BOGOR– Sebagai seorang Pemimpin dan CEO, sudut pandang dalam melihat sebuah ayat suci tentu memiliki kedalaman yang berbeda. Hal inilah yang dirasakan ratusan mahasiswa elTAHFIDH saat menghadiri Kajian Pekanan di *Masjid Ad-Dhuha, hari ini, Sabtu, 30 Mei 2026.
Membawakan materi tadabbur QS. Ali ‘Imran ayat 129, Founder & CEO elTAHFIDH Indonesia, Dr. Abi H. Jhon Edy Rahman, SH., M.Kn., mengupas tuntas ayat tersebut bukan sekadar sebagai teks teologis, melainkan sebagai cetak biru (blueprint) kepemimpinan yang berintegritas dan visioner.
3 Pilar Kepemimpinan Berdasarkan QS. Ali ‘Imran: 129
Di hadapan para mahasiswa yang diproyeksikan sebagai calon pemimpin umat, Dr. Abi Jhon menjabarkan tiga esensi penting manajemen kepemimpinan yang terkandung dalam ayat tersebut:
1. Prinsip Stewardship (Kepemimpinan adalah Amanah, Bukan Kepemilikan)
“Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…”
Abi Jhon menekankan bahwa seorang pemimpin sejati harus sadar bahwa jabatan, otoritas, dan manusia yang dipimpinnya adalah milik Allah SWT. “Pemimpin yang sadar posisi dirinya hanya sebagai ‘pemegang amanah’ tidak akan pernah menjadi diktator atau sombong. Mereka memimpin dengan kerendahan hati (humble leadership),” tegas beliau.
2. Ketegasan, Keadilan, dan Sistem *Reward & Punishment
“…Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki…”
Dalam dunia organisasi dan kepemimpinan modern, ayat ini berbicara tentang hak prerogatif pemimpin yang berbasis pada kebijaksanaan. Seorang pemimpin harus memiliki ketegasan dalam menegakkan aturan. Ada waktu untuk memberikan pengampunan (kesempatan kedua/evaluasi) dan ada waktu untuk memberikan sanksi (punishment) demi menjaga maslahat organisasi, namun semua harus didasari oleh keadilan objektif, bukan nafsu.

3. Compassionate Leadership (Memimpin dengan Kasih Sayang)
> “…Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
> Poin penutup ini menjadi sorotan utama. Dr. Abi Jhon menjelaskan bahwa porsi ampunan dan kasih sayang Allah diletakkan di akhir sebagai penegas. Pemimpin yang sukses adalah mereka yang mengutamakan bimbingan, ruang untuk bertumbuh, dan kasih sayang (compassion) kepada bawahannya, bukan kepemimpinan yang meneror dengan ketakutan.
> Mencetak Pemimpin Masa Depan yang Berkarakter Qur’ani
Suasana Masjid Ad-Dhuha terasa begitu hidup saat sesi diskusi interaktif dimulai. Para mahasiswa elTAHFIDH ditantang untuk merefleksikan ayat ini dalam peran mereka saat ini—baik sebagai pemimpin bagi diri sendiri, organisasi kampus, maupun dalam persiapan menuju panggung kepemimpinan nasional kelak.
“Kajian hari ini membuka mata kami bahwa Al-Qur’an adalah rujukan manajemen terbaik. Di bawah bimbingan Dr. Abi Jhon kami belajar bagaimana memadukan antara ketegasan profesional dan ketulusan hati,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa setelah acara.
Harapan dan Komitmen Bersama
Melalui momentum kajian pekanan ini, elTAHFIDH Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk tidak hanya melahirkan para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga para teknokrat, birokrat, dan CEO masa depan yang berjiwa Qur’ani.
Semoga spirit tadabbur hari ini membawa keberkahan dan melahirkan generasi pemimpin yang adil, makmur, serta selalu berada dalam naungan ampunan dan kasih sayang Allah SWT.

Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































