MALANG – Universitas-universitas dari Indonesia dan Malaysia secara konsisten menempati posisi teratas dalam pemeringkatan kampus berkelanjutan di Asia Tenggara. Dominasi tersebut didukung oleh investasi pada infrastruktur hijau, integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan akademik, serta komitmen institusional yang dibangun dalam jangka panjang.
Nama Universitas Indonesia (UI) sudah lama dikenal sebagai pelopor UI GreenMetric, sistem pemeringkatan kampus berkelanjutan yang digunakan oleh perguruan tinggi di berbagai negara. Selain UI, kampus-kampus seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Asia Pacific University (APU), Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), dan sejumlah universitas lainnya secara konsisten menempati posisi teratas di kawasan Asia Tenggara.
Namun, capaian tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih mendalam. Sejauh mana keberhasilan dalam pemeringkatan benar-benar mencerminkan budaya keberlanjutan yang hidup di lingkungan kampus? Temuan dari sejumlah mahasiswa menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan bus listrik, panel surya, atau ruang terbuka hijau, tetapi juga oleh tingkat partisipasi dan kesadaran sivitas akademika dalam menjalankan praktik ramah lingkungan sehari-hari.
Dari sisi infrastruktur, Indonesia dan Malaysia memiliki berbagai fasilitas yang mendukung konsep Green Campus. Di UI, lebih dari separuh wilayah kampus masih berupa kawasan hijau. Dua stasiun KRL terhubung langsung dengan kampus, sementara layanan Bis Kuning dan penyediaan titik isi ulang air minum membantu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta sampah plastik sekali pakai.
IPB mengembangkan konsep kampus berkelanjutan melalui tujuh kriteria Green Campus internal yang mencakup pengelolaan limbah, energi terbarukan, konservasi lingkungan, hingga pengembangan biodiversitas. Kampus ini memiliki fasilitas pengelolaan sampah terpadu, panel surya, pembangkit listrik tenaga air, dan pengembangan energi berbasis biomassa.
UGM juga mengembangkan berbagai inisiatif keberlanjutan, seperti sistem daur ulang air yang dikenal sebagai Toyagama, layanan bus kampus Trans Jogja Gama, serta program peminjaman sepeda gratis yang didukung fasilitas perawatan dan bengkel khusus.
Di Malaysia, APU memiliki area hijau yang terintegrasi dengan lingkungan kampus. UTeM menjalankan program kitar semula atau daur ulang serta menyediakan layanan transportasi kampus. Sementara itu, Xiamen University Malaysia menunjukkan pendekatan yang berbeda. Dengan desain kampus yang terintegrasi dengan kawasan hunian mahasiswa, sebagian besar mobilitas sehari-hari dilakukan dengan berjalan kaki.
“Even though they have their own car, mereka parkir di satu tempat. Tapi untuk mobilitas ke kampus atau ke kantin, lebih sering jalan kaki,” ujar Felicia, mahasiswa tahun kedua Xiamen University Malaysia.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur hijau, tetapi juga berupaya membangun budaya keberlanjutan melalui pendidikan, kegiatan kemahasiswaan, dan perubahan perilaku sehari-hari.
Di BINUS University, prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) diperkenalkan sejak awal perkuliahan. Tugas, proyek, seminar, dan lokakarya banyak dikaitkan dengan isu pembangunan berkelanjutan. Kampus juga menyediakan mesin pengumpulan botol plastik, area penghijauan di berbagai lantai gedung, serta program penanaman pohon yang dilakukan secara berkala.
Di UGM, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu sarana untuk mengintegrasikan agenda SDGs ke dalam aktivitas mahasiswa. Sementara itu, IPB mengembangkan konsep Green Movement atau Green Culture yang bertujuan membangun pola pikir ramah lingkungan di kalangan sivitas akademika.
“Untuk mengubah pola pikir seseorang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar agar itu menjadi kebiasaan yang mendukung keberlanjutan,” ujar Ridha Nurkhasanah, mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB.
Di UTeM Malaysia, program pengurangan plastik sekali pakai dan kegiatan daur ulang menjadi salah satu bentuk implementasi keberlanjutan yang melibatkan berbagai pihak di lingkungan kampus.
Meski berbagai inisiatif telah dijalankan, sejumlah temuan lapangan menunjukkan bahwa implementasi Green Campus masih menghadapi tantangan.
Di BINUS, sebagian mahasiswa mengikuti kegiatan lingkungan karena berkaitan dengan poin Student Activity Transcript (SAT) yang menjadi salah satu syarat kelulusan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keberlanjutan belum sepenuhnya terinternalisasi sebagai budaya kampus yang tumbuh secara organik.
Di APU, seorang alumni menilai keterlibatan mahasiswa dalam program lingkungan masih terbatas. Menurutnya, berbagai inisiatif lebih banyak digerakkan oleh kebijakan institusi dibandingkan partisipasi aktif mahasiswa.
Temuan serupa muncul di USM Health Campus Malaysia. Salah seorang mahasiswa mengaku baru mengetahui keberadaan pemeringkatan Green Campus ketika diwawancarai. Program yang paling dirasakan secara langsung adalah kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di area kampus.
Di UGM, Rizky, salah satu mahasiswa yang diwawancarai, menilai fasilitas hijau telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari mahasiswa. Namun, ia melihat partisipasi aktif mahasiswa dalam mendorong agenda keberlanjutan masih belum terlalu menonjol.
“Naik bus sudah menjadi kebiasaan. Itu baik karena secara tidak langsung membentuk perilaku. Tetapi untuk keterlibatan aktif mahasiswa dalam mendorong agenda keberlanjutan, saya belum terlalu merasakannya,” ujarnya.
Bahkan di UI, tantangan praktis tetap muncul. Saat musim hujan, genangan dan kondisi jalan yang kurang nyaman mendorong sebagian mahasiswa beralih menggunakan kendaraan pribadi atau layanan transportasi daring, sehingga mengurangi efektivitas kebijakan transportasi ramah lingkungan yang telah disediakan kampus.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan Green Campus tidak hanya terletak pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada kemampuan kampus membangun partisipasi dan kebiasaan berkelanjutan di kalangan sivitas akademika.
UI GreenMetric sendiri menilai universitas berdasarkan enam kategori utama, yaitu infrastruktur, energi dan perubahan iklim, air, limbah, transportasi, serta pendidikan dan riset. Seluruh kategori tersebut dapat diukur secara kuantitatif. Namun, tingkat internalisasi nilai keberlanjutan dalam perilaku sehari-hari mahasiswa dan warga kampus masih menjadi aspek yang lebih sulit diukur.
Sher, mahasiswa USM Health Campus Malaysia, menilai bahwa tantangan utama bukan lagi membangun kesadaran, melainkan mendorong tindakan nyata.
“The students are aware, but they don’t always have the urge to act upon it,” ujarnya.
Meski masih terdapat kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan, dominasi Indonesia dan Malaysia dalam pemeringkatan Green Campus tidak muncul secara kebetulan. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kombinasi investasi infrastruktur jangka panjang, pengelolaan lingkungan yang terukur, integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan akademik, serta dukungan kelembagaan yang konsisten.
Namun, capaian dalam pemeringkatan sebaiknya dipandang sebagai indikator kemajuan, bukan tujuan akhir dari upaya keberlanjutan kampus. Infrastruktur hijau dapat dibangun melalui kebijakan dan investasi, tetapi budaya keberlanjutan memerlukan proses yang jauh lebih panjang karena berkaitan dengan perubahan perilaku dan pola pikir.
Temuan dari berbagai kampus menunjukkan bahwa tantangan terbesar Green Campus bukan lagi sekadar menyediakan fasilitas ramah lingkungan, melainkan memastikan bahwa fasilitas tersebut digunakan secara sadar dan berkelanjutan oleh seluruh warga kampus.
“Kalau memang ada program sustainability itu, dan itu bagus untuk lingkungan, dan juga bagus untuk saya, then I’m willing to join that movement,” kata Felicia.
Pada akhirnya, keberhasilan Green Campus tidak hanya ditentukan oleh luas ruang terbuka hijau, jumlah armada bus listrik, atau tingginya skor dalam sistem pemeringkatan. Keberhasilan tersebut juga tercermin dari sejauh mana nilai-nilai keberlanjutan mampu menjadi bagian dari budaya kampus dan mempengaruhi keputusan sehari-hari mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan.
Oleh:
Kelompok 7
1. Tia Nur Halisa A.
2. Faye Takeisha
3. Atha Aqila
4. Kharisma Nafa O. W. P.
5. Faraditha Berliana F.
Project Akhir Mata Kuliah Jurnalistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Program Studi Sastra Inggris, Angkatan 2023
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































