Sleman (MAN 1 Yogya) – Sebanyak 273 purna murid kelas XII mengikuti prosesi Purna Dharma Pawiyatan MAN 1 Yogyakarta yang diselenggarakan di Grha Sabha Pramana pada Rabu, (13/5/2026). Momentum penuh haru dan kebanggaan tersebut semakin istimewa dengan hadirnya Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus alumni terbaik MAN 1 Yogyakarta tahun 1990, Prof. Nurhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D sebagai pembicara Dharma Puruhita.
Kepala MAN 1 Yogyakarta Edi Triyanto, S.Ag, S.Pd, M.Pd dalam sambutannya berharap lulusan MAN 1 Yogyakarta menjadi generasi yang kuat. “MAN 1 Yogyakarta ingin melahirkan generasi yang kokoh dalam moral, kuat dalam intelektual, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan kebangsaan,” ungkapnya.
Prof. Nurhaidi Hasan bukan hanya dikenal sebagai akademisi nasional, tetapi juga sosok inspiratif yang pernah menjadi Ketua OSIS MAN 1 Yogyakarta tahun 1988. Perjalanan intelektualnya menembus dunia internasional melalui pendidikan tinggi di Eropa, di antaranya meraih gelar doktor bidang Antropologi Sosial di Utrecht University, Belanda, serta menempuh studi Islam di Universiteit Leiden dan ISIM Belanda. Kehadirannya menjadi simbol nyata bahwa madrasah mampu melahirkan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global.
Dalam pidatonya, Prof. Nurhaidi Hasan menegaskan bahwa kelulusan dari jenjang madrasah bukan sekadar seremoni akademik, melainkan tahapan monumental dalam kehidupan seseorang. Menurutnya, para lulusan telah melewati proses penting pembentukan nalar, karakter, dan kepribadian sebagai bekal menghadapi masa depan.
Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan modern di Eropa melalui konsep liberal arts education menekankan tiga fondasi utama pendidikan: 1. kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, 2. kemampuan berkomunikasi, 3. pondasi moral yang kuat.
“Di dunia modern, orang tidak cukup hanya pintar secara akademik. Mereka harus mampu berpikir kritis, menyampaikan gagasan dengan baik, dan memiliki moralitas yang kokoh,” ungkapnya.

Menariknya, nilai-nilai tersebut menurut beliau sejatinya telah lama ditempa di MAN 1 Yogyakarta. Tradisi intelektual, budaya diskusi, penguatan literasi, kehidupan asrama, hingga pendidikan keagamaan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik.
“Di MAN 1 Yogyakarta, semua itu telah ditempa. Kalian sudah dibiasakan berpikir, berdialog, belajar disiplin, sekaligus menjaga nilai-nilai moral,” tegasnya di hadapan purna murid dan wali murid.
Ia juga menekankan bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Menurutnya, banyak kisah sukses lahir dari kesungguhan, kerja keras, dan keberanian bermimpi besar. Dirinya menjadi salah satu contoh bagaimana seorang siswa madrasah dapat menembus pendidikan dunia dan kembali mengabdi untuk bangsa.
Dalam analisisnya terhadap tantangan generasi masa kini, Prof. Nurhaidi Hasan menyinggung fenomena digital native yang melahirkan budaya instan, generasi rebahan, hingga istilah “generasi stroberi” generasi yang tampak menarik namun dinilai rapuh menghadapi tekanan hidup. Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan lemahnya daya tahan mental, kedalaman berpikir, dan konsistensi perjuangan. (H.A)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































