Sejenak kita kembali ke cerita dengan tokoh sangat populer yaitu Abunawas. Alkisah, di siang bulan Ramadan, Abunawas berjalan menyusuri pasar. Matahari menyengat, aroma makanan menyeruak dari berbagai penjuru, dan wajah-wajah lelah tampak di antara keramaian. Tentu orang-orang ini tengah berpuasa, menahan lapar dan dahaga sejak pagi.
Namun di beberapa sudut pasar, Abunawas melihat sesuatu yang mengusiknya yaitu suara perdebatan meninggi, kata-kata kasar meluncur tanpa kendali, dan wajah-wajah masam yang mudah tersulut emosi. Tak jarang meluncur kata-kata palsu dari mulut para pedagang tentang kualitas dan harga barang dagangannya. Terlihat pula beberapa pedagang mengakali takaran timbangan agar mendapatkan laba yang lebih. Abunawas berhenti sejenak, tersenyum tipis, lalu berujar lirih, “Yang lapar perutnya, tetapi yang kenyang egonya.” Abunawas kemudian berlalu sambil terus tersenyum walau sesungguhnya hatinya miris.
Walau kalimat lirih yang diucapkan Abunawas tidak ditujukan kepada siapa pun secara khusus, namun siapa saja yang mendengarnya tahu, Abunawas sedang mengajak orang bercermin. Puasa dijalani, tetapi hanya sebatas yang tampak. Perut dikosongkan, sementara hati dibiarkan penuh oleh amarah, kesombongan, dan rasa ingin menang sendiri.
Kisah Abunawas ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini. Setiap Ramadan, suasana religius menguat. Masjid lebih ramai, aktivitas ibadah meningkat, dan simbol-simbol kesalehan hadir di mana-mana. Secara lahiriah, puasa tampak hidup. Namun di balik itu, orang sering lupa bahwa puasa bukan sekadar urusan fisik, melainkan latihan batin karena sesungguhnya, puasa adalah undangan untuk menekuri hati. Lapar mengajarkan empati kepada mereka yang kekurangan. Haus mengingatkan akan keterbatasan manusia. Menahan diri dari reaksi spontan melatih kesabaran dan kedewasaan. Semua itu adalah pelajaran yang bekerja dalam diam. Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53)
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa mengendalikan diri harus melekat pada diri setiap muslim sehari-hari, terlebih lagi di bulan Ramadan. Menahan lapar dan haus hanyalah pintu awal. Di baliknya, ada tuntutan yang lebih sunyi namun lebih berat yaitu menahan emosi, menjaga lisan, dan mengendalikan ego. Ketika puasa hanya dipahami sebagai tidak makan dan minum, maka puasa tidak mengubah apa-apa.
Ramadan sering kali dijalani dalam suasana yang ramai. Agenda berbuka bersama memenuhi kalender, kegiatan sosial bertambah, dan rutinitas keagamaan makin padat. Ironisnya, keramaian itu justru bisa menjauhkan diri dari inti puasa. Setiap orang sibuk menjalani Ramadan, namun lupa memperbaiki diri.
Ucapan Abunawas tentang ‘ego yang kenyang’ menyentil satu kenyataan penting, puasa bisa gagal bukan karena makan di siang hari, tetapi karena kita membiarkan ego berkuasa. Ego ingin selalu dibenarkan, ingin didahulukan, ingin menang dalam setiap situasi. Ketika ego ini tidak ikut ‘berpuasa’, maka puasa kehilangan maknanya sebagai pendidikan akhlak. Rasulullah SAW mengingatkan dalam .”HR. Bukhari dan Muslim“Puasa itu perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan marah.”
Ramadan tanpa refleksi berisiko menjadi rutinitas tahunan. Ibadah dilakukan, tetapi tidak meninggalkan bekas dalam sikap. Puasa dijalani, tetapi tidak mengubah cara berbicara dan memperlakukan orang lain. Jika demikian, Ramadan berlalu tanpa membawa lebih dekat pada tujuan utamanya, menjadi pribadi yang lebih sabar, rendah hati, dan peduli.
Perlu belajar dari cara Abunawas mengingatkan. Ia tidak berteriak, tidak menghakimi, hanya menghadirkan cermin kecil bagi siapa pun yang mau melihat. Puasa yang sejati bukan hanya terlihat dari jadwal dan ritual, tetapi terasa dalam sikap sehari-hari. Ketika perut lapar, tetapi hati tenang. Ketika emosi muncul, tetapi ego ditahan. Di sanalah puasa menemukan maknanya. Seperti sindiran halus Abunawas, puasa bukan soal siapa yang paling kuat menahan lapar, melainkan siapa yang paling mampu mengosongkan egonya.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, Guru MAN 1 Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































