Ketika kamu membuka media sosial seperti Instagram atau Tiktok, apakah kamu pernah bertanya-tanya kenapa yang muncul di beranda kita selalu terlihat ‘sempurna’ secara fisik?. Mulai dari kulit mulus tanpa jerawat, hidung mancung, wajah yang tirus, hingga badan yang ramping. Menariknya, hal-hal yang terlihat ‘sempurna’ tersebut sebenarnya tidak nyata, karena beberapa diantaranya menggunakan filter kecantikan untuk memoles penampilan mereka dan berujung pada munculnya standar kecantikan. Jadi, apakah ‘cantik’ memang memiliki standar yang pasti, atau sebenarnya standar kecantikan merupakan suatu hal yang secara tidak sadar kita bentuk?
Ketika Wajah di Dunia Maya Menjadi Lebih Nyata daripada Wajah Asli
Saat ini, teknologi seperti filter di platform Instagram dan Tiktok memang sangat ramai digunakan bagaikan makanan sehari-hari. Bahkan Artificial Intelligence (AI) juga bisa mengubah bentuk fisik sesuai dengan yang kita mau seperti di aplikasi Snow AI. Hanya dengan satu kali klik, wajah kita kita bisa berubah seperti Idol yang memiliki kulit mulus tanpa pori, wajah tirus, hingga mata yang besar.
Banyak dari kita menganggap penampilan ini sebagai standar kecantikan yang baru. Padahal tampilan visual tersebut bukanlah sesuatu yang netral. Hal tersebut malah merupakan hasil rekayasa desain digital yang yang dipengaruhi oleh budaya populer ala Idol Korea atau Hallyu. Menurut Jean Baudrillard dalam Malayati et al., (2025), fenomena ini disebut sebagai hiperrealitas, di mana wajah hasil filter dianggap lebih ideal dan lebih nyata daripada wajah kita sendiri. Dan apakah kamu tahu bahwa standar kecantikan yang selama ini kita lihat ternyata ada hubungannya dengan konstruktivisme?.
Standar Kecantikan sebagai Konstruksi Sosial
Dalam perspektif filsafat konstruktivisme, khususnya menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, kenyataan itu sebenarnya “dibuat” oleh manusia melalui interaksi sosial. Hal inilah yang disebut sebagai The Social Construction of Reality atau konstruksi sosial yang berasal dari kenyataan.
Nah, standar kecantikan tidak muncul begitu saja. Namun, standar ini menjajah pikiran kita secara bertahap, yaitu:
Eksternalisasi: Yaitu ketika manusia terus-terusan mengeluarkan ide dan menciptakan alat untuk mengubah dirinya. Sebagai contoh, kita menciptakan kamera, kosmetik, hingga filter untuk mempercatik diri.
Objektivasi: Perihal “cantik itu harus putih dan mulus” lambat laun dianggap sebagai fakta yang tidak bisa dibantah. Kita melihat standar ini dimana-mana, di iklan, video yang beredar, hingga komentar-komentar yang dilontarkan netizen. Sehingga hal “cantik= putih dan mulus” tadi terasa seperti mutlak di masyarakat.
Internalisasi: Saat kita menerima dan menganggap standar tersebut sebagai hal yang benar, kita mulai melihat diri kita sendiri dan berkata “kita sudah sesuai dengan standar itu belum ya?”. Jika wajah asli kita tidak sesuai dengan standar tersebut, kita akan berpotensi kehilangan kepercayaan diri dan berakhir dengan menggunakan filter.
Ketika Filter Membentuk Cara Kita Menilai Diri Sendiri
Penelitian pada mahasiswi pengguna Instagram yang dilakukan oleh Septian dkk. (2025) menunjukkan bahwa ditemukan korelasi sebesar 0.888 antara body image dengan harga diri. Hal ini berarti cara kita memandang tubuh kita sendiri sangat menentukan seberapa besar kita dapat menghargai diri kita sendiri. Selain itu, juga ditemukan bahwa filter Instagram dapat meningkatkan kepercayaan diri saat mereka beradaptasi dengan ekspektasi masyarakat. Namun, justru kepercayaan diri terhadap sesuatu yang bukan sebenarnya bukanlah hal yang baik, karena secara tidak langsung ia merasa tidak puas terhadap bentuk tubuh aslinya.
Tanpa sadar, kita malah sering terjebak dalam praktik self-branding. Kita berusaha memenuhi standar kecantikan di media sosial agar terlihat menarik dan layak mendapatkan validasi berupa likes dan pujian.
Banyak orang merasa wajah mereka di dunia maya merupakan identitas yang lebih baik karena mendapatkan pujian “mirip Idol Korea”. Hal ini membuat batasan antara diri yang asli dan diri yang “diedit” menjadi kabur, dan berpotensi membentuk persepsi baru mengenai seperti apa wajah yang dianggap cantik, normal, dan ideal di mata masyarakat.
Cantik Menurut Siapa?
Jika standar kecantikan seperti Idol Korea merupakan hasil dari konstruktivisme atau berasal dari masyarakat, maka kabar baiknya adalah kita juga bisa mengubah dan mendobrak standar kecantikan tersebut!
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa wajah yang terkena filter Tiktok atau Instagram bukanlah sebuah standar yang harus dimiliki setiap individu agar mendapatkan pujian. Dengan memahami bahwa kecantikan hanyalah sebuah argumen yang bersifat relatif, kita bisa mulai menghargai keunikan atau value dari diri kita. Bagaimanapun juga, yang paling benar adalah saat kita bisa menerima diri sendiri apa adanya tanpa harus selalu bersembunyi di balik filter yang tidak nyata.
Penulis: Salsabila Khumaira (Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































