Tidak banyak orang yang tahu bahwa di balik wajah tenang Muhammad Rafif Budiyono, ada satu ketakutan yang hampir selalu menemaninya selama masa persiapan SNBT. Ketakutan itu bukan tentang sulitnya soal ujian. Bukan pula tentang persaingan yang semakin ketat. Yang paling ia khawatirkan justru sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: bagaimana jika ia tidak lolos dan harus membebani orang tuanya dengan biaya jalur mandiri? Pikiran itu tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada banyak orang.
Di sekolah, Rafif tetap terlihat seperti murid pada umumnya. Ia belajar bersama teman-temannya, mengikuti les, berdiskusi soal tryout, bahkan masih menyempatkan diri membaca buku, mendengarkan musik, berolahraga, dan mengikuti berbagai seminar untuk menambah wawasan.
Namun jauh sebelum teman-temannya sibuk membahas SNBT, murid kelas XII D MAN 1 Yogyakarta itu ternyata sudah memulai persiapannya sendiri. Diam-diam. Sejak sebelum memasuki kelas XII, Rafif telah belajar secara mandiri melalui YouTube dan berbagai platform pembelajaran gratis. Tidak ada sorotan. Tidak ada yang mengetahui seberapa banyak waktu yang telah ia habiskan untuk mempersiapkan diri. Semua dilakukan perlahan.
Mungkin karena itulah, ketika hasil SNBP tidak berpihak kepadanya, Rafif tidak benar-benar terjatuh. Tetap kecewa, tentu saja.
Saat itu ia memilih Teknik Industri UGM sebagai pilihan pertama dan Teknik Industri UPN sebagai pilihan kedua. Ketika namanya tidak muncul dalam daftar murid yang diterima, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Tetapi justru dari titik itulah sesuatu berubah.
Kegagalan tersebut memaksanya melihat perjuangan dengan cara yang berbeda. Ia mulai belajar lebih serius. Lebih disiplin. Lebih terarah. Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain, melainkan karena ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang masih tersisa.
Meski demikian, perjalanan menuju SNBT tetap tidak mudah. Ada masa ketika Rafif mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Terutama saat hasil tryout tidak sesuai harapan. Ketika melihat skor yang diperoleh belum seperti yang diinginkan, muncul pertanyaan yang diam-diam sering menghantui banyak pejuang SNBT “Apakah saya benar-benar mampu?”
Namun setiap kali keraguan itu datang, Rafif memilih mengubahnya menjadi bahan bakar. Ia percaya bahwa kegagalan dan hasil yang kurang memuaskan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan petunjuk tentang apa yang masih perlu diperbaiki.
Ada banyak hari ketika ia merasa lelah secara fisik maupun mental. Waktu bermain dan berkumpul dengan teman-teman perlahan berkurang. Ia mulai lebih disiplin mengatur waktu dan memprioritaskan hal-hal yang mendukung tujuan besarnya.
Tetapi di tengah semua tekanan itu, ada satu kalimat yang terus ia pegang. “Usaha tidak akan pernah menghianati hasil.” Kalimat sederhana itu menjadi pengingat ketika semangat mulai turun.
Dan ketika dirinya sendiri mulai ragu, justru kedua orang tuanyalah yang tetap percaya. Bagi Rafif, itulah bentuk dukungan yang paling menyentuh. Mereka tidak hanya memberikan fasilitas belajar atau doa-doa yang tak pernah putus. Mereka tetap percaya bahkan ketika Rafif sedang kesulitan mempercayai dirinya sendiri. Kepercayaan seperti itulah yang membuatnya terus melangkah.

Orang tua dan teman-teman terdekat menjadi dua sumber kekuatan terbesar yang menopang perjalanannya. Ketika hasil belum sesuai harapan, ketika rasa lelah mulai menumpuk, mereka tetap hadir memberi semangat dan mengingatkan bahwa perjuangan ini belum selesai.
Ketika akhirnya pengumuman SNBT tiba dan namanya dinyatakan diterima di Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro (UNDIP), ada rasa lega yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Bukan semata karena berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Tetapi karena perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum kelas XII itu akhirnya menemukan jawabannya.
Rafif memilih Teknik Industri karena melihat sesuatu yang sering luput dipahami banyak orang. Baginya, Teknik Industri bukan sekadar tentang pabrik. Ia adalah ilmu tentang bagaimana menciptakan sistem yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih bermanfaat bagi banyak orang. Sebuah bidang yang memadukan teknik, manajemen, dan analisis data dalam satu kesatuan.
Hal itulah yang membuatnya jatuh hati pada Teknik Industri. Ia tertarik pada cara sebuah sistem dirancang, diperbaiki, dan dioptimalkan agar dapat bekerja lebih efektif. Menurutnya, kemampuan memecahkan masalah secara sistematis akan menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Kelak di UNDIP, Rafif tidak hanya ingin mempelajari teori di ruang kuliah. Ia ingin memperluas relasi, aktif dalam organisasi dan kepanitiaan, mengembangkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta mengeksplorasi berbagai pengalaman baru yang belum sempat ia lakukan selama di madrasah.
Rafif berpesan kepada adik-adik kelas yang saat ini sedang mengejar kampus impian, Rafif memberikan pesan yang sederhana tetapi sangat jujur. Mulailah lebih awal. “Curi start” belajar sejak sekarang agar tidak kewalahan ketika berbagai ujian datang bersamaan. Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan jalan perjuangannya masing-masing.
Menurut Rafif, yang terpenting bukanlah siapa yang bergerak paling cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan dan tetap konsisten ketika proses mulai terasa berat. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Sebab sering kali kegagalan justru menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan menemukan cara yang lebih baik untuk mencapai tujuan.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































