Jakarta, 12 Maret 2026 – Muhammad Hanif Masyhadi, seorang pemuda kelahiran Lubuklinggau, Sumatra Selatan, dan berdarah jawa ini telah menjalani perjalanan pendidikan yang cukup unik dan menarik. Beliau memulai pendidikannya di SD IT ANNIDA dan SMP IT ANNIDA Kota Lubuklinggau, kemudian 2017 melanjutkan ke Pondok Pesantren Dalwa Pasuruan, Jawa Timur, untuk jenjang SMA.
Selama menjadi santri di Pondok Pesantren Dalwa, Hanif aktif dalam organisasi keasramaan dan daripada itu beliau juga menunjukkan bakatnya di bidang kesenian, bahkan meraih beberapa prestasi tingkat provinsi dan nasional.
Dengan ilmu pengetahuan yang ia dapat selama menjalani proses pendidikan, untuk mengimbangi pengaruh arus digital, hanif rutin membaca buku buku yang berkaitan dengan geopolitik timur tengah dan menanyakan langsung kondisi di timur tengah, kepada orang orang yang pernah menimba ilmu disana, untuk sebagai sumber datanya, Pengalaman ini membawanya untuk mengamati dan menganalisis geopolitik Timur Tengah, yang kemudian menjadi minatnya hingga saat ini.
Setelah lulus dari pesantren pada tahun 2020, Hanif memutuskan untuk mengembangkan keahliannya di bidang kesenian dengan mengikuti kursus produser musik di Jogja Audio School, Yogyakarta, selama kurang lebih 2 tahun. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan D4/S1 di sekolah kedinasan di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Saat ini, Hanif masih aktif sebagai analis geopolitik Timur Tengah dan memiliki pandangan kritis mengenai isu-isu geopolitik, termasuk narasi yang disampaikan oleh Ustad Felix Siauw. Berikut adalah kritisi dan perbaikan beliau:
Pertama, pernyataan bahwa Cyrus Agung membangun Bait Suci 2.500 tahun lalu, sementara Islam belum lahir, merupakan contoh klasik dari kesalahan historis dan logis. Menyamakan Persia Kuno dengan Republik Islam Iran modern sama saja dengan mengatakan bahwa Mesir modern masih pro-Firaun atau Arab modern masih menganut paganisme. Ini adalah contoh kesalahan logis yang sangat mendasar.
Kedua, kemesraan Iran dan Israel hanya terjadi pada era Shah Pahlevi, yang merupakan boneka Barat. Revolusi Islam Iran 1979 justru terjadi karena Shah Pahlevi terlalu dekat dengan Israel dan menindas rakyatnya. Konstitusi Iran pasca-revolusi secara eksplisit menghapus pengakuan atas Israel dan menjadikannya musuh ideologis demi membela Al-Quds (Palestina).
Ketiga, pernyataan Netanyahu tentang mengajak Iran kembali ke masa lalu bukanlah karena rindu persahabatan, melainkan taktik politik untuk memicu regime change dan mengembalikan Iran ke dalam lingkaran pengaruh Barat. Oleh karena itu, membenturkan bantuan Iran kepada Palestina sebagai kepentingan pribadi sambil mengabaikan fakta ideologi revolusi mereka adalah penyederhanaan yang menyesatkan.
Dengan demikian, Hanif menekankan pentingnya memahami konteks historis dan ideologis dalam menganalisis isu-isu geopolitik Timur Tengah, serta menghindari simplifikasi dan polarisasi yang dapat menyesatkan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































