Ada celetukan jujur tapi pahit: “Ini kan profesi “berbau politis”. Pucuk pimpinan ganti, ya bawahannya ikut diganti. Gerbong baru jalan, yang lama disuruh lompat sebelum kereta berhenti.” Dan anehnya, kalimat itu terasa lebih jujur daripada semua petunjuk teknis.
Di titik ini, masa kerja, skill, dan kompetensi cuma jadi hiasan laporan. Alat ukur utama bukan lagi kemampuan, tapi keanggotaan: kita satu kubu atau bukan. Kalau tidak satu barisan, ya siap-siap disapu bersih atas nama evaluasi.
Ketika sebuah profesi sudah terlalu kental politik, jangan mimpi profesionalisme bisa hidup lama. Semua syarat akan tunduk pada kepentingan yang lebih tinggi. Profesional itu penting, tapi loyal itu lebih penting. Ideal itu bagus, tapi aman itu lebih utama.
Ironisnya, sistem ini ramah bagi yang mau cari muka. Asal pandai menyesuaikan lidah dan arah angin, pintu akomodasi terbuka lebar. Akhirnya hidup benar-benar jadi pilihan: mau jadi manusia merdeka tapi dianggap bermasalah, atau jadi bagian dari sistem dan aman meski nurani digadaikan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































