MEDAN – Perkembangan emosional anak di era modern memerlukan perhatian yang lebih serius dari lingkungan sekitar. Di usia Sekolah Dasar, anak-anak sering kali dihadapkan pada berbagai situasi yang memicu emosi kuat seperti marah, sedih, kecewa, hingga ketakutan. Namun, tidak sedikit dari mereka yang belum memahami cara mengekspresikan atau mengelola emosi tersebut dengan tepat. Kegagalan dalam meregulasi emosi sejak dini berisiko memicu perilaku negatif, mulai dari meluapkan amarah secara fisik, menarik diri dari lingkungan, hingga tindakan perundungan (bullying) antar teman sejawat. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya psikoedukasi yang mampu membantu siswa mengenali emosi mereka secara sehat dan menyikapinya dengan cara yang positif tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Merespons hal tersebut, Rafiqah Meidina Syakira (NIM 240902030), seorang mahasiswa semester empat Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), mengambil langkah nyata. Di bawah arahan dosen mata kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat / Community Organization and Community Development (COCD), Bapak Dr. Agus Suriadi S.Sos., M.Si., ia melaksanakan kegiatan pemberdayaan dan edukasi masyarakat di Sekolah Dasar Swasta IKAL MEDAN yang beralamat di Jl. Jongkong No. 23B, Helvetia Timur, Kota Medan. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2026 ini bertujuan untuk memberikan psikoedukasi mengenai regulasi emosi kepada siswa kelas 3 Sekolah Dasar.
Kegiatan edukasi ini dikemas secara dinamis melalui pemaparan materi interaktif, diskusi kelas, dan pemanfaatan media digital. Tahap pertama diawali dengan sesi psikoedukasi menggunakan media visual “My Emotion Wheel” (Roda Perasaan). Dengan mengadopsi pendekatan dari karakter populer film Inside Out, siswa dibimbing untuk membedakan antara emosi yang bersifat nyaman (seperti Joy) dan emosi yang kurang nyaman (seperti Sadness, Anger, Fear, dan Disgust). Penyampaian materi berlangsung secara dua arah dengan memancing respon langsung serta ekspresi wajah dari para siswa di bangku masing-masing.

Setelah sesi materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan implementasi permainan edukatif “Kotak Ekspresi Digital” yang ditampilkan langsung pada layar proyektor kelas. Mekanisme permainan berfokus pada simulasi sosial, di mana Rafiqah membacakan 15 skenario situasi sehari-hari yang relevan dengan kehidupan anak-anak, kemudian perwakilan siswa saling berkompetisi maju ke depan untuk mengidentifikasi gambar kotak emosi yang tepat pada layar. Melalui metode ini, siswa dilatih secara aktif untuk mengenali emosi mereka secara objektif dan mempraktikkannya di depan kelas secara percaya diri. Sebagai penutupan, ia juga mengintroduksi “Teknik Kontrol Diri 4-4-4” sebagai solusi taktis bagi siswa untuk mereduksi tekanan emosional melalui relaksasi pernapasan terhitung.
Kegiatan edukasi regulasi emosi ini berjalan dengan sangat kondusif dan mendapat respons yang luar biasa positif dari seluruh siswa kelas 3. Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menyerap informasi baru serta sangat aktif berebut untuk maju ke depan kelas menepuk kotak digital. Di sesi akhir, siswa juga diberikan lembar aktivitas mewarnai My Emotion Wheel secara mandiri untuk menuangkan kreativitas mereka sekaligus menuliskan momen-momen emosional yang pernah mereka alami.

Secara keseluruhan, metode psikoedukasi yang dipadukan dengan permainan digital dan media visual ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga sikap saat emosi negatif menyerang. Siswa tidak hanya menerima teori secara pasif, melainkan terlibat langsung secara fisik dan kognitif, yang mana metode ini sangat sesuai dengan tahap perkembangan anak usia Sekolah Dasar.
Berdasarkan program yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa edukasi regulasi emosi melalui program “My Emotion Wheel” mampu memberikan bekal kecerdasan emosional yang baik bagi siswa kelas 3 SD Swasta IKAL MEDAN. Dengan mengenali warna-warni emosinya sendiri, diharapkan para siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak, empati terhadap perasaan teman, serta mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan bebas dari tindakan bullying.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































