Yogyakarta – Suasana hangat penuh kekhusyukan terasa di Masjid Al Hakim MAN 1 Yogyakarta pada Senin (11/5/2026) dalam kegiatan pengajian rutin madrasah yang diikuti oleh guru, pegawai, dan murid. Kegiatan ini menjadi momentum spiritual dalam menyambut Hari Raya Idul Adha sekaligus memperkuat nilai keimanan, pengorbanan, dan ukhuwah Islamiyyah di lingkungan madrasah.
Dalam sambutannya, Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag, S.Pd, M.Pd menyampaikan bahwa pengajian ini diharapkan menjadi sarana meningkatkan implementasi keberagamaan seluruh warga madrasah. Beliau menekankan pentingnya meneladani perjuangan dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah SWT.
“Momentum Idul Adha mengajarkan kepada kita tentang pengorbanan untuk kepentingan umat, memperkuat hubungan sosial dan ukhuwah Islamiyyah, serta mengurangi sifat hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan,” tuturnya.
Pengajian disampaikan oleh Ustadz Fahrur Rozi, STh.I, S.Sos dengan tema “Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membina Cinta Allah.”
Dalam tausiyahnya, beliau mengajak civitas MAN 1 Yogyakarta untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.
Beliau mengingatkan pentingnya membiasakan ucapan
الحمد لله رب العالمين
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Atau membaca
الحمد لله بنعمته تتم الصالحات
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Bahkan ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, seorang mukmin tetap diajarkan bersyukur dengan membaca:
الحمد لله على كل حال
Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.
Menurut beliau, syukur dan sabar merupakan senjata utama orang beriman. Ketika mendapatkan nikmat ia bersyukur, dan ketika diuji ia bersabar. Sikap inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan Nabi Ibrahim AS dalam menjalani kehidupan dan dakwahnya.
Dalam kajiannya, Ustadz Fahrur Rozi menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim merupakan sosok istimewa yang sangat dicintai Allah dan menjadi teladan para nabi, bahkan Rasulullah SAW sangat mengagumi beliau. Salah satu buktinya adalah adanya Shalawat Ibrahimiyyah yang senantiasa dibaca umat Islam dalam tasyahud shalat:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Beliau kemudian memaparkan tiga keistimewaan Nabi Ibrahim AS yang patut diteladani oleh seluruh umat Islam.
1. Nabi Ibrahim Bergelar Khalilullah
Nabi Ibrahim merupakan nabi yang mendapat gelar Khalilullah atau kekasih Allah, selain Nabi Muhammad SAW. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya (QS. An-Nisa: 125)
Gelar tersebut menunjukkan kedekatan Nabi Ibrahim dengan Allah karena ketulusan iman, pengorbanan, dan ketaatan beliau.
2. Nabi Ibrahim sebagai Manusia Pilihan (Al-Musthafa)
Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim termasuk manusia pilihan Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 47:
وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ
Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik.
Beliau juga mengisahkan secara singkat bagaimana Nabi Ibrahim menemukan kebenaran melalui perjalanan akal dan perenungan terhadap alam semesta. Ketika melihat bintang, bulan, dan matahari yang tenggelam, beliau menyadari bahwa Tuhan sejati tidak mungkin hilang atau lenyap. Dari proses berpikir itulah beliau sampai pada keyakinan tentang keesaan Allah SWT.
3. Keteladanan dalam Kesabaran dan Ketaatan
Keistimewaan berikutnya adalah kesabaran Nabi Ibrahim AS. Setelah bertahun-tahun menanti keturunan, beliau akhirnya dianugerahi putra, Nabi Ismail AS. Namun setelah memperoleh anak yang sangat dicintainya, beliau kembali diuji dengan perintah untuk meninggalkan Ismail dan ibunya di tanah gersang, hingga akhirnya diuji lagi dengan perintah menyembelih putranya sendiri.
Melalui pengajian ini, warga MAN 1 Yogyakarta diajak tidak hanya memahami sejarah para nabi, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai pengorbanan, kesabaran, syukur, dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat keluarga Nabi Ibrahim diharapkan mampu menjadi inspirasi dalam membangun pribadi yang kuat dalam aqidah, mulia dalam akhlak, dan peduli terhadap sesama. (H.A)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































