kaum keluarganya sendiri. Tapi yang tumbuh tidak sesuai bayangan. Hanafi pulang membawa cara pandang asing yang bertentangan dengan nilai ibunya sendiri, mulai dari menolak jodoh pilihan ibu, menikah dengan orang barat, hingga puncaknya adalah melepas kewarganegaraan demi menjadi bangsa barat.
Abdoel Moeis menggambarkan kehancuran hati ibunya yang terlihat pada kutipan:
“Makin lama makin bimbang lah hatinya melihat anak yang kebelanda-belandaan itu.”
Bimbang di sini adalah rasa malu yang dipendam sendirian, karena sang ibu masih terlalu sayang untuk marah. Ibunya hancur, tapi tetap tidak pergi. Hal tersebut dapat juga dilihat pada kutipan berikut:
“Hanafi seolah-olah sudah pula memutuskan tali silaturahim antara ia dan ibunya. Apalagi kalau ia sudah menjadi orang belanda! Keluarlah ia dari kaum kita, pada lahir dan batin!”
Meski demikian, sang ibu tidak pernah berhenti mencintai dan mengkhawatirkan anaknya. Kekecewaan yang ia rasakan tidak menghapus kasih sayangnya sebagai seorang ibu. Ketika Hanafi akhirnya jatuh dan tidak punya siapa-siapa lagi, ibunya setia menanti tanpa menuntut atau mengungkit. Puncaknya, saat Hanafi sekarat setelah menelan racun, ibunya pulalah yang mendampingi.
Kisah klasik ini terasa relevan ketika kita melihat kegaduhan kasus di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang sempat viral belakangan ini. Jagat maya sempat dihebohkan oleh video seorang mahasiswa yang terekam kamera sedang melakukan tindakan asusila sesama jenis di selasar perpustakaan kampus. Di ruang digital yang gemar menghakimi, sorotan publik ikut merembet kepada keluarga. Dalam kasus tersebut, ayah pelaku bahkan sampai datang ke kampus, bersujud di depan kerumunan mahasiswa, dan meminta maaf karena menanggung rasa malu yang luar biasa. Meski tidak bersalah, orang tua harus ikut memikul beban malu dan kekecewaan akibat perbuatan anaknya. Biarpun begitu, dengan segala kebesaran hatinya, sang orang tua memilih untuk tetap merangkul, memaafkan, dan menerima kembali anaknya.
Baik dalam Salah Asuhan maupun dalam realitas saat ini, terlihat bahwa kesalahan seorang anak tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada keluarga yang membesarkannya. Namun, ada satu hal yang tetap sama yaitu kasih sayang orang tua. Mereka mungkin kecewa, marah, atau sedih, tetapi pada akhirnya tetap berusaha menerima dan mendampingi anaknya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































