Antara Nyala Lilin dan Jurang Ego
Pancasila di era sekarang rasanya seperti menjaga nyala lilin di tengah badai yang menderu. Sebagai dasar negara, Pancasila bukan sekadar kesatuan kata yang dihafal untuk kepentingan ujian sekolah atau simbol yang dipajang di dinding kantor pemerintahan. Ia adalah “ruh” yang menyatukan ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam keyakinan dalam satu ikatan bernama Indonesia.
Soekarno, dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI, menegaskan bahwa nilai-nilai ini bukanlah barang impor, melainkan jati diri yang sudah ada sejak lama. Beliau menyatakan:
“Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah” (Soekarno, 1945).
Namun, tantangan yang kita hadapi saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa perjuangan fisik dahulu. Dulu musuh bangsa terlihat jelas dengan seragam militer, sekarang tantangannya bersifat halus, masuk melalui algoritma layar ponsel, hingga merasuki pola pikir bawah sadar kita.
Krisis Kepercayaan
Dari dalam negeri sendiri, musuh terbesarnya adalah pudarnya rasa percaya (social trust) antar sesama warga. Kita sering melihat bagaimana perbedaan pandangan politik justru memicu polarisasi yang tajam. Persatuan Indonesia hari ini tak lebih dari sekadar hashtag usang yang dipaksa paksa hidup, padahal realitanya mati kutu setiap kali ada pesta politik. Krisis kepercayaan ini juga dipicu oleh korupsi yang merajalela. Pejabat kita memang juara dalam memberi contoh, contoh bagaimana mengkhianati konstitusi dengan gaya elegan. Sila Kelima seolah sudah diprivatisasi hukum kini punya telinga yang hanya peka terhadap gemerincing uang, bukan jeritan rakyat.
Ujian Keadilan
Masalah kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin menciptakan kecemburuan sosial yang rawan diprovokasi. Mohammad Hatta, dalam pemikirannya mengenai kedaulatan ekonomi, pernah menekankan bahwa demokrasi tidak akan berjalan tanpa keadilan sosial. Beliau menulis:
“Ekonomi Indonesia haruslah berdasarkan atas usaha bersama dan kekeluargaan, bukan atas dasar persaingan yang mematikan” (Hatta, 1971).
Namun, realitanya, jika urusan perut belum selesai, masyarakat mudah tergiur oleh janji-janji ideologi instan yang menawarkan kesetaraan semu. Pancasila harus bisa membuktikan diri sebagai solusi nyata bagi kesejahteraan, bukan hanya retorika politik. Di sisi lain, dunia pendidikan kita menghadapi tantangan besar dalam menanamkan nilai-nilai ini kepada Generasi Z. Tanpa contoh nyata dari para pemimpin, anak muda akan mengalami krisis keteladanan karena melihat jurang lebar antara apa yang diajarkan di kelas dengan realita di lapangan.
Gempuran Asing
Beralih ke tantangan eksternal, Indonesia saat ini sedang dikepung oleh arus globalisasi yang membawa nilai-nilai asing tanpa filter. Teknologi internet membawa masuk gaya hidup liberal yang serba bebas dan individualis. Karakter gotong royong kita perlahan gugur demi memuja sikap egois yang dianggap lebih kekinian. Kita juga tampak sangat menikmati posisi sebagai pelayan kepentingan global, membiarkan prinsip keadilan sosial ditukar dengan angka-angka pasar. Sungguh ironis melihat kekayaan alam kita menjadi pesta pora pihak asing, sementara pemilik aslinya hanya bisa gigit jari di depan layar. Inilah wajah baru kolonialisme tanpa seragam militer, cukup dengan dominasi budaya dan tanda tangan di atas kertas perjanjian.
Disrupsi Digital
Kita juga patut merayakan betapa suksesnya fenomena perang informasi mengubah kita menjadi bangsa yang mudah diadu domba oleh konten pesanan. Sungguh sebuah pencapaian, di mana ideologi asing bisa melenggang kangkung lewat media sosial untuk memaksa kita membuang nilai kebersamaan demi mengejar validasi semu di dunia maya. Bahkan, budaya flexing di tengah kemiskinan menjadi tontonan komedi satir yang membuktikan bahwa ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ sudah resmi turun kasta menjadi sekadar hiasan buku PPKN. Kita tampaknya terlalu menikmati peran sebagai korban arus global yang hanyut tanpa filter, seolah-olah martabat manusia adalah harga yang pantas dibayar demi segenggam konten dan keuntungan materi.
Akhirnya, kita harus mengakui betapa ‘progresifnya’ kita saat ini, menganggap identitas lokal sebagai barang kuno yang memalukan sembari memuja budaya luar sebagai standar peradaban. Kita begitu sibuk menghafal butir-butir sila demi nilai di atas kertas, seolah Pancasila adalah mantra ajaib yang bisa bekerja tanpa perlu dipraktikkan. Padahal, jika kita terus membiarkan perekat bangsa ini mengelupas demi ego dan validasi global, jangan heran jika suatu saat kita hanya mewarisi puing-puing dari rumah besar bernama Indonesia. Jika kita tidak sanggup menjadikan Pancasila sebagai kompas nyata bukan sekadar pajangan dinding maka bersiaplah melihat nyala lilin ini padam, meninggalkan kita dalam kegelapan di tengah masa depan yang katanya ‘adil dan beradab’, namun nyatanya hanya milik mereka yang punya kuasa dan modal.
Daftar Pustaka
Hatta, M. (1971). Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun. Jakarta: Inti Idayu Press.
Soekarno. (1945). Lahirnya Pancasila: Pidato di Hadapan Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (BPUPKI). Jakarta: Departemen Penerangan RI.
Penulis Najua Wulandari
(Mahasiswa Fisika S1 Universitas Sebelas Maret Surakarta)
BIODATA PENULIS
Najua Wulandari adalah mahasiswa program studi S1 Fisika di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Selain menekuni dunia sains dan hukum-hukum alam, ia memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial-kemasyarakatan dan penguatan ideologi bangsa. Ia percaya bahwa seperti hukum fisika yang menjaga keteraturan alam semesta, Pancasila adalah “konstanta” yang harus dijaga agar bangsa Indonesia tetap berada pada orbitnya di tengah gempuran badai globalisasi. Penulis dapat disapa melalui email: najua_wulandari14589@student.uns.ac.id atau akun Instagram: @auauaai_.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer

































































