Selama puluhan tahun, citra Kuliah Kerja Nyata (KKN) hampir selalu identik dengan proyek yang bisa difoto: gapura desa yang baru dicat, plang jalan yang berjejer rapi, atau kerja bakti membersihkan selokan. Semua itu bermanfaat dan kasatmata. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah pengabdian mahasiswa boleh berhenti pada hal-hal yang bisa diresmikan dengan gunting pita? Kegiatan mahasiswa KKN UNTAG Surabaya Sub Kelompok 8 di Desa Sukorejo, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, menawarkan jawaban yang berbeda: pengabdian yang paling substansial justru bisa menyentuh sesuatu yang tidak kasatmata sama sekali, yaitu kesehatan jiwa warga desa. Di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan Pravinska Aldino, S.I.Kom., M.I.Kom., mahasiswa memilih menggelar Pelatihan Manajemen Stres dan Pengelolaan Emosi bagi ibu-ibu PKK setempat, alih-alih menambah satu proyek fisik lagi ke daftar panjang program KKN yang seragam. Materinya mencakup pengenalan stres, faktor pemicunya, dampaknya terhadap kesehatan fisik maupun psikologis, hingga strategi mengelolanya, yang dikemas dalam sesi interaktif berupa diskusi, tanya jawab, dan praktik relaksasi pernapasan. Pilihan ini layak diapresiasi karena menyasar akar persoalan yang sering luput dari perhatian pembangunan desa, yaitu minimnya literasi kesehatan mental di tingkat akar rumput. Riset nasional memperlihatkan bahwa gangguan mental emosional bukan monopoli kota. Data terbaru bahkan mencatat prevalensi di wilayah perdesaan tidak jauh tertinggal dari perkotaan, sementara akses layanan psikologis di desa jauh lebih terbatas ketimbang di kota. Kesenjangan ini diperparah oleh sesuatu yang lebih mendasar daripada soal fasilitas, yakni kosakata. Banyak warga desa tidak memiliki kerangka bahasa untuk menamai apa yang mereka rasakan: stres dianggap sekadar “capek”, kecemasan dianggap “kebanyakan pikiran”, dan hampir tidak ada ruang formal untuk membicarakannya secara terbuka. Beban ini jatuh paling berat pada perempuan, khususnya ibu rumah tangga yang menanggung peran ganda mengurus keluarga sekaligus, pada banyak kasus, ikut menopang ekonomi rumah tangga. Sejumlah kajian menyebut fenomena ini sebagai bentuk kelelahan kronis akibat rutinitas monoton, minimnya dukungan sosial, dan ketimpangan pembagian peran, sesuatu yang oleh sebagian peneliti disebut sebagai “housewife syndrome”. Tanpa ruang untuk mengenali dan mengelola tekanan itu secara sehat, ibu-ibu di desa rentan memendam stres hingga berdampak pada kesehatan fisik, relasi keluarga, bahkan pola asuh terhadap anak. Di titik inilah pelatihan semacam yang digagas mahasiswa KKN Sukorejo menemukan relevansinya: bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan intervensi yang menyentuh langsung sumber tekanan yang selama ini dianggap wajar untuk dipendam. Di sinilah pula letak urgensi KKN sebagai jembatan pengetahuan antara kampus dan desa. Mahasiswa membawa kerangka ilmiah dari bangku kuliah, mulai dari psikologi, ilmu komunikasi, hingga kesehatan masyarakat, lalu menerjemahkannya menjadi bahasa yang bisa dicerna warga dalam sesi tatap muka yang hangat dan partisipatif. Ini adalah wujud nyata dharma pengabdian kepada masyarakat yang idealnya melekat pada setiap program KKN: tidak hanya melatih mahasiswa mengaplikasikan ilmu di lapangan, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif bahwa kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas hidup, sama pentingnya dengan infrastruktur jalan atau sanitasi. Antusiasme ibu-ibu PKK Desa Sukorejo, yang aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman sepanjang pelatihan, adalah bukti paling jujur bahwa kebutuhan ini nyata dan selama ini terpendam, bukan sekadar asumsi di atas kertas proposal kegiatan. Kebutuhan semacam ini juga sebenarnya bukan hal baru bagi negara. Kementerian Kesehatan telah lama menginisiasi program seperti Desa Siaga Sehat Jiwa dan kader kesehatan jiwa di berbagai daerah. Persoalannya, program-program itu sering berhenti di level puskesmas dan belum menjangkau seluruh desa secara merata, apalagi menyentuh kelompok yang paling rentan namun jarang bersuara seperti ibu rumah tangga di pelosok. KKN mahasiswa, dengan jangkauannya yang tersebar di ribuan desa setiap tahun, sesungguhnya memiliki potensi besar untuk mengisi celah itu, asalkan perguruan tinggi mau menjadikannya agenda yang disengaja, bukan sekadar pelengkap program fisik. Karena itu, ke depan, perguruan tinggi dan pemerintah desa perlu mendorong lebih banyak program KKN tematik kesehatan mental, yang dirancang berkelanjutan dan terhubung dengan kader kesehatan jiwa maupun layanan puskesmas setempat, bukan sekadar kegiatan satu kali kunjungan yang usianya berakhir begitu mahasiswa pulang. Sebab gapura bisa lapuk dimakan waktu dan plang jalan bisa pudar catnya, tetapi kesadaran mental yang berhasil tertanam pada warga akan terus bekerja jauh lama setelah spanduk KKN diturunkan dan mahasiswa kembali ke kampus.
Oleh: Dinnar Maulana Ardiwijaya ,Mahasiswa/Peserta KKN,R4 Sukorejo, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































