Siaran Berita, Jakarta, (14/6/2026) — Budaya internet Indonesia kembali diguncang oleh tren lama yang mendadak naik ke permukaan. Belakangan ini, ungkapan “Minggir Lo Misqueen” ramai memenuhi kolom komentar, konten video pendek, hingga meme di berbagai platform. Apalagi sejak kehadiran streamer global, IShowSpeed, ke Indonesia, frasa slang ini kembali memicu diskusi hangat di kalangan netizen.
Fenomena ini bukan sekadar lelucon musiman atau tren sesaat. Ini adalah sebuah pemantik untuk mendiskusikan kembali bagaimana arah perkembangan bahasa gaul generasi muda di era digital, sekaligus menjadi momentum untuk menakar etika berbahasa tersebut melalui kacamata nilai-nilai Pancasila.
Asal-Usul dan Evolusi Bahasa Gaul di Media Sosial
Secara sosiolinguistik, kemunculan kata misqueen merupakan salah satu bukti nyata dari dinamisnya pemakaian bahasa gaul di media sosial. Kata ini merupakan pelesetan fonetis dan gaya penulisan kreatif dari kata dasar “miskin”. Tujuannya? Tentu agar terdengar lebih kebarat-baratan, kekinian, atau memiliki kesan sarkas yang estetis di ruang publik digital Indonesia. Istilah slang ini pun kerap diadopsi sebagai bahan candaan, sindiran, maupun ekspresi spontan untuk melabeli seseorang atau situasi yang dianggap kurang mapan secara finansial.
Para pengamat bahasa menilai bahwa kecepatan penetrasi istilah seperti ini menunjukkan kreativitas luar biasa dari Generasi Z dalam memanipulasi kosakata untuk menciptakan identitas kelompok dan membangun keakraban. Didorong oleh kekuatan algoritma video pendek seperti TikTok dan Instagram Reels, sebuah frasa yang awalnya hanya diucapkan oleh segelintir kreator dapat bertransformasi menjadi bahasa universal netizen dalam hitungan hari. Apalagi ketika figur internasional seperti IShowSpeed berinteraksi dengan komunitas lokal, netizen cenderung menggunakan bahasa slang ini untuk membangun kedekatan dan atmosfer humor yang khas di ruang siaran langsung.
Namun, ketika kata ini terus-menerus diadopsi secara luas untuk melabeli sesama, kita perlu bertanya: sampai di mana batas antara lelucon tongkrongan dan tindakan perundungan siber (cyberbullying)?
Batasan Etika Berbahasa dalam Perspektif Pancasila
Di balik riuhnya tawa digital tersebut, penggunaan ungkapan ini menyisakan persoalan etika yang cukup mendasar. Sebagian besar pengguna internet mungkin berdalih bahwa frasa “Minggir Lo Misqueen” hanyalah sebatas jokes atau sarkasme tanpa niat buruk. Meski begitu, bahasa tetaplah instrumen yang memiliki kekuatan besar untuk mengonstruksi realitas. Jika dibiarkan digunakan secara berulang tanpa filter, ada batas sensitivitas kita yang perlahan akan terkikis, di mana kondisi ekonomi seseorang perlahan berubah menjadi komoditas lelucon belaka. Jika ditarik ke ranah idealisme bernegara, fenomena pergeseran makna ini dapat dikaji secara mendalam melalui tiga sila krusial dalam Pancasila.
Pertama, jika ditinjau dari Sila Kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, kita diajarkan untuk menjunjung tinggi kehormatan dan martabat setiap individu tanpa memandang latar belakang sosial, budaya, maupun ekonomi. Penggunaan istilah yang secara eksplisit menjadikan status finansial sebagai bahan ejekan—meski dibungkus komedi—berpotensi besar melukai perasaan orang lain. Dalam lingkup pertemanan kecil yang sudah saling memahami konteks (circle dengan inside jokes), dampaknya mungkin bisa diredam. Namun, ketika frasa ini dilepas ke ruang publik media sosial yang anonim, maknanya rentan mengalami distorsi dan berubah menjadi bentuk stereotip yang merendahkan.
Kedua, fenomena ini berkaitan erat dengan manifestasi Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Di satu sisi, pemahaman terhadap referensi humor yang sama memang dapat menciptakan rasa kebersamaan (sense of belonging) dan solidaritas di kalangan netizen. Mereka merasa menjadi bagian dari subkultur digital yang sama. Sayangnya, potensi keretakan sosial bisa muncul apabila bahasa gaul ini justru digunakan secara sadar untuk membuat sekat-sekat baru. Ketika ungkapan “Minggir Lo Misqueen” dipakai untuk meremehkan pendapat atau eksistensi kelompok tertentu berdasarkan status ekonomi mereka, bahasa tidak lagi berfungsi sebagai jembatan pemersatu, melainkan sebagai alat segregasi sosial yang memicu sentimen antarkelas.
Terakhir, dari sudut pandang Sila Kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, terdapat nilai luhur yang menuntut kita untuk menumbuhkan sikap tenggang rasa dan menghargai kesetaraan kedudukan sesama warga negara. Menjadikan kemiskinan atau ketidakberdayaan ekonomi sebagai label negatif atau bahan olok-olok sangat bertentangan dengan semangat keadilan dan empati sosial. Alih-alih memperkuat stigma sosial yang sudah ada di masyarakat nyata, ruang digital semestinya bisa dimanfaatkan untuk membangun narasi yang lebih inklusif, suportif, dan peka terhadap ketimpangan sosial yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia saat ini.
Kesimpulan: Menjaga Kompas Moral di Ruang Digital
Pada akhirnya, fenomena viral “Minggir Lo Misqueen” adalah potret dua sisi mata uang dalam lanskap budaya digital kita. Di satu sisi, ia merepresentasikan elastisitas dan daya cipta bahasa gaul yang terus berkembang mengikuti arus tren global. Namun di sisi lain, ini menjadi pengingat penting bahwa kebebasan berekspresi para content creator maupun netizen di internet tidak boleh berjalan tanpa arah.
Nilai-nilai Pancasila hadir bukan untuk mengekang kreativitas berkomedi di dunia maya. Pancasila hadir sebagai kompas moral agar dalam setiap gelak tawa yang kita bagikan di media sosial, tidak ada harkat dan martabat sesama manusia yang harus dikorbankan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































