JAKARTA – “Kalau tidak punya orang dalam, susah masuk.” Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga para pencari kerja di Indonesia. Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberhasilan seseorang memperoleh pekerjaan kerap tidak hanya diukur dari kemampuan, pengalaman, atau prestasi akademik yang dimiliki, tetapi juga dari satu pertanyaan sederhana: siapa yang ia kenal?
Tidak sedikit orang yang kemudian beranggapan bahwa CV yang disusun dengan berbagai pencapaian dan pengalaman dapat dikalahkan oleh satu nomor WhatsApp yang tepat. Fenomena ini populer dikenal dengan istilah ordal atau “orang dalam”. Dalam berbagai percakapan di media sosial, ordal sering dipandang sebagai simbol ketidakadilan. Seseorang dianggap memperoleh pekerjaan bukan karena kompetensinya, melainkan karena memiliki relasi dengan pihak yang berada di dalam organisasi. Akibatnya, muncul anggapan bahwa dunia kerja tidak lagi ditentukan oleh kemampuan, tetapi oleh kedekatan.
Namun, apakah persoalannya sesederhana itu? Apakah keberadaan relasi memang selalu bertentangan dengan prinsip keadilan? Ataukah terdapat persoalan yang lebih mendasar di balik fenomena tersebut?
Dunia Kerja Tidak Pernah Sepenuhnya Netral
Banyak orang membayangkan dunia kerja sebagai arena meritokrasi, yaitu sistem yang memberikan kesempatan kepada individu berdasarkan kemampuan dan prestasi yang dimiliki. Dalam sistem ideal tersebut, siapa pun yang memiliki kompetensi terbaik akan memperoleh peluang terbesar untuk diterima bekerja.
Kenyataannya, dunia kerja tidak pernah sepenuhnya netral. Setiap individu memasuki pasar tenaga kerja dengan sumber daya yang berbeda-beda. Ada yang memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, dukungan finansial yang kuat, maupun lingkungan yang kaya akan jaringan profesional. Di sisi lain, ada pula yang harus berjuang membangun seluruh akses tersebut dari titik awal yang jauh lebih terbatas.
Perbedaan inilah yang sering luput dari perhatian ketika masyarakat membicarakan isu ordal. Yang terlihat hanyalah hasil akhirnya, seseorang diterima bekerja karena memiliki kenalan tanpa melihat struktur sosial yang membuat sebagian orang lebih mudah membangun relasi dibandingkan yang lain.
Modal Sosial: Kekayaan yang Tidak Terlihat
Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa selain modal ekonomi dan modal pendidikan, terdapat bentuk modal lain yang disebut modal sosial (social capital) (Bourdieu, 1986).” Modal sosial merujuk pada sumber daya yang dimiliki seseorang melalui jaringan hubungan sosialnya.
“Dalam praktiknya, kesuksesan sering kali merupakan kombinasi antara kemampuan, usaha, kesempatan, dan jaringan sosial (Coleman, 1988)”. Jaringan tersebut memungkinkan seseorang memperoleh informasi, rekomendasi, dan peluang yang mungkin tidak tersedia bagi orang lain.
Dari perspektif ini, relasi bukanlah sesuatu yang aneh. Justru relasi merupakan bagian alami dari kehidupan sosial manusia. Bahkan banyak perusahaan di berbagai negara menerapkan sistem rekomendasi karyawan (employee referral) karena dianggap mampu membantu menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dengan demikian, keberadaan relasi dalam dunia kerja sebenarnya bukanlah penyimpangan. Relasi adalah salah satu bentuk sumber daya yang memang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial.
Mengapa Fenomena Ordal Menimbulkan Keresahan?
Permasalahan muncul ketika akses terhadap modal sosial tidak dimiliki secara merata.
Seseorang yang lahir dalam keluarga profesional mungkin sejak kecil telah memiliki akses terhadap berbagai jaringan yang berguna bagi perkembangan kariernya. Mereka dapat memperoleh informasi magang, rekomendasi pekerjaan, atau mentor yang membantu mengarahkan perjalanan profesional mereka.
Sebaliknya, individu yang berasal dari keluarga sederhana sering kali harus membangun seluruh jaringan tersebut secara mandiri. Mereka harus mencari informasi sendiri, memperluas relasi sendiri, dan berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Akibatnya, keberhasilan dalam dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, tetapi juga oleh posisi sosial yang telah dimiliki sejak awal kehidupan.
Dalam kondisi seperti inilah fenomena ordal sering dipersepsikan sebagai ketidakadilan. Bukan karena relasi itu sendiri salah, melainkan karena kesempatan untuk memiliki relasi tidak terbagi secara merata.
Budaya Kekeluargaan dan Hubungan Patronase
Dalam konteks Indonesia, kuatnya pengaruh relasi juga dipengaruhi oleh budaya yang menempatkan hubungan sosial sebagai sesuatu yang sangat penting.
Masyarakat Indonesia dikenal memiliki karakter kolektivistik, yaitu budaya yang menekankan hubungan antarmanusia, solidaritas kelompok, dan ikatan kekeluargaan. Dalam budaya seperti ini, membantu kerabat, teman, atau orang yang dikenal sering kali dianggap sebagai tindakan yang wajar, bahkan terpuji.
Antropologi mengenal konsep patron-klien, yaitu hubungan antara pihak yang memiliki sumber daya dengan pihak yang membutuhkan akses terhadap sumber daya tersebut. Hubungan semacam ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial di berbagai masyarakat, termasuk Indonesia.
Karena itu, praktik membantu kenalan memperoleh pekerjaan sering kali tidak dipandang sebagai pelanggaran moral oleh pelakunya. Sebaliknya, tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk balas jasa, solidaritas, atau kepedulian terhadap sesama anggota jaringan sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ordal tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan individu. Ia juga merupakan produk dari nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat.
Networking dan Nepotisme: Dua Hal yang Berbeda
Dalam diskusi mengenai ordal, masyarakat sering kali mencampuradukkan antara networking dan nepotisme.
Networking merupakan proses membangun hubungan profesional yang dilakukan secara terbuka dan berdasarkan interaksi yang sah. Organisasi mahasiswa, kegiatan kepanitiaan, seminar, komunitas, program magang, hingga platform profesional seperti LinkedIn menjadi ruang yang memungkinkan seseorang membangun jaringan karier.
Sementara itu, nepotisme terjadi ketika seseorang memperoleh keuntungan semata-mata karena hubungan personal tanpa mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki.
Perbedaannya terletak pada kompetensi. Jika relasi hanya berfungsi membuka pintu kesempatan sementara proses seleksi tetap didasarkan pada kemampuan, maka relasi berfungsi secara sehat. Namun, jika relasi menggantikan kompetensi sebagai dasar pengambilan keputusan, maka praktik tersebut mulai mengarah pada nepotisme.
Dengan kata lain, persoalannya bukan pada keberadaan jaringan sosial, melainkan pada bagaimana jaringan tersebut digunakan.
Mitos Meritokrasi di Era Modern
Fenomena ordal juga mengajak kita mempertanyakan satu asumsi yang sering diterima begitu saja, yakni bahwa kesuksesan sepenuhnya merupakan hasil kerja keras individu.
Dalam praktiknya, kesuksesan sering kali merupakan kombinasi antara kemampuan, usaha, kesempatan, dan jaringan sosial. Tidak semua orang memulai perlombaan dari garis start yang sama. Sebagian individu memiliki akses yang lebih besar terhadap pendidikan, informasi, maupun relasi profesional.
Karena itu, menganggap bahwa setiap orang memiliki peluang yang sepenuhnya setara sering kali menjadi penyederhanaan terhadap realitas sosial yang jauh lebih kompleks.
Kesadaran ini penting bukan untuk meremehkan kerja keras, melainkan untuk memahami bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada faktor sosial yang turut memengaruhinya.
Fenomena “orang dalam” menunjukkan bahwa dunia kerja bukan sekadar arena kompetisi kemampuan, tetapi juga arena distribusi modal sosial. Relasi, jaringan, dan kedekatan sosial memiliki pengaruh nyata dalam menentukan siapa yang memperoleh akses terhadap berbagai peluang.
Oleh karena itu, persoalan utama dalam fenomena ordal bukanlah keberadaan relasi itu sendiri. Yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah mengapa akses terhadap relasi dan jaringan profesional tidak dimiliki secara merata oleh semua orang.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu diperjuangkan bukanlah dunia kerja tanpa relasi, karena hal tersebut hampir mustahil terjadi dalam masyarakat mana pun melainkan dunia kerja yang tetap menghargai kompetensi dan memberikan kesempatan yang lebih setara bagi setiap individu untuk membangun jaringan sosialnya sendiri.
Sebab ketika CV kalah dengan nomor WhatsApp, yang sebenarnya sedang kita saksikan bukan hanya persoalan rekrutmen, melainkan bagaimana ketimpangan sosial bekerja secara halus dalam kehidupan sehari-hari.
Arwana Faiz Hanafi – Universitas Gadjah Mada
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































