Ketika Teknologi Menjadi Si Mahatahu
Di era digital saat ini, masyarakat tidak bisa lepas dari teknologi terlebih dengan kemunculannya AI (Artificial Intelligence). AI dapat membantu masyarakat melakukan aktivitasnya dengan cepat, seperti membantu mencari jawaban, mencari informasi, membuat desain, mengedit foto dan video, mengerjakan tugas, dan sebagainya. AI merupakan kecerdasan buatan yang berperilaku layaknya manusia, ia mampu meniru kecerdasan manusia dalam menyelesaikan berbagai tugas atau pekerjaan bahkan mampu menggantikan manusia dalam pekerjaan tertentu (Pakpahan, 2021). AI juga digunakan di berbagai sektor kehidupan seperti di bidang pendidikan, kesehatan, hingga di bisnis dan ekonomi. Sehingga, kehadiran AI memberikan kemudahan dan efisiensi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun dibalik manfaatnya tersebut, AI juga memunculkan tantangan besar terkait dengan etika dan moral yang menarik perhatian masyarakat seperti penggunaan AI untuk deepfake sehingga dapat menghasilkan video dan berita palsu hingga penggunaan AI dalam mengerjakan karya ilmiah secara instan tanpa proses berpikir. Permasalahan ini menjadi semakin relevan dalam menghadapi tantangan modern, di mana teknologi AI semakin meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia sehingga tanpa kerangka filsafat ilmu yang kokoh, penggunaan teknologi ini berisiko menimbulkan dampak negatif, seperti dehumanisasi, penyalahgunaan data, dan ketimpangan sosial (Diana et al., 2024). Sehingga disinilah pentingnya masyarakat untuk memahami landasan aksiologi dalam logika penyelidikan ilmiah.
Ketika Pertanyaan Berubah dari “Apa yang Benar?” Menjadi “Apa yang Baik?”
Dalam filsafat ilmu ada tiga pilar utama yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi membahas mengenai hakikat kenyataan ilmu, epistemologi disebut juga teori pengetahuan membahas mengenai sumber, struktur, metode dan validitas pengetahuan, serta aksiologi yang merupakan cabang yang mempertanyakan bagaimana cara kita memakai ilmu tersebut. Aksiologi berperan sebagai pengingat jika ilmu pengetahuan seperti teknologi ini memiliki konsekuensi sosial, budaya, dan moral. Tidak hanya berfokus pada pemahaman mengenai nilai, aksiologi juga memberikan pedoman dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mendukung kebermanfaatan dan kemudahan hidup manusia. Tanpa landasan nilai-nilai aksiologi, ilmu pengetahuan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat dan keseimbangan alam (Rokhmah, 2021).
Dalam perkembangan teknologi saat ini selain memberikan manfaat tetapi di satu sisi juga dapat merugikan jika disalahgunakan seperti mengakibatkan ancaman privasi, penurunan nilai kemanusiaan, penyebaran informasi palsu, tindak kecurangan, dan sebagainya. Sehingga aksiologi berfungsi sebagai landasan nilai yang membantu menentukan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya digunakan (Nurdiansyah et al., 2026). Persoalan utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan lagi sekadar apakah suatu inovasi dapat dilakukan, melainkan apakah inovasi tersebut membawa kebaikan, keadilan, dan manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, pertanyaan yang perlu diajukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan bukan hanya “Apakah hal ini benar dan dapat dilakukan?”, melainkan juga “Apakah hal ini baik dan bermanfaat bagi manusia?”.
AI Sebagai Inovasi Sekaligus Tantangan Baru
Saat ini AI digunakan hampir di seluruh bidang kehidupan masyarakat. Dalam dunia pendidikan dapat membantu untuk mencari informasi dan memahami materi, dalam dunia kesehatan dapat membantu mendiagnosis penyakit melalui analisis data yang kompleks, bahkan dalam penelitian ilmiah mampu mengolah data dan mencari sumber literatur dengan mudah (Resnik & Hosseini, 2025). Namun, AI juga memberikan tantangan baru pada masyarakat jika tidak digunakan dengan tepat dan bijak. Masyarakat perlu untuk memahami bahwa kemajuan teknologi dan penggunaannya harus diimbangi dengan tanggung jawab moral.
Saat ini marak fenomena penggunaan AI untuk menghasilkan tugas akademik secara instan. Masyarakat cenderung menggunakan AI untuk menyelesaikan berbagai tugas tanpa melakukan verifikasi maupun memahami informasi yang diberikan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketergantungan terhadap AI sehingga pengguna menjadi kurang terlibat dalam proses berpikir, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara mandiri. Penelitian Tian dan Zhang (2025) menunjukkan bahwa ketergantungan yang lebih tinggi terhadap AI berhubungan dengan tingkat kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah.
Selain itu, marak menyebarnya informasi berupa gambar dan video palsu atau hoax yang dibuat dengan bantuan AI dikenal dengan istilah deepfake yang terlihat realistis dan tidak bisa dibedakan dari kenyataan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusuhan sosial, sumber penyebaran kebencian, dapat memungkinkan orang untuk membuat propaganda dengan memanfaatkan gambar tokoh publik, bahkan dapat menjadi bahan bagi politisi untuk menyerang politisi yang lain agar tujuan-tujuan politiknya tercapai (Khusna & Pangestuti, 2019). Sehingga penggunaan AI selain memberi manfaat tetapi juga tantangan jika tidak digunakan dengan baik, tantangan tersebut terkait dengan integritas akademik, penyebaran hoax, dan tanggung jawab atas apa yang dihasilkan melalui AI.
Lalu Bagaimana Tanggung Jawab Kita?
Perkembangan AI tidak bisa dihentikan namun masyarakat dapat belajar agar lebih bijak dalam penggunaannya sehingga tidak terjadi penyalahgunaan teknologi. Dalam perspektif aksiologi, ilmu pengetahuan tidak hanya berorientasi pada pencarian kebenaran, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial sehingga manfaat ilmu dapat dirasakan secara luas (Aulia et al., 2024). Oleh karena itu, masyarakat terlebih para generasi muda perlu membiasakan diri untuk kritis dalam menggunakan teknologi termasuk penggunaan AI. Masyarakat harus mampu memilah informasi, berpikir kritis, memeriksa validitas informasi yang didapatkan, dan memahami dampak sosial dari teknologi sehingga perkembangan teknologi dapat terasa manfaatnya.
Penggunaan AI Harus Diimbangi dengan Kebijaksanaan
Perkembangan teknologi terlebih AI berhasil menunjukkan adanya kemajuan peningkatan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Akan tetapi dibalik itu semua perkembangan teknologi bagaikan pedang bermata dua, di satu sisi dapat memberikan manfaat yaitu kemudahan dan efisien dalam kehidupan sekaligus dapat memberikan tantangan berupa penyebaran hoax, berkurangnya berpikir kritis karena marak plagiasi, dan sebagainya jika tidak bijak dalam penggunaannya. Dalam konsep aksiologi, ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan inovasi tetapi dalam praktiknya dapat memberikan manfaat pada kehidupan masyarakat. Sehingga, tanggung jawab masyarakat dalam menggunakan teknologi dan AI sangat penting untuk memastikan perkembangan teknologi tetap beretika dan memiliki nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, ilmu pengetahuan yang baik bukan hanya ilmu pengetahuan yang canggih dan berkembang pesat tetapi ilmu pengetahuan yang dapat digunakan secara bijak, beretika, dan bertanggung jawab sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Referensi
Aulia, M. H., Nisrina, P., & Parhan, M. (2024). Kontribusi aksiologi dalam filsafat dan ilmu pengetahuan terhadap solusi masalah etis di era modern. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora (KAGANGA), 7(2), 1698-1714. https://doi.org/10.31539/kaganga.v7i2.12695
Diana, N., Karneli, Y., & Solfema. (2024). Peran filsafat ilmu dalam memahami konsekuensi etika dan moral dari teknologi kecerdasan buatan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3), 50964-50967. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/24007
Khusna, I. H., & Pangestuti, S. (2019). Deepfake, tantangan baru untuk netizen. Promedia (Public Relation Dan Media Komunikasi), 5(2). https://doi.org/10.52447/promedia.v5i2.2300
Nurdiansyah, L., Febrialdo, R., Hariyadi, A., Wirawan, A., & Munir, M. M. (2026). Aksiologi dalam Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi: perspektif etika, moral, dan Islam dalam membangun peradaban humanis. Jurnal Keilmuan Dan Keislaman, 5(2), 467–487. https://doi.org/10.23917/jkk.v5i2.1024
Pakpahan, R. (2021). Analisa pengaruh implementasi artificial intelligence dalam kehidupan manusia. JISICOM : Journal of Information System, Informatics and Computing, 5(2), 506-513. https://doi.org/10.52362/jisicom.v5i2.616
Resnik, D. B., & Hosseini, M. (2025). The ethics of using artificial intelligence in scientific research: new guidance needed for a new tool. AI and Ethics, 5, 1499–1521. https://doi.org/10.1007/s43681-024-00493-8
Rokhmah, D. (2021). Ilmu dalam tinjauan filsafat: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman, 7(2), 172-186. https://ejurnal.inhafi.ac.id/index.php/cendekia/article/view/124
Tian, J., & Zhang, R. (2025). Learners’ AI dependence and critical thinking: The psychological mechanism of fatigue and the social buffering role of AI literacy. Acta Psychologica, 260. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105725
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































