JAKARTA, 31 Mei 2026 – Penggunaan perangkat Kecerdasan Buatan (AI) generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 2026. Menanggapi maraknya fenomena siswa yang melakukan salin-tempel (copy-paste) tugas sekolah dari AI, Co-founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), Ahmad Madani, mengimbau para pendidik vokasi untuk tidak meresponsnya dengan kepanikan atau larangan kaku, melainkan dengan mengubah parameter penilaian secara bijak.
Menurut Ahmad, upaya melarang siswa menggunakan AI di era digital saat ini adalah tindakan yang sia-sia dan justru menjauhkan siswa dari realitas industri. Mengingat industri modern justru membutuhkan talenta yang mampu memanfaatkan AI secara produktif, tantangan terbesar saat ini justru berada di sisi guru untuk memperbarui metode evaluasi pembelajaran.
“Ketika ada siswa mengumpulkan tugas yang 100% dibuat oleh AI, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan siswa. Bisa jadi, format tugas yang kita berikan memang masih bersifat teoretis, administratif, dan berbasis hafalan, yang mana sangat mudah diselesaikan oleh algoritma AI dalam hitungan detik,” ujar Ahmad Madani dalam rilis opininya.
Sebagai Sekretaris Jenderal Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), Ahmad menawarkan tiga langkah taktis bagi guru SMK untuk menilai tugas siswa secara bijak di era AI:
Pertama, Bergeser dari Menilai Hasil Akhir ke Menilai Proses. Guru tidak boleh lagi hanya menilai produk teks yang dikumpulkan, melainkan harus mulai menilai log proses pembuatan tugas, termasuk bagaimana cara siswa menyusun perintah (prompt engineering) kepada AI untuk menghasilkan solusi tersebut.
Kedua, Menerapkan Metode Uji Lisan dan Konfirmasi Konseptual. Untuk memastikan siswa benar-benar memahami apa yang mereka kumpulkan, guru perlu melakukan sesi tanya-jawab pendek atau presentasi acak di kelas. Fokus penilaian digeser pada kemampuan berpikir kritis (critical thinking) siswa dalam mempertahankan argumentasinya.
Ketiga, Mendesain Tugas Berbasis Konteks Lokal dan Studi Kasus Riil. AI sangat lemah dalam menganalisis dinamika lokal yang spesifik. Oleh karena itu, guru SMK didorong untuk memberikan tugas proyek (Project-Based Learning) yang mewajibkan siswa berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM atau industri di sekitar sekolah mereka.
“AI adalah alat bantu penambah produktivitas yang luar biasa. Tugas kita sebagai pendidik vokasi di tahun 2026 ini bukan lagi menjadi polisi plagiarisme, melainkan menjadi mentor yang mengarahkan agar kecerdasan buatan tersebut digunakan untuk mengasah kecerdasan manusiawi siswa,” tutup Ahmad Madani
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































