PONOROGO – Sastra merupakan hasil dari daya cipta, fantasi, dan perasaan manusia yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial. Banyak karya sastra berperan sebagai gambaran dari keadaan sosial yang terjadi di sekeliling kita. Dalam hal ini, sastra tidak hanya berfungsi sebagai sumber hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk merenung dan mengkritik kondisi manusia serta lingkungan di sekitarnya. Dengan bahasa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan, karya sastra menjadi wadah untuk mengungkapkan pengalaman, nilai, dan pergolakan emosional manusia.
Salah satu karya yang mencerminkan hal itu adalah novel Seratus Tahun Kebisuan karya Wawan Kurniawan. Novel ini diterbitkan oleh DIVAPRESS Tahun 2025 dengan tebal 173 halaman, selain itu novel ini juga telah meraih Predikat Novel pilihan dalam Unnes International Novel Writing 2017. Novel ini menyajikan pemikiran yang mendalam tentang keheningan, perasaan terasing, dan usaha individu dalam menemukan identitas di tengah waktu dan ruang yang tampak terlupakan. Dengan menggunakan bahasa yang puitis dan kaya simbol, Wawan melukiskan kisah seorang tokoh yang terjebak dalam kebisuan selama seratus tahun, baik secara fisik maupun dalam aspek emosional dan spiritual.
Dalam buku ini, kebisuan lebih dari sekadar istilah yang tertulis di sampul. Ia menjadi inti dari seluruh narasi. Kebisuan di sini tidak berarti bahwa individu tidak bisa berbicara secara fisik, tetapi lebih kepada berbagai tekanan sosial yang mendorong orang untuk tetap hening: hening karena rasa ketakutan, hening karena tidak ada yang bersedia mendengarkan, hening karena sistem tidak memberi kesempatan. Tokoh utama terlihat sebagai individu yang membawa beban luka dan rahasia selama bertahun-tahun, bukan karena ia kekurangan suara, tetapi karena lingkungan di sekitarnya tidak menyediakan tempat untuk suara tersebut.
Novel ini berbeda dengan novel yang lain, karena mengankat akar budaya kuat yang mengangkat dunia Bissu dalam latar belakang suku Bugis yang selama ini jarang dijamah di zaman sastra modern. Melalui latar budaya tersebut, Wawan menjelaskan bagaimana identitas dan spiritualitas seseorang dapat terperangkap dalam sistem sosial yang bersifat mengekang. Kebisuan tokoh utama dalam novel ini bukan sebagai tanda kelemahan, namun bentuk perlawanan paling dalam. Diamnya tokoh utama disini ternyata memiliki lebih banyak makna, daripada seribu kata yang diucapkan.
Pada akhirnya, Seratus Tahun Kebisuan bukan sekadar karya sastra mengenai kesunyian. Ia merupakan ajakan untuk menyimak bukan dengan pendengaran, melainkan dengan perasaan. Wawan seakan menyampaikan kepada kita ‘di balik setiap keheningan yang kita temui, ada kisah yang menanti untuk diungkap’. Kisah tentang penderitaan, perjuangan, dan manusia yang terus berusaha menemukan makna hidupnya di tengah dunia yang sering kali lebih memilih keramaian daripada kedalaman. Dalam kesunyian itu, justru terdapat kekuatan paling tulus dari kemanusiaan kita.
Oleh: Yuyun Sa’adah
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































