PALEMBANG – Validitas perencanaan program kesehatan masyarakat sangat bergantung pada kualitas pengolahan data sekunder yang dihimpun secara berkala. Dalam pilar surveilans epidemiologi nasional, Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) atau Early Warning Alert and Response System (EWARS) menjadi instrumen utama berbasis data sekunder laporan mingguan (Format W2) untuk mendeteksi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular di tingkat Puskesmas.
Puskesmas 23 Ilir yang terletak di wilayah urban Kecamatan Bukit Kecil Kota Palembang memiliki karakteristik wilayah padat penduduk dengan tantangan sanitasi lingkungan yang kompleks. Kondisi ini menempatkan penyakit infeksi bawaan air dan makanan seperti Diare Akut (Kode A) sebagai prioritas pengawasan utama dalam tren data sekunder tahunan.
Melalui pelaksanaan Praktik Belajar Lapangan (PBL), dilakukan evaluasi mendalam terhadap aspek kuantitatif data sekunder SKDR. Kajian ini berfokus pada pemetaan indikator kelengkapan (completeness), ketepatan waktu (timeliness), serta analisis grafik tren komparatif guna mengukur sensitivitas faskes dalam mengawal stabilitas derajat kesehatan masyarakat.
Metode Kegiatan
Kegiatan evaluasi ini menerapkan rancangan penelitian kuantitatif deskriptif yang menitikberatkan pada analisis retrospektif terhadap data sekunder surveilans terintegrasi.
Waktu dan Tempat
Proses penelusuran, rekapitulasi, dan ekstraksi data sekunder dilaksanakan dari tanggal 13 hingga 18 Oktober 2025 di unit kerja Surveilans Epidemiologi Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang.
Populasi dan Sampel
Populasi studi adalah seluruh dokumen rekapitulasi kesehatan di Puskesmas 23 Ilir. Sampel yang digunakan berupa data sekunder laporan mingguan SKDR W2 serta total angka kunjungan pasien umum dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, mulai dari Januari 2023 hingga Oktober 2025.
Pelaksanaan Evaluasi Data
Evaluasi dijalankan dengan melakukan audit silang (cross-matching) terhadap dokumen register harian pada aplikasi faskes Healthical dengan arsip digital sekunder nasional pada platform Web Auth-SKDR. Penilaian difokuskan pada persentase kelengkapan berkas serta ketepatan waktu pengiriman laporan ke Dinas Kesehatan Kota Palembang sebelum batas kedaluwarsa mingguan, yakni hari Senin pukul 12.00 WIB.
Sumber Data
• Data Sekunder: Dokumen rekapitulasi mingguan SKDR (Format W2), profil kesehatan puskesmas, dan buku register tahunan kunjungan pasien umum periode 2023–2025.
Analisis Data
Seluruh data sekunder yang terkumpul diolah secara statistik deskriptif menggunakan pendekatan time-series (runtun waktu) untuk menyajikan grafik kecenderungan penyakit serta persentase capaian kinerja pelaporan secara scannable.
Hasil Kegiatan
1. Kinerja Indikator Pelaporan Mingguan SKDR
Berdasarkan dokumen pemantauan mutu dari Dinas Kesehatan Kota Palembang, performa pelaporan data sekunder W2 dari Puskesmas 23 Ilir memperlihatkan komitmen yang sangat tinggi:
• Tahun 2023: Angka kelengkapan (completeness) dan ketepatan waktu (timeliness) mencapai nilai sempurna 100%.
• Tahun 2024: Mengalami fluktuasi minor di angka 96,2% disebabkan kendala teknis maintenance server lokal dan jaringan internet.
• Tahun 2025: Kembali mencatatkan performa optimal di angka 100% stabil hingga periode Oktober.
Secara akumulatif selama tiga tahun, rata-rata capaian mutu data sekunder SKDR berada di angka 98,6%. Hasil pencapaian ini berada jauh di atas target batas minimal indikator kinerja nasional yang ditetapkan sebesar 80%.
2. Profil Morbilitas Penyakit Prioritas SKDR
Arsip sekunder mencatat total beban kunjungan pasien umum di Puskesmas 23 Ilir mencapai 19.306 kunjungan selama periode tiga tahun. Dari total rekam data tersebut, terjaring 183 kasus kumulatif yang masuk dalam kategori penyakit potensial KLB dengan distribusi sebagai berikut:
• Diare Akut (Kode A): 173 kasus (mendominasi sebesar 94,5% dari total kasus).
• Pneumonia (Kode D): 3 kasus.
• Kasus GHPR / Suspek Rabies (Kode P): 3 kasus.
• Suspek Dengue / DBD (Kode C): 2 kasus.
• Suspek Campak (Kode K): 1 kasus.
• Suspek Pertusis (Kode M): 1 kasus.
3. Analisis Grafik Tren Kasus Diare Akut
Meskipun data sekunder menempatkan Diare Akut sebagai kasus dengan jumlah tertinggi, visualisasi runtun waktu menunjukkan tren penurunan tahunan yang signifikan:
• Tahun 2023: Tercatat sebanyak 76 kasus.
• Tahun 2024: Mengalami penurunan menjadi 65 kasus.
• Tahun 2025: Menurun drastis hingga menyisakan 32 kasus per Oktober 2025.
Melalui verifikasi matematis terhadap nilai ambang batas kewaspadaan (threshold), lonjakan kasus Diare Akut mingguan di wilayah ini tidak pernah menembus garis kritis tertinggi. Dengan demikian, status laporan sekunder berada pada tingkat Zero Alert (tidak memicu alarm bahaya KLB).
Pembahasan
Kajian terhadap data sekunder ini membuktikan bahwa pengelolaan alur informasi epidemiologi di Puskesmas 23 Ilir berjalan secara konsisten dan akurat. Nilai rata-rata pelaporan sebesar 98,6% merepresentasikan sistem pencatatan yang sehat dan tanggap, meminimalkan risiko keterlambatan deteksi dini yang umum terjadi di sektor perkotaan.
Tingginya akumulasi angka Diare Akut (173 kasus) pada lembar data sekunder merefleksikan kepadatan tata ruang pemukiman di Kecamatan Bukit Kecil. Namun, kurva kasus yang bergerak melandai dari tahun ke tahun mengonfirmasi keberhasilan program preventif kesehatan lingkungan dan pengawasan kualitas air bersih yang dijalankan oleh jajaran faskes.
Satu hal yang menjadi catatan tim penulis adalah ditemukannya celah pelaporan pada data sekunder akhir tahun 2024 terkait satu kasus suspek Pertusis. Terjadinya keterlambatan koordinasi dari faskes luar (jejaring swasta) menyebabkan data kasus baru terinput pasca-penanganan selesai, sehingga menghambat ketepatan waktu Penyelidikan Epidemiologi (PE) aktif lapangan. Hal ini menunjukkan perlunya perluasan pembinaan pelaporan data sekunder di luar internal faskes pemerintah.
Kesimpulan
Evaluasi data sekunder SKDR di Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang periode 2023–2025 menyimpulkan bahwa mutu pelaporan faskes dikategorikan sangat memuaskan dengan rata-rata keberhasilan 98,6%, melampaui target nasional. Pola sebaran penyakit infeksi dipimpin oleh Diare Akut dengan total 173 kasus dengan tren grafik yang melandai aman (Zero Alert).
Untuk menjaga keberlangsungan kualitas data di masa depan, disarankan bagi pemegang program surveilans untuk mempererat kemitraan pelaporan data dengan faskes swasta mitra, serta mengoptimalkan jalur pelaporan alternatif darurat seperti WhatsApp Gateway (Booth SKDR) apabila sistem aplikasi utama mengalami gangguan teknis jaringan internet.
Oleh: Ayu Febri Wulanda, Esti Sri Ananingsih, Raya Syakilla Elewarin, Maia Anis Salsabila, Nafa Aisyah Faathira, Nadhinda Maharani, Mahasiswa Program Studi Pengawasan Epidemiologi, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palembang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































