Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa Return on Assets (ROA) Danantara meningkat hingga 300 persen pada tahun 2025 segera menarik perhatian publik. Angka tersebut terdengar impresif dan mudah dipahami sebagai indikator keberhasilan pengelolaan aset negara.
Namun dalam analisis keuangan, persentase yang besar tidak selalu berarti peningkatan kinerja yang luar biasa. Tanpa penjelasan mengenai angka dasar yang digunakan sebagai pembanding, klaim kenaikan persentase justru berpotensi menimbulkan interpretasi yang keliru.
Karena itu, sebelum menilai apakah klaim tersebut mencerminkan peningkatan efisiensi pengelolaan aset negara, penting bagi publik untuk memahami bagaimana sebenarnya indikator seperti ROA bekerja.
Apa yang diukur oleh ROA?
Return on Assets (ROA) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan sebuah institusi menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya atau yang dikelolanya. Secara sederhana, ROA menunjukkan seberapa efisien sebuah organisasi memanfaatkan aset untuk menghasilkan keuntungan.
Dalam literatur keuangan, ROA sering digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan maupun lembaga investasi karena indikator ini mencerminkan hubungan antara profitabilitas dan efisiensi penggunaan aset (Brigham & Houston, 2019; Damodaran, 2021).
Secara matematis, ROA dihitung dengan membagi laba bersih dengan total aset.
Dalam konteks Danantara, berbagai laporan menyebutkan bahwa lembaga ini mengelola aset sekitar 1 triliun dolar AS, atau kira-kira Rp16.000 triliun. Dengan nilai aset sebesar ini, bahkan perubahan kecil dalam tingkat ROA dapat menghasilkan perbedaan nominal keuntungan yang sangat besar.
Namun persoalan utama dari klaim kenaikan 300 persen adalah tidak adanya penjelasan mengenai baseline ROA yang digunakan sebelum peningkatan tersebut dihitung.
Sebagai ilustrasi sederhana, jika ROA awalnya berada pada tingkat 0,1 persen, maka kenaikan 300 persen berarti ROA meningkat menjadi 0,3 persen. Dengan total aset sekitar Rp16.000 triliun, tingkat pengembalian tersebut akan menghasilkan keuntungan sekitar Rp48 triliun.
Secara nominal, angka ini tentu signifikan. Namun dalam konteks pengelolaan aset dalam skala global, tingkat pengembalian tersebut sebenarnya masih berada pada rentang yang relatif moderat.
Membandingkan dengan praktik global
Untuk memahami konteksnya, kita dapat melihat bagaimana institusi investasi besar di dunia menghasilkan keuntungan dari aset yang mereka kelola.
BlackRock, perusahaan manajemen aset terbesar di dunia, mengelola dana lebih dari 10 triliun dolar AS. Dengan ribuan analis, teknologi keuangan canggih, dan pengalaman puluhan tahun di pasar global, perusahaan ini dikenal sebagai salah satu institusi investasi paling berpengaruh di dunia.
Namun laporan keuangan perusahaan menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas terhadap aset pada lembaga pengelola investasi besar biasanya relatif kecil dalam persentase, karena skala aset yang sangat besar (BlackRock Annual Report, 2023).
Contoh lain yang sering dijadikan rujukan dalam dunia investasi adalah kinerja Berkshire Hathaway di bawah kepemimpinan Warren Buffett. Selama lebih dari enam dekade, perusahaan ini mencatat tingkat pengembalian investasi rata-rata sekitar 20 persen per tahun, yang secara luas dianggap sebagai salah satu kinerja terbaik dalam sejarah pasar modal modern (Buffett & Cunningham, 2020).
Perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan model bisnis yang berbeda. Namun ia menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi pada skala aset yang sangat besar biasanya meningkat secara bertahap, bukan melonjak secara drastis dalam waktu singkat.
Karena itu, ketika sebuah institusi yang relatif baru menyampaikan klaim kenaikan ROA hingga 300 persen, penjelasan yang lebih rinci menjadi penting agar publik dapat memahami konteks angka tersebut.
Struktur aset Danantara
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah struktur aset yang dikelola oleh Danantara.
Portofolio lembaga ini berasal dari berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar, termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, PLN, Pertamina, dan Telkom. Perusahaan-perusahaan tersebut telah beroperasi selama puluhan tahun dan memiliki kinerja keuangan yang sudah tercatat jauh sebelum Danantara dibentuk.
Dengan demikian, sebagian besar profitabilitas yang muncul dalam laporan konsolidasi Danantara kemungkinan berasal dari kinerja perusahaan-perusahaan tersebut.
Dalam studi mengenai sovereign wealth fund dan lembaga pengelola aset negara, para peneliti sering menekankan pentingnya membedakan antara kinerja portofolio yang diwariskan (inherited performance) dan kinerja yang dihasilkan oleh strategi pengelolaan baru (Balding, 2012; Gelb et al., 2014).
Tanpa pemisahan yang jelas antara keduanya, sulit untuk menilai sejauh mana sebuah lembaga baru benar-benar meningkatkan efisiensi pengelolaan aset.
Pentingnya transparansi dalam pengelolaan aset publik
Dalam tata kelola keuangan publik modern, transparansi merupakan prinsip yang sangat penting. Hal ini terutama berlaku bagi lembaga yang mengelola aset negara dalam jumlah besar.
Aset yang kini berada di bawah pengelolaan Danantara pada dasarnya merupakan akumulasi kekayaan negara yang dibangun selama puluhan tahun melalui investasi pemerintah, pengelolaan sumber daya alam, serta kontribusi masyarakat melalui pajak.
Karena itu, setiap klaim mengenai peningkatan kinerja seharusnya disertai dengan informasi yang dapat diverifikasi secara independen.
Beberapa hal yang penting untuk dijelaskan kepada publik antara lain:
1. berapa baseline ROA sebelum kenaikan tersebut dihitung
2. bagaimana metodologi penghitungan kinerja dilakukan
3. siapa auditor independen yang memverifikasi laporan keuangan
4. serta apakah peningkatan tersebut berasal dari strategi pengelolaan baru atau hanya perubahan struktur pelaporan aset.
Prinsip transparansi seperti ini merupakan praktik standar dalam tata kelola lembaga investasi negara di berbagai negara, termasuk sovereign wealth fund seperti Norway Government Pension Fund Global atau Temasek Holdings di Singapura, yang secara rutin mempublikasikan laporan kinerja terperinci kepada publik (Truman, 2010; Clark et al., 2013).
Antara optimisme dan akuntabilitas
Optimisme terhadap lembaga baru yang dibentuk untuk mengelola aset negara tentu dapat dipahami. Pemerintah sering perlu menunjukkan bahwa institusi baru mampu meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomi dari aset yang dikelola.
Namun dalam praktik tata kelola modern, optimisme perlu diimbangi dengan akuntabilitas yang kuat.
Kepercayaan publik dan investor tidak dibangun hanya melalui angka yang terdengar spektakuler, tetapi melalui keterbukaan informasi, konsistensi data, dan mekanisme audit yang kredibel.
Jika Danantara benar-benar berhasil meningkatkan efisiensi pengelolaan aset negara secara signifikan, pencapaian tersebut tentu patut diapresiasi. Namun justru karena dampaknya sangat besar bagi ekonomi nasional, klaim tersebut perlu disertai dengan penjelasan yang transparan dan dapat diuji secara publik.
Pada akhirnya, dalam pengelolaan aset negara berlaku prinsip sederhana: angka yang kuat adalah angka yang dapat diverifikasi.
Referensi
Balding, C. (2012). Sovereign Wealth Funds: The New Intersection of Money and Politics. Oxford University Press.
BlackRock. (2023). Annual Report.
Brigham, E., & Houston, J. (2019). Fundamentals of Financial Management. Cengage Learning.
Buffett, W., & Cunningham, L. (2020). The Essays of Warren Buffett: Lessons for Corporate America.
Clark, G., Dixon, A., & Monk, A. (2013). Sovereign Wealth Funds: Legitimacy, Governance, and Global Power. Princeton University Press.
Damodaran, A. (2021). Applied Corporate Finance. Wiley.
Gelb, A., Tordo, S., Halland, H., Arfaa, N., & Smith, G. (2014). Sovereign Wealth Funds and Long-Term Development Finance. World Bank.
Truman, E. (2010). Sovereign Wealth Funds: Threat or Salvation? Peterson Institute for International Economics.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































