MALANG – Isu perampasan lahan dan eksploitasi sumber daya alam di Papua kembali menjadi sorotan tajam dalam agenda Nonton Bareng (Nabar) dan Diskusi Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Kegiatan yang diinisiasi oleh Pengurus Rayon (PR) PMII “Kawah” Chondrodimuko ini digelar di Kedai Kopi Kalimetro, Malang, pada Minggu malam (10/05/2026).
Film hasil kolaborasi Watchdoc, Greenpeace, Pusaka, dan Jubi.id ini memantik diskusi hangat mengenai kebijakan pemerintah terkait swasembada pangan dan energi yang dinilai berdampak sistemik terhadap masyarakat adat di Papua.
Perlawanan Simbolis dan Analogi Kolonial
Dalam sesi diskusi, muncul pemaknaan mendalam mengenai judul “Pesta Babi”. Judul tersebut dinilai bukan sekadar representasi budaya, melainkan sebuah bentuk perlawanan simbolis terhadap intervensi kebijakan pusat di tanah Papua.
Salah satu poin kritis yang mengemuka dalam forum adalah perbandingan antara tindakan pemerintah saat ini dengan praktik kolonialisme masa lalu. Para peserta menyoroti catatan kelam Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen, yang membantai ribuan warga lokal di Kepulauan Banda demi monopoli perdagangan pala VOC.
“Jika tindakan represif dan eksploitasi serupa terjadi lagi di masa kini, lantas apa yang membedakan antara pemerintah kita dengan pemerintah kolonial?” tulis salah satu poin refleksi yang muncul dalam jalannya diskusi.

Refleksi Kesadaran Sejarah dan Krisis Ekologi
Meskipun dinamika forum dipengaruhi oleh berbagai kendala teknis, substansi diskusi tetap menyentuh isu-isu eksistensial. Para kader PMII yang didominasi mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini menyoroti ancaman hilangnya jutaan ton oksigen akibat pembukaan lahan besar-besaran.
Isu di Papua dinilai harus menjadi stimulus bagi kepedulian generasi muda. Sebagai golongan yang dikenal memiliki idealisme tinggi, mahasiswa dituntut untuk tidak menutup mata terhadap ketidakadilan struktural yang terjadi di ujung timur Indonesia.
Tantangan Gerakan Mahasiswa
Diskusi malam itu juga menjadi ajang oto-kritik bagi gerakan mahasiswa saat ini. Forum mengidentifikasi beberapa tantangan besar yang menghambat respons mahasiswa terhadap isu-isu struktural, di antaranya:
Minimnya Literasi: Kurangnya pemahaman mendalam mengenai akar persoalan di Papua.
Rendahnya Kepekaan: Adanya jarak antara isu-isu daerah dengan prioritas pergerakan di tingkat kampus.
Ancaman Kooptasi: Risiko gerakan yang mudah disusupi atau dikendalikan oleh kepentingan golongan tertentu.
Kegiatan yang berakhir dengan khidmat ini menjadi pengingat bagi para kader PR. PMII “Kawah” Chondrodimuko untuk terus merawat nalar kritis dan menjaga jarak aman dari kekuasaan demi keberpihakan pada rakyat yang tertindas.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































