YOGYAKARTA – Setiap kali musim hujan datang, saya selalu merasakan perasaan yang sama: kekhawatiran. Tinggal di tepi sungai membuat saya sangat familiar dengan suara gemuruh air yang meluap, lumpur yang merembes ke dalam rumah, dan barang-barang yang harus segera dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, banjir mungkin hanya sekadar berita di televisi. Namun bagi saya dan para tetangga di sepanjang bantaran sungai, banjir adalah pengalaman nyata yang berulang, hampir seperti ritual tahunan yang tidak pernah kami inginkan.
Yang membuat saya semakin cemas bukan hanya banjir itu sendiri, tetapi juga kesadaran bahwa banyak dari bencana ini sebenarnya dapat dicegah atau setidaknya dampaknya dapat diminimalkan. Banjir yang disebabkan oleh meluapnya sungai bukan semata-mata takdir alam. Ada kontribusi manusia yang cukup signifikan di baliknya, dan oleh karena itu, terdapat peluang besar untuk melakukan perbaikan.
Bukan Semata Salah Alam
Curah hujan yang tinggi memang merupakan faktor utama, namun penyebab yang sebenarnya sering kali lebih kompleks. Penyempitan saluran sungai akibat pembangunan ilegal di tepiannya, penumpukan sampah yang menghambat aliran, serta berkurangnya area resapan air akibat konversi lahan menjadi permukiman dan kawasan komersial, semuanya berperan dalam memperburuk banjir yang terjadi.

Saya sendiri melihat langsung bagaimana sungai di dekat rumah saya semakin menyempit dari tahun ke tahun. Dulu ada jarak yang cukup lebar antara aliran air dan rumah-rumah warga, sekarang jarak itu semakin tergerus oleh bangunan-bangunan baru yang berdiri semakin dekat ke bibir sungai. Ironisnya, sebagian bangunan itu justru berdiri dengan atau tanpa izin yang jelas, seolah aturan tata ruang hanya berlaku di atas kertas.
Ketika Sampah Menjadi Bumerang
Salah satu pemandangan yang paling menyedihkan adalah ketika sampah rumah tangga sering kali menjadi penyebab terhambatnya aliran sungai. Terdapat semacam kebiasaan buruk yang telah mengakar: memandang sungai sebagai tempat pembuangan yang paling praktis. Padahal, setiap kantong plastik dan potongan sampah yang dibuang ke sungai pada akhirnya dapat menyumbat aliran air di titik-titik tertentu, sehingga air yang seharusnya mengalir dengan lancar justru terhambat dan meluap ke permukiman. Saya sangat memahami bahwa mengubah kebiasaan ini bukanlah hal yang mudah, terutama jika sistem pengelolaan sampah di suatu daerah belum memadai. Namun, ini justru menunjukkan bahwa masalah banjir bukan hanya berkaitan dengan infrastruktur besar, melainkan juga berkaitan dengan kebiasaan kecil yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat.
Infrastruktur yang Sering Terlambat
Di sisi lain, saya juga melihat bahwa penanganan dari pemerintah daerah maupun pusat kerap datang setelah bencana terjadi, bukan sebagai langkah pencegahan. Normalisasi sungai, pembangunan tanggul, atau perbaikan drainase seringkali baru digencarkan setelah banjir besar menelan kerugian atau bahkan korban jiwa. Pola reaktif seperti ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa langkah antisipatif tidak menjadi prioritas sejak awal, padahal wilayah rawan banjir biasanya sudah bisa dipetakan dengan cukup jelas.
Early warning system yang efektif, misalnya, sebenarnya bisa memberi waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri dan barang-barang penting sebelum air benar-benar naik. Namun di banyak daerah, termasuk yang saya tinggali, sistem peringatan dini semacam ini masih belum berjalan optimal atau bahkan tidak ada sama sekali. Warga lebih sering mengandalkan insting dan pengalaman pribadi ketimbang informasi resmi.
Apa yang Bisa Dilakukan Bersama
Saya percaya penanganan banjir akibat luapan sungai membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, bukan hanya tanggung jawab satu kelompok saja. Pemerintah perlu lebih serius menegakkan aturan tata ruang, termasuk merelokasi permukiman yang berdiri terlalu dekat dengan bantaran sungai secara manusiawi, disertai solusi tempat tinggal yang layak. Normalisasi sungai dan pembangunan sistem drainase yang memadai juga harus menjadi agenda rutin, bukan proyek darurat pasca-bencana.
Di tingkat warga, kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai perlu terus ditumbuhkan, didukung dengan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai agar warga punya alternatif yang layak. Gotong royong membersihkan aliran sungai secara berkala juga bisa menjadi kebiasaan kolektif yang membantu mengurangi risiko penyumbatan. Sementara itu, penghijauan di daerah hulu dan pelestarian daerah resapan air perlu terus digalakkan, mengingat berkurangnya area resapan menjadi salah satu faktor yang mempercepat aliran air menuju sungai saat hujan deras.
Penutup
Sebagai orang yang tinggal di pinggir kali dan berulang kali merasakan dampak banjir secara langsung, saya menulis ini bukan sekadar keluhan, melainkan harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, musim hujan tidak lagi identik dengan kecemasan bagi keluarga-keluarga seperti kami. Banjir akibat luapan sungai bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Dengan kesadaran kolektif, kebijakan yang tepat sasaran, dan keberanian untuk mengambil langkah pencegahan sejak dini, saya yakin bencana ini bisa dikurangi, bahkan dicegah, sebelum ia kembali merenggut rasa aman warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.
Oleh: Fikar Rasyid Al Madani, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Ahmad Dahlan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































