Tidak semua kegelisahan datang dari kenyataan, sebagian lahir dari pikiran yang terlalu jauh melangkah, memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Hati terasa penuh, pikiran berkelana ke berbagai kemungkinan yang belum tentu benar. Di saat seperti ini, kita sering bertanya: “Apa yang sebenarnya terjadi denganku?”
Perasaan seperti ini manusiawi. Setiap orang pernah mengalaminya. Namun sebagai seorang Muslim, kita tidak dibiarkan sendirian menghadapi kegelisahan tersebut. Islam telah memberikan panduan yang begitu indah untuk menenangkan hati yang berisik.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ۞
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”(QS. Al-Hadid: 22)
Ayat ini mengajarkan satu hal penting, segala sesuatu telah ditetapkan. Apa yang kita khawatirkan, apa yang kita takutkan, bahkan apa yang belum terjadi sekalipun, semuanya berada dalam pengetahuan dan ketentuan Allah. Maka, kegelisahan yang kita rasakan seringkali bukan karena kenyataan, tetapi karena pikiran kita sendiri yang melampaui batas.
Seringkali kita merasa cemas karena ingin mengendalikan hal-hal yang sebenarnya bukan wilayah kita. Kita ingin memastikan masa depan berjalan sesuai rencana, ingin semua orang memahami kita, ingin segala sesuatu berjalan sempurna. Padahal, justru di situlah letak kelelahan hati. Kita mencoba mengambil peran yang bukan milik kita, peran sebagai “pengatur takdir”.
Padahal Allah sudah menegaskan:
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”(QS. At-Talaq: 3)
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil setelah melakukan yang terbaik. Ketika hati mulai cemas, mungkin itu tanda bahwa kita terlalu menggenggam sesuatu yang seharusnya kita serahkan kepada Allah.
Selain rasa cemas, ada pula perasaan minder dan insecure yang diam-diam menggerogoti. Kita merasa kurang dibanding orang lain. Melihat pencapaian orang lain membuat kita merasa tertinggal. Media sosial memperparah keadaan, menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, sementara kita merasa penuh kekurangan.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa Allah menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing? Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ۞
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Ayat ini bukan sekadar tentang bentuk fisik, tetapi juga tentang potensi, kelebihan, dan kemampuan yang Allah titipkan dalam diri setiap hamba-Nya. Tidak ada manusia yang diciptakan sia-sia. Setiap orang memiliki perannya masing-masing di dunia ini.
Rasa minder sering muncul karena kita sibuk melihat “ladang orang lain” dan lupa merawat “ladang sendiri”. Kita fokus pada apa yang tidak kita miliki, sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah Allah berikan.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam hal dunia), dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan cara sederhana,yakni ubah arah pandangan. Bukan berarti kita tidak boleh bercita-cita tinggi, tetapi kita perlu menyeimbangkannya dengan rasa syukur.
Rasulullah SAW juga memberikan doa yang sangat relevan untuk kondisi hati yang gelisah:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.”
(HR. Bukhari)
Doa ini menunjukkan bahwa rasa gelisah dan cemas memang bagian dari ujian kehidupan. Namun, kita diajarkan untuk tidak tenggelam di dalamnya. Kita diajak untuk kembali kepada Allah, mengakui kelemahan diri, dan memohon ketenangan.
Maka, ketika hati terasa sempit, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas, dan ingat bahwa tidak semua yang kita pikirkan adalah kenyataan. Tidak semua firasat adalah petunjuk. Bisa jadi itu hanyalah bisikan kekhawatiran yang diperbesar oleh pikiran kita sendiri.
Dekatkan diri kepada Allah. Perbanyak dzikir, karena Allah telah menjanjikan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Tenang bukan berarti tanpa masalah, tetapi mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan arah. Tenang bukan berarti semua sesuai harapan, tetapi yakin bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari rencana terbaik Allah.
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi siapa yang paling mampu bersandar kepada Allah di tengah ketidaksempurnaan.
Jadi, jika hari ini hati terasa berisik penuh cemas, khawatir, dan rasa tidak percaya diri, ingatlah bahwa itu bukan akhir dari segalanya. Itu hanyalah panggilan lembut agar kita kembali. Kembali kepada Allah, kembali kepada rasa syukur, dan kembali kepada keyakinan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.
Karena di balik segala ketidakpastian, ada satu hal yang pasti, bahwa ketentuan Allah selalu yang terbaik.
Penulis: Putri Luthfiana (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































